Perubahan spasial dan tendensi perkembangan fisik Kota Pekanbaru tahun 1990-2006
SAPUTRA, Erlis, Prof.Dr. Hadi Sabari Yunus, MA.,Drs
2007 | Tesis | S2 GeografiPenelitian ini dilakukan di Kota Pekanbaru Provinsi Riau. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengkaji proses perubahan spasial; menganalisis tendensi perkembangan fisik; mengkaji faktor dominan penyebab perubahan spasial; serta mengevaluasi dampak perubahan spasial Kota Pekanbaru. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan keruangan (spatial approach), dengan menggunakan empat tema analisis, yaitu spatial pattern (pola keruangan), spatial structure (struktur keruangan), spatial process (proses keruangan), dan spatial tendency (tendensi keruangan). Penelitian ini dilakukan dengan tiga tahap, yaitu kegiatan studio, kegiatan lapangan, dan pengolahan dan analisis data. Keterkaitan antar objek diketahui dengan metode penelitian survei. Metode yang digunakan adalah metode sampling yang diambil secara purposif. Untuk sampel institusi, setiap kelurahan masing-masing diambil satu sampel institusi negeri dan satu sampel institusi swasta. Untuk sampel pengembang (developers), diambil masing-masing dua untuk tiap kecamatan. Analisis data dilakukan dengan cara kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) luas tutupan dan penggunaan lahan dari tahun 1990 hingga tahun 2006 mengalami perubahan seluas 26.310,95 hektar. Luas tutupan lahan yang mengalami perubahan adalah seluas 17.910,61 hektar, sedangkan luas penggunaan lahan yang mengalami perubahan adalah seluas 8.400,34 hektar; (2) perkembangan fisik yang terjadi dari tahun 1990 hingga 2006 adalah seluas 7.614,56 hektar. Kota Pekanbaru pada tahun 1990 berbentuk kompak di bagian pusat kota serta memanjang ke arah utara dan selatan, sedangkan pada tahun 2006 dari bentuk kompak di pusat kota berkembang ke seluruh arah pinggiran kota. Perubahan yang paling menonjol adalah ke arah barat dan barat daya Kota Pekanbaru; (3) faktor yang paling berpengaruh terhadap perubahan spasial Kota Pekanbaru dari tahun 1990 hingga 2006 adalah faktor ketersediaan fasilitas umum; dan (4) Dampak yang ditimbulkan akibat perubahan spasial Kota pekanbaru dari tahun 1990 hingga 2006 adalah terjadinya penurunan luas lahan pertanian seluas 3.059,3 hektar; penurunan jumlah produksi pertanian sebanyak 208,96 ton; penurunan penghasilan penduduk sektor pertanian (rata-rata tiap petani dapat membeli emas seberat 184,0 gram dari seluruh penghasilan bersih pada tahun 1990, sedangkan pada tahun 2006 hanya seberat 58,7 gram); peningkatan penghasilan penduduk dari sektor non pertanian (rata-rata tiap penduduk dapat membeli emas seberat 194,24 gram dari seluruh penghasilan bersih pada tahun 1990, sedangkan pada tahun 2006 meningkat menjadi 196,98 gram); dan struktur mata pencaharian sebanyak 60,9 persen penduduk mengalami peningkatan, terutama pada sektor perdagangan dan jasa.
The research was carried out in Pekanbaru City, Riau Province, aiming at studying the process of spatial change, analyzing the trend of physical development, studying the dominant factors that may contribute towards spatial change, and evaluating the results of spatial change in Pekanbaru City. With this end in view, the research adopted a spatial approach using four themes of analysis, i.e. spatial pattern, spatial structure, spatial process, and spatial tendency. The research was done in three stages, i.e. studio activity, field activity, and data processing and analysis. Survey research method was used to study the interrelationship between the objects. A purposive-sampling method was adopted to collect data. For each village, one governmental institution and one private institution were taken for institution samples. For each sub-district, two developers were taken for developer samples. In order to analyze the data collected, both qualitative and quantitative methods were used. Research results show that: (1) during 1990-2006 period, there was a decrease of 26,310.95 ha in land cover (vegetation) and land use, comprising a decrease of 17,910.61 ha in land cover (vegetation) and a decrease of 8,400.34 ha in land use; (2) during 1990-2006 period, physical development of Pekanbaru City resulted in an increase of 7,614.56 ha in the city’swidth. In 1990 the town center of Pekanbaru City was compact and the city was stretched from north to south; in 2006 the city extended towards suburban areas. The most significant change would be the development of Pekanbaru City towards the western and south-western areas; (3) during 1990-2006 period, the availability of public facilities was the major cause for spatial change in Pekanbaru City; (4) spatial change that took place in Pekanbaru City during 1990-2006 period resulted in a decrease of 3,059.3 ha in cultivated area’s width, a decrease of 5,252.16 tons in agricultural production, a decrease in farmer’s income (in 1990, farmer’s net income was equal to 184.0grams of gold, whereas in 2006, it was equal only to 58.7 grams of gold), an increase in income of nonagricultural sector (in 1990, net income was equal to 194.24 grams of gold, whereas in 2006, it was equal to 196.98 grams of gold), and an increase in the occupation structure of 60.9% of the population, particularly in trade and services.
Kata Kunci : Pola Keruangan,Perkembangan Fisik Kota,Perubahan Spasial, spatial change, physical development trend, spatial pattern, spatial structure, spatial process, spatial tendency