Merdeka dalam pasungan :: Studi mengenai eksistensi anak dalam kultur "Sekolah Pengungsi" di SDN Keun, Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa tenggara Timur
PUJIRIYANI, Dwi Wulan, Dra. Tuty Gandarsih, MS
2007 | Tesis | S2 AntropologiPenelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan eksistensi anak di tengah berbagai bentuk intervensi dan perlakuan yang secara spesifik diberikan sekolah. Dalam situasi pengungsian, sekolah diyakini sebagai zona yang aman bagi ‘anak-anak pengungsi’ yang dikategorikan sebagai anak-anak rawan (CNSP). Situasi pengungsian yang jamak dengan berbagai bentuk kekerasan dianggap dapat mengancam keberadaan anak-anak. Dalam konteks kerentanan inilah, pendidikan atau persekolahan, dipercaya dapat menjadi solusi untuk memberikan perlindungan fisik, sosial, dan kognitif bagi anak untuk memulihkan dirinya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode etnografi. Pengumpulan data dilakukan melalui riset lapangan selama tiga bulan. Observasi partisipasi dan indepth interview merupakan dua teknik utama yang dipakai. Informan utama yang diambil dalam penelitian ini adalah para pengajar dan murid-murid dari kelompok pengungsi. Karena penelitian ini juga melibatkan anak-anak, maka untuk meminimalisir kesenjangan antara peneliti (orang dewasa) dengan anak-anak, observasi partisipasi dengan anak-anak, dilakukan dengan terlibat pada kegiatan keseharian mereka. Tehnik in-depth untuk mendatangkan informasi dari anak–anak, dilakukan dengan memberi kesempatan pada mereka untuk menggambar, menulis cerita, membuat puisi, membuat dokumentasi (foto-foto), serta merekam lagu-lagu yang mereka nyanyikan sendiri untuk kemudian didiskusikan bersama. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa budaya pengungsian yang lekat dengan persoalan kemiskinan, kekerasan, dan keterabaian membuat anak-anak menjadi semakin rentan. Pahitnya hidup di pengungsian, menjadi bagian dari WNI keturunan Tim Tim dengan berbagai macam citra buruknya, serta peran-peran dan tanggung jawab sebagai penopang keluarga merupakan beban yang harus dipikul seorang anak sejak dini. Kerasnya hidup di pengungsian menuntut mereka untuk selalu selalu berpikir tentang “Makan apa kita besok pagi?†atau “bagaimana kita bisa bertahan sampai esok?â€.Tekanan-tekanan yang dihadapi anak dalam statusnya sebagai pengungsi, memaksa anak untuk mengambil alih pola tersebut dan mempraktekkannya dalam bentuk-bentuk kekerasan pada teman sebayanya. Berkaitan dengan upaya menjawab persoalan-persoalan yang muncul di sekolah, ada beragam treatment yang diberikan sekolah kepada anak. Sekolah mengenalkan dua varian treatment melalui guru-guru Timor dan LSM sebagai dua agen sosialisasi yang utama. Kedua agen ini memiliki perspektif yang berbeda dalam mendefinisikan ‘kepentingan terbaik untuk anak’. Kepatuhan’ adalah nilai yang dijunjung tinggi oleh guru-guru Timor dan dipercaya dapat membawa anak-anak menuju masa depan yang lebih baik. Sementara itu LSM mendefinisikan bahwa kepentingan yang terbaik untuk anak-anak harus dibangun dengan memberikan jaminan kehidupan yang baik untuk mereka, yang dihadirkan dengan kampanye hak anak, pengenalan Kurikulum MIRBEC, serta pembelajaran yang berpusat pada anak (Child Centered Learning). Sekolah pada kenyataannya memang mampu memberikan warna berbeda pada keseharian anak-anak. Melalui sekolah inilah muncul generasi-generasi pelopor, generasi-generasi anak-anak pengungsi yang sudah mulai menginklusikan kebudayaan lokal, generasi yang fasih berbahasa Indonesia dan generasi yang memecah kekakuan hubungan antara kelompok pengungsi dengan kelompok ‘tuan tanah’ (warga lokal). Eksistensi anak terlihat dari daya hidup dan kegembiraan yang mereka munculkan. Meskipun demikian, eksistensi ini seolah hanya menjadi sesuatu yang ‘semu’. Eksistensi dalam bentuk kemerdekaan yang diperoleh anak-anak, ternyata kembali mendapat gugatan dari orang-orang dewasa yang merasa bahwa otoritas mereka terhadap anak-anak mereka mulai terancam. Anak-anak seolah mengalami ‘pemasungan’ sistematik dari berbagai pihak yang mendefinisikan kepentingan terbaik untuk mereka.
The aim of this research is to tell about the existence of children in the middle of many kind of interventions and treatments that specifically done by school. In an asylum situation, school is believed to be a safe zone for ‘refugee children’ who are categorized as vulnerable children (Children in a need of special protection). The asylum that often colored by many kind of violence considered to be a threat for children. In this vulnerability context, education or schooling is trusted to be a solution that gives physical, social, and cognitive protection for children to revive themselves. Empirical data for this research are being collected during three months of social anthropological fieldwork, employing an ethnographic methodology approach. The methods of participation-observation and in-depth interviews are two main techniques that used in this research. The main informant in this research are teachers and pupils from the refugee group. Because this research also involving children, thus in order to reduce the gap between researcher (adult) and the children, participation-observation is done by getting involve on their daily live. In-depth technique which used to get information from children by giving them chances to draw, write stories, making poems, and making pictures, and also recording songs that they sing by themselves and then discuss it together with them. The result of this research shows that displacement culture which is closed with problems like poverty, violence, and ignorance has made children become more vulnerable. The bitter life in an asylum become part of the ex-Timor Indonesian along with their entire negative stereotype. Role as family backbone with all the responsibility is a burden for children on their young age. The hard live in a resettlement demand children to always think about “what do we eat for tomorrow?†or “how can we survive until tomorrow?†Pressures that faced by children in their status as refugee, force them to take those pattern and translate it as means of violence to their friends. Connected to the answer of problems that appear from school, there are many kinds of treatment that given by school to the children. School introducing two variant of treatments trough Timor teachers and NGO as two main socialization agents. These agents are having different perspectives on defining what “the best is for childrenâ€. Obedient is the value that gets a high price for Timor teachers and believed to be thing that can bring children to a better future. In other part, the NGO define what is the best for children must be build by giving a good live guarantee for them, which presented by children’s right campaign, introducing MIRBEC curriculum, and also education that centered on children (Children Centered Learning). School in reality is indeed giving a different color on children’s daily life. Trough school, appears a pioneer generation, child generations that integrate with local culture, generation who speak fluent Bahasa Indonesia and generation who breaks the ice of relationship between the refugee and ‘the land-lord’ (local people). The existence of children can be seen from their spirit and happiness that they show, although it seems to be apparent. Existence in the form of freedom that they get, in fact claimed by the adult who feels that their authority is in danger. Children seems to get a systematic ‘prisoner’s stock’ from many sides that define what is important for them.
Kata Kunci : Anak dan Realitas Konflik,Pengungsian