Paparan dosis radiasi di titik kritis Palatum pada Brachytherapy Karsinoma Nasofaring dengan applikator Rotterdam
PRASODJO, Djati, Prof.Dr.dr. S. Maesadjie Tj., Sp.Rad(K)Onk
2007 | Tesis | PPDS I RadiologiLatar belakang : Radiotherapy yang merupakan modalitas utama pada terapi NPC memberikan komplikasi terjadinya fistula palatum, akibat lebih dekatnya sumber radiasi ke palatum daripada ke nasofaring, sehingga palatum menerima dosis radiasi lebih tinggi daripada nasofaring sendiri. Dosis radiasi yang melebihi toleransi jaringan normal akan menyebabkan kematian sel dan akhirnya nekrosis. Levendag et al menciptakan aplikator khusus untuk brachytherapy NPC yang dirancang untuk menjauhkan sumber radiasi dari palatum. Tujuan : Untuk mengetahui apakah dosis radiotherapy yang diberikan pada protokol terapi radiasi karsinoma nasofaring menyebabkan terjadinya fistula palatum. Metodologi penelitian : Dalam periode januari 2006-Januari 2007, 93 penderita NPC di RS Sardjito yang diambil secara consecutive sampling dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dibagi dalam dua kelompok. Kelompok penderita NPC yang hanya menjalani radiasi eksternal dan kelompok penderita NPC yang menjalani radiasi ekserna ditambah booster brachytherapy. Kemudian dilakukan pengamatan dalam periode 2 minggu setelah penderita selesai menjalani radiotherapy untuk terjadinya fistula palatum. Hasil : Dari 93 subyek penelitian didapatkan bahwa penderita laki-laki lebih banyak daripada perempuan. insidensi tertinggi pada kelompok umur 45 tahun. Sedangkan insidensi terendah terdapat pada umur 75 tahun. Jumlah dosis paparan radiasi di titik palatum kanan pada brachytherapy berkisar antara 59,54cGy – 377cGy, dengan mean 243,21cGy dan median 264,28cGy. Sedangkan dosis paparan di palatum kiri berkisar antara 122,67cgy, dengan mean 259,75cgy dan median 264,25cgy. Kejadian fistula palatum tidak didapatkan pada kedua kelompok yang diteliti. Kesimpulan : Tidak didapatkan komplikasi fistula palatum pada kedua kelompok subyek penelitian, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa protokol terapi yang diterapkan di RSUP Dr. Sardjito untuk pelaksanaan brachytherapy karsinoma nasofaring menggunakan aplikator Rotterdam aman terhadap paparan dosis yang berlebihan di palatum.
Background : Radiotherapy, first modality for NPC therapy give palatum fistule as complication. Its because of the radioactive source is closer to palatum than to nasopharynx. Radiation dose higher than normal tissue tolerance will make cell death and necrosis at the end. Levendag et al create a brachytherapy NPC special applicator designed to distances radiation source from palatum. Purpose : to evaluate whether radiation dose given on nasopharynx carcinoma radiation therapy protocol cause palatum fistula Material and method : During januari 2006-januari 2007 periode, 93 NPC patient on Sardjito Hospital taken for study subyek by sampling consecutive technique and fulfill the inclusion and exclusion criteria divide on two group, NPC patient underwent external radiotherapy and brachytherapy and NPC patient underwent eksternal radiotherapy only. They then being examined for 2 weeks for palatum fistula development. Result : From 93 people study subject, NPC male patient are more then female. Highest incidence were 45 group age, and lowest incidensce on 75 group age. Radiation exposure dose value on right palatum point ranging from 59,54cGy- 377cGy, mean 243,21 cGy and median 264,28cGy. While left palatum receive from 122,67cGy, mean 259,75cGy and median 264,25cGy. No palatum fistula has found. Conclusión : No palatum fistula complication on all group study subject, so the conclution of the study is the radiotherapy protocol applied on Sardjito hospital for nasopharynx carcinoma treatment using brachytherapy with Rotterdam applicator save from excessive dose exposure on palatum
Kata Kunci : Brachytherapy, karsinoma nasofaring, aplikator rotterdam, nasoparynx carcinoma, Rotterdam applicator