Kajian gulma dan hasil padi pada berbagai lebar bedengan dan jeluk muka air genangan dalam parit
HARPASTI, Mohamad Ikrar, Prof.Dr.Ir. A.T. Soejono
2007 | Tesis | S2 AgronomiPengairan padi sawah membutuhkan banyak air untuk pertumbuhan padi. Genangan dalam parit merupakan metode pengairan efisien untuk daerah dengan pengairan terbatas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lebar bedengan dan jeluk muka air genangan dalam parit terhadap komposisi jenis gulma, biomassanya dan hasil padi. Penelitian dilaksanakan di Godean, Kabupaten Sleman Yogyakarta. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni sampai November 2006. Penelitian dilakukan dengan percobaan lapangan menggunakan rancangan faktorial 4 x 4 + 4 perlakuan tambahan yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL). Faktor pertama adalah lebar bedengan, terdiri dari 4 aras yaitu: lebar 1, 2, 4, dan 6 m. Faktor kedua adalah jeluk muka air di dalam parit terdiri atas 4 aras yaitu: jeluk muka air 5, 10, 20, dan 30 cm. Perlakuan tambahan merupakan kontrol yang biasa dilakukan petani, yaitu sistem padi sawah dan padi gogo dengan dan tanpa pengendalian gulma. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada interaksi antara lebar bedengan dengan jeluk muka air genangan dalam parit terhadap semua variabel yang diamati. Genangan dalam parit menyebabkan komposisi gulma berubah. Meskipun demikian, gulma daun lebar dan semusim menjadi gulma dominan, baik pada genangan dalam parit maupun pada sawah. Hasil padi per rumpun genangan dalam parit lebih tinggi daripada hasil padi per rumpun sistem sawah dan gogo. Keberadaan gulma menyebabkan penurunan hasil padi per rumpun sebesar 6,3 % pada sistem sawah dan 9,8 % pada sistem gogo.
Wetland paddy requires much water for its growth. Saturated soil culture is an efficient irrigation system that useful in the water limited area. The aim of this research was to study the effect of saturated soil culture to yield and weed composition in paddy field. The research was conducted in Godean Sleman, Yogyakarta from Mei 2006 to October 2006. The experiment was arranged in a Randomized Complete Block Design (RCBD) with factorial treatment 4 x 4 which wide of beds as first factor and depth of water surfaces as second factor. Traditional cultivation with and without manual weeding were used as a control. The result showed that there were no interaction between wide of beds and depth of water surfaces on saturated soil culture in all variables. Saturated soil culture changed weed composition. Nevertheless, broadleaf and annual weeds were still the dominant weeds, both in saturated soil culture and wetland paddy. Therefore, weed management methods in wetland paddy could be applied in saturated soil culture. Paddy yield per hill on saturated soil culture were significantly higher than upland paddy but not significantly higher than wetland paddy. Yield per hill decreased 6,3 % in wetland paddy and 9,8 % in upland paddy by weedy condition.
Kata Kunci : Tanaman Padi,Gulma,Genangan Dalam Parit, weed, paddy, saturated soil culture