Njeron Beteng Konstruksi citra kawasan warisan budaya
SEKTIADI, Prof.Dr. Sumijati Atmosudiro
2007 | Tesis | S2 AntropologiKajian ini membahas tentang bagaimana identitas dipertahankan, diperbarui, atau ditafsir ulang, serta bagaimana identitas tersebut dikelola di kawasan lama yang pasti mempersinggungkan dua hal: modern dan tradisi. Secara sempit, tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana makna diciptakan pada suatu kawasan kota, dalam arti bagaimana konteks dari upayaupaya masyarakat untuk membentuk wajah sebuah kawasan lama secara fisik. Lebih lanjut, penelitian berupaya melihat bagaimana transformasi masyarakat dari tradisional ke modern berlangsung. Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian dilakukan di kawasan Njeron Beteng, Kecamatan Kraton, Yogyakarta. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini lebih berparadigma interpretif yang berguna untuk memahami fenomena sosial dalam masyarakat. Perlakuan terhadap fisik kawasan Njeron Beteng (meruntuhkan, mengkonservasi, merenovasi, serta membangun baru) merupakan upaya masyarakat dalam menafsirkan lingkungannya. Tafsir tersebut didukung oleh motivasi di baliknya, antara lain adalah motivasi ekonomi (melalui pariwisata) dan motivasi sosial (dalam kaitan dengan emansipasi kelas). Dalam tafsir baru ini, nilai-nilai lama (tradisi) dibenturkan dengan nilai baru (modernitas). Dengan keragaman penduduk dan kecenderungan budaya untuk lepas dari ikatan tradisi ke arah modernitas, atau dari ikatan etis menjadi estetis, maka kawasan Njeron Beteng pun bergerak ke arah modernitas dan estetis. Ikatan antara penduduk dengan kraton nyaris hilang menyebabkan perkembangan fisik kawasan tidak lagi semata-mata berorientasi kepada kraton sebagai pusat kebudayaan seperti di masa lalu.
This is a study on how to conserve, renew or reinterpret identity and how to manage identity in a historic district where modernity meets tradition. The aim of the study is to illustrate how meaning is created in an area of city i.e. what is context behind the effort of the society to shape the landscape. Moreover, the study is aimed to know how transformation of the society moved from traditional to modern. The study was conduct in Njeron Beteng (citadel), district of Kraton, Yogyakarta. Data is collected through several methods, i.e. participation observation, in-depth interview, and documentation. With qualitative approach, this study became more interpretive in order to understand cultural phenomena in the society. Landscape formation (i.e. demolition, conservation, renovation and newly construction) are some parts of community interpretation to their environment. The interpretation was based on some motivation, i.e. economic through tourism and social in context of class emancipation. In the new interpretation, the older values are contrasted with new one (modernity). Based on plurality of the inhabitants and trend of culture to liberate from tradition to be modern, or from ethic to esthetic, so that the Njeron Beteng area also move toward the modernity and esthetic. The loosen connection between inhabitants and the palace has made the physical development of the area change from only palace-oriented as cultural center as in the past to various factors.
Kata Kunci : Identitas Kawasan,Njeron Beteng,Konservasi,Njeron Beteng, Yogyakarta, conservation, interpretation, architecture, landscape