Evaluasi penggunaan antiobiotik pada pasien Pneumonia rawat inap di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Januari 2004-November 2006
SUBHAN, Ahmad, Prof.Dr. Lukman Hakim, M.Sc.,Apt
2007 | Tesis | S2 Ilmu Farmasi (Magister Farmasi Klinik)Telah dilakukan penelitian terhadap penggunaan antibiotik pada pasien pneumonia rawat inap di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Diketahui kebanyakan pengobatan pneumonia dilakukan dengan pendekatan secara empiris yaitu dengan menggunakan antibiotik yang memiliki spektrum luas dengan tujuan agar antibiotik yang dipilih dapat melawan beberapa kemungkinan patogen penyebab infeksi. Padahal tanpa disadari penggunaan antibiotik spektrum luas secara tidak terkendali sangat memungkinkan timbulnya masalah yang tidak diinginkan seperti timbulnya efek samping obat maupun potensi terjadinya resistensi. Tujuan penelitian: untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien pneumonia rawat inap di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta periode Januari 2004 – November 2006 guna mengetahui kesesuaian pemilihan atibiotik, kesesuaian dosis serta lama pemberian baik antibiotik yang diberikan dalam bentuk tunggal, kombinasi maupun antibiotik pengganti berdasarkan pedoman standar pengobatan pneumonia, serta untuk menilai keberhasilan terapi antibiotik yang diberikan dengan menilai perkembangan respon klinis pasien berdasarkan parameter obyektif dan subyektif. Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan penelusuran data bersumber dari catatan rekam medik pasien. Analisa data menggunakan statistika frekwensi. Hasil penelitian: Selama periode data penelitian diketahui kejadian pneumonia sebanyak 62 kasus, sebanyak 49 pasien (79%) kategori inklusi, sebanyak 13 pasien (21%) kategori ekslusi. Metode pengobatan antibiotik diketahui 83,7% (41 pasien) dalam bentuk tunggal, 16,3% (8 pasien) dalam bentuk kombinasi. Antibiotika yang digunakan dalam pengobatan adalah Golongan sefalosporin I, II dan III: sefadroksil, sefprozil, seftriakson, sefiksim, seftazidim; Golongan kuinolon: levofloksasin, ofloksasin, siprofloksasin, pefloksasin, gatifloksasin; Golongan penicillin: ampisilin+sulbaktam, amoksisilin+asam klavulanat ; Golongan makrolida: azitromisin; Golongan linkosamid: klindamisin. Berdasarkan penilain terapi diketahui: sebanyak 83,7% (41 pasien) mendapatkan antibiotik sesuai dengan standar pedoman terapi pneumonia penelitian, sebanyak 16,3% (8 pasien) mendapatkan antibiotik tidak sesuai dengan standar pedoman terapi pneumonia penelitian. Keberhasilan terapi diketahui: sebanyak 57,1% (28 pasien) saat Keluar Rumah Sakit (KRS) dinyatakan sembuh dengan perbaikan parameter klinis, sebanyak 40,8% (20 pasien) dinyatakan belum sembuh dan sebanyak 2% (1 pasien) dinyatakan meninggal dunia. Lama waktu perawatan diketahui sebanyak 44,9% pasien dirawat < dari 1 minggu, sebanyak 20,4% pasien dirawat Selama 1 minggu, sebanyak 20,4% pasien dirawat < dari 2 minggu, sebanyak 10,2% pasien dirawat selama 2 minggu, sebanyak 1% pasien dirawat selama < dari 3 minggu dan sebanyak 1% pasien dirawat selama 3 minggu.
Background: A study has been carried out on the use of antibiotics among inpatients at pneumonia Panti Rapih Hospital of Yogyakarta. It is found out that most of pneumonia medications is given with an empirical approach, i.e. using antibiotics which have wide spectrum in order that the antibiotics used can fight against some possible infection causing pathogens. Meanwhile use of wide spectrum antibiotics may uncontrollably cause unexpected problems such as drug side effects and resistance. Objective: The study aimed to evaluate use of antibiotics among to inpatients pneumonia at Panti Rapih Hospital of Yogyakarta January 2004 – November 2006 find out the proper choice of antibiotics, dosage, and length of antibiotic use for either single, combined or artificial antibiotics based on standard of pneumonia medication and to assess the success of antibiotic therapy given by observing the development of patient's clinical response based on objective and subjective parameters. Method: This was a retrospective study which used medical records of patients. Data analysis used frequency statistics. Result and Conclusion: There were as many as 62 cases of pneumonia; 49 patients (79%) belonged to inclusion category and 13 patients (21%) belonged to exclusion category. As many as 41 patients (83.7%) got single antibiotics, 8 patients (16.3%) got combined antibiotics. Antibiotics used for medication which belonged to sefalosporin type I, II and III were sefadroxil, sefprozil, seftriaxon, sefiksim, seftazidim; quinolon type were levofloxacyn, ofloxacyn, siprofloksasin, pefloxacyn, gatifloxacyn; penicillin type was ampicillin+sulbaktam, amoxicillin+clavulanat acid; macrolida type were azitromicyn; lyncosamyd type were clyndamicyn. The result of therapy evaluation showed that 41 patients (83.7%) got antibiotics relevant with standard of pneumonia therapy procedure, 8 patients (16.3%) got antibiotics not relevant with standard of pneumonia therapy procedure. The result of evaluation on success of therapy showed that 28 patients (57.1%) were healed with clinical parameter improvement and 20 patients (40.8%) were not yet healed and 1 patient (2%) died. The result of length of stay evaluation showed that 44.9% of patients were hospitalized less than 1 week; 20.4% were hospitalized for 1 week; 20.4% were hospitalized less than 2 weeks; 10.2% were hospitalized for 2 weeks; 1% for less than 3 weeks and 1% for 3 weeks.
Kata Kunci : Pneumonia, Evaluasi antibiotik, pengobatan pneumonia, pneumonia, evaluation of antibiotics, pneumonia medication