Laporkan Masalah

Pertambahan Miopia pada anak Sekolah Dasar perkotaan dan pedesaan di Yogyakarta

TIHARYO, Imam, Prof.dr. Wasisdi Gunawan, Sp.M(K)

2007 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran Klinik (Ilmu Penyakit Mata)

Latar belakang: Miopia, terutama pada anak-anak akan berefek pada karir, sosial ekonomi, pendidikan bahkan juga pada tingkat kecerdasan. Seiring dengan perjalanan penyakit ini, semakin bertambah miopia pada anak juga akan meningkatkan berbagai risiko komplikasi kebutaan, seperti glukoma dan Ablasi retina. Usia sekolah dasar adalah usia yang penting dalam perkembangan miopia, dimana pada usia ini banyak dijumpai kasus miop yang baru. Karena itu deteksi dini pada usia sekolah sangat penting dalam penanganan masalah ini. Tetapi pada kenyataannya miopia banyak di derita oleh anak-anak di daerah perkotaan di bandingkan dengan anak di daerah pedesaan. Salah satu faktor yang berpengaruh dalam perkembangan miopia adalah aktivitas melihat dekat atau nearwork. Yogyakarta adalah kota pelajar dan kota pendidikan, tentunya aktivitas melihat dekat atau nearwork akan sangat berpengaruh terhadap gambaran kota ini. Adanya kemajuan teknologi dan telekomunikasi, seperti televisi, komputer, video game dan lain-lain, secara langsung maupun tidak langsung akan meningkatkan aktivitas melihat dekat, terutama pada anak-anak di daerah perkotaan, hal tersebut sangat kontras dengan anak-anak di pedesaan. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui perbedaan pertambahan miopia pada anak sekolah daerah perkotaan dan pedesaan di Yogyakarta Cara penelitian: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian Kohort prospektif, dengan subyek yang diteliti adalah siswa sekolah dasar perkotaan dan pedesaan di Yogyakarta yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pemeriksaan status refraksi dilakukan dalam selang waktu 6 bulan. Untuk data yang berhubungan dengan riwayat miopia pada orang tua, sosial ekonomi dan aktivitas dekat dilakukan dengan cara pengisian kuesioner oleh orang tua subyek penelitian. Hasil penelitian: terdapat 127 anak sekolah dasar yang ikut dalam peneltian ini. Enampuluh tiga orang dari kelompok sekolah dasar perkotaan dan 64 orang anak dari kelompok sekolah daerah pedesaan. Setelah 6 bulan 24 anak (38,1%) dari kelompok perkotaan, dan 8 anak (12,5%) dari kelompok pedesaan mengalami pertambahan miopia. Hal tersebut bermakna secara statistik p=0,02 dan RR 3,04 (95% CI : 1,48-6,27). Rerata pertambahan miopia pada kelompok perkotaan sebesar -0,83D (± 0,24D) dan –0,61 (± 0,18D) pada kelompok pedesaan. Ada perbedaan yang signifikan antara aktivitas melihat dekat pada anak daerah perkotaan dan pedesaan dengan p=< 0,001. Untuk faktor risiko jenis kelamin, riwayat miopia pada orang tua tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik terhadap pertambahan miopia, sedangkan untuk faktor risiko usia, dan sosial ekonomi bermakna secara statistik terhadap pertambahan miopia. Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna dalam hal proporsi dan rerata pertambahan miopia pada anak-anak sekolah dasar perkotaan dan pedesaan di Yogyakarta. Perbedaan ini di sebabkan adanya perbedaan aktivitas melihat dekat antara anak sekolah dasar perkotaan dan pedesaan.

Background: Myopia especially on child effect their carriers, social economy, education and also their intelectual. The increase of myopia on kids rises lots of complication such as blindness due to glaucoma and retinal ablation. Elementary schoolchildren are the primary age grup in development of myopia adn most number of cases fond in this age. So it’s very important for early detection and prevention among this age. It’s stated that most number of myopia fond in major cities than in the rural areas. The caused of this is due to close reading or nearwork activities. Yogyakarta is one of the major cities in Indonesia well known for education. Many students occupying this cities. The growth of telecomunication such as television, computer and video game is gradually increasing and somehow rather inccesse the usage of near vision compared to students in the rural area. Aim of research: the difference myop progression among elementary schoolchildren from the urban and rural area in Yogyakarta. Methode: Elementary schoolchildren aged 6 to 12 years were recruited to participate in a concurrent cohort study for the progression of myopia used subjective refraction. Myopia status of parents, socioeconomic status and nearwork activity were documented in a parent interview. Results: One hundred and twenty seven elementary schoolchildren took in this research. Sixty two children from urban area and 63 children came from rural area. After 6 months 32 children have myop progression consist 24 (35,1%) children from urban area and 8 (12,5%) children from rural area. This is statistic significant as p=0,02 and RR (Relative Risk) is 3.04 ( 95% CI=1,48-6.27). The average of myop progression was - 0,83 (± 0,24) dioptri in children who lived in urban area and – 0,61 (± 0,18) dioptri in rural area. There have statistic significant difference in nearwork activities betwen children in urban and rural area, with p=<0,001. Risk factor such as gender, myop status of parents did not related with myop progression, only age and socioeconomic have significant effect into the myop progression. Conclusion: there is a significant difference increasing of myop progression betwen elementary schoolchildren in the urban and rural areas. This difference may related with the difference of nearwork activities betwen children in urban and rural area. Keyword: Myopia in children, urban, rural, myop progression.

Kata Kunci : Etiologi Miopia,Pedesaan dan Perkotaan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.