Fenomena spasial pembakaran lahan :: Studi kasus di Desa Lingga dan Desa Rasau Jaya II Kabupaten Pontianak Propinsi Kalimantan Barat
ANDRIANTO, Triadi, Ir. Sudaryono, M.Eng.,Ph.D
2007 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan DaerahKabut asap merupakan hal yang rutin terjadi di Kalimantan Barat terutama pada musim kemarau, sebagai akibat dari kegiatan pembakaran lahan untuk pertanian dan kebakaran kawasan hutan. Berdasarkan pantauan terhadap titik api, menunjukkan adanya suatu keteraturan yang terjadi secara sengaja atau pun alami, serta rentang waktu terjadinya titik api ini dalam bulan-bulan tertentu. Berpijak pada kenyataan tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena spasial pembakaran lahan pada titik-titik api dari aspek sosial, ekonomi dan budaya yang melatarbelakanginya. Data yang dikumpulkan menggunakan teknik deskriptif-eksploratif. Data utama dalam penelitian ini adalah hasil wawancara dengan individuindividu yang mengetahui atau pelaku pembakaran lahan. Data deskriptif tersebut beserta hasil dokumentasi foto, peta, dan rekaman data masa sebelumnya serta dokumen lain yang mendukung dianalisis. Penelitian ini merumuskan 3 (tiga) konsep dari fenomena spasial pembakaran lahan yaitu : (1) membakar merupakan tradisi masyarakat lokal, (2) membakar didasarkan atas teknologi dan ekologi ladang dan (3) membakar lahan karena alasan pragmatis. Ketiga konsep tersebut merupakan kristalisasi dari tema-tema dan unit informasi yang berasal dari wawancara dengan masyarakat lokal dan pendatang yang melakukan pembakaran lahan. Masyarakat suku Dayak Kanayant sebagai penduduk asli, memiliki pemahaman bahwa berhuma atau berladang identik dengan melakukan pembakaran untuk menyiapkan lahan guna menanam padi. Mereka tidak mengutamakan hasilnya, tetapi lebih kepada meneruskan tradisi dari adat yang ada secara turun temurun dengan teknik berladang sesuai kearifannya dalam berinteraksi dengan lingkungan. Fenomena ini ditiru oleh masyarakat pendatang yang telah turun temurun tinggal di lingkungan yang sama, yaitu suku Madura. Sedangkan masyarakat petani transmigran asal Jawa yang membentuk kelompok lingkungan tersendiri meniru fenomena kultural ini sebatas pada penggunaan sistem bakar untuk kegiatan pertanian di lahan yang serupa yaitu lahan gambut. Penggunaan cara bakar tanpa didasari pemahaman pengendalian api dan ekologi lahannya, seringkali berakibat meluasnya api dan terjadi kabut asap yang berkepanjangan.
Haze fog is common phenomenon found in West Kalimantan especially during dry season. It is the result of land burning and forest fire. From the existing hotspots, it indicates that land burning practice is done orderly either on purpose or naturally. The time range of the hotspots also tends to happen in specific months. This research aims at describing the spatial phenomenon on the hot spots from social, economic and cultural point of views. Descriptive-explorative technique was applied in this research. Interviews werw the key method in this research. The descriptive data contains photographic documentation, maps, previous records and other supporting documents were also documented. Together, they provide data and information to understand the phenomenon. There are three concept of land burning can be drawn from this research namely : (1) land burning is the local community custom, (2) burning to be based of farm ecology and technology and (3) burning farm because pragmatic reason. These three concepts are derived from the themes and information units based on interviews. The respondents are the local community and migrants. The tribe of Dayak Kanayant believes that “berhuma†or “berladang†is the local-traditional practice of land burning before seeding the rice. The output is not a priority but the effort to preserve the heritage; tradition of farming technique or wisdom. This is their way to interact with nature. The long settled migrants, such as Madura tribe, imitate the phenomenon. The Javanese peasants living in their own exclusive compound practice the phenomenon only on cultivating marsh land. Without the wisdom of fire control and land ecology, the practice frequently results in uncontrolled fire spreading and produces long lasting haze fog.
Kata Kunci : Fenomena Spasial,Pembakaran Hutan,Ekologi,Spatial phenomenon, combustion, local tradition, ecology, pragmatic