Analisis ragam pengelolaan hutan rakyat di Kabupaten Semarang :: Studi kasus Hutan Rakyat di desa Kedungringin dan desa Gunung Tumpeng Kecamatan Suruh
INDRATANTI, Sukma, Prof.Dr.Ir. H. Hasanu Simon
2007 | Tesis | S2 Ilmu KehutananSalah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di kabupaten Semarang adalah dengan mengembangkan pembangunan hutan rakyat. Namun demikian sampai saat ini belum diteliti mengenai keunggulan hutan rakyat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) faktor-faktor yang mempengaruhi ragam pengelolaan hutan rakyat, (2) faktor-faktor yang mempengaruhi produksi hutan rakyat, dan (3) corak management regime. Penelitian ini dilaksanakan pada dua desa yang pengelolaan lahan hutan rakyatnya berbeda yaitu Desa Kedungringin dengan sistem monokultur dan di Desa Gunung Tumpeng dengan sistem polikultur. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan secara purpossive sampling dengan mengambil 30 responden pada setiap desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor- faktor yang mempengaruhi ragam pengelolaan hutan rakyat yaitu pola pengelolaan hutan rakyat yaitu pola monokultur dan pola polikultur, proses kegiatan pengelolaan pada umumnya dilakukan secara individu. Faktor yang mempengaruhi produksi kayu rakyat yaitu tingkat kesejahteraan responden, kebutuhan masyarakat akan kayu dan tingkat partisipasi petani. Corak management regime pada lokasi penelitian tergantung keadaan fisik tanah, topografi, curah hujan. Perlu ditambahkan bahwa hutan rakyat di desa Kedungringin dan Gunung Tumpeng semua merupakan kawasan interfaces area.
One of efforts to meet people needs in Semarang district is by establishing community forest development. However, until now, there is no research on advantages of community forest. Therefore, this research aimed to study (1) factors that influence community forest management method, (2) factors that influence community forest production, and (3) management regime design. This research has been conducted in two villages with different forest managements, i.e. monoculture and poly-culture of Kedungringin and Gunung Tumpeng villages, respectively. The research used descriptive qualitative and quantitative methods. Sample consisted of 30 respondents in each village, which was taken by using purposive sampling method. Result indicated that factors that influence community forest management methods were community forest planting management system (monoculture and poly-culture), and management activity process that was conducted individually. Further more, factors that influence production of community timber were respondent prosperity level, people’s need for wood, and peasant’s participation level. Management regime design in research sites depended on physical condition of soil, topography and rain fall. Beside that, community forest in Kedungringin and Gunung Tumpeng villages is an interfaces area adjacent to people settlement.
Kata Kunci : Hutan Rakyat,Sistem Pengelolaan,management methods, community forest, Semarang regency