Manajemen bencana dalam penanganan korban gempa dan tsunami di Kabupaten Aceh Barat
MULYAGUS, Dr. Erwan Agus Purwanto
2007 | Tesis | Magister Administrasi PublikBencana gempa dan tsunami yang terjadi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 26 Desember 2004, telah menelan korban jiwa hampir seratus ribu lebih. Kurang mampunya Pemerintah Kabupaten Aceh Barat dan Satlak PBP Meulaboh di dalam upaya meminimalkan dampak dari bencana merupakan gambaran nyata yang terjadi. Buruknya manajemen bencana di Kabupaten Aceh Barat dalam upaya menangani korban telah mengakibatkan penderitaan yang luar biasa bagi korban dan pengungsi. Korban dan pengungsi yang seharusnya mendapatkan segala hak seperti tempat penampungan, layanan kesehatan dan bantuan pada masa keadaan darurat, kenyataannya tidak semua mendapatkan pertolongan dan bantuan tersebut. Berangkat dari permasalah tersebut, maka dilakukanlah suatu penelitian dengan tujuan untuk mengetahui kendala-kendala dilapangan dalam upaya penanganan korban bencana di Kabupaten Aceh Barat. Dalam tesis ini digunakan beberapa konsep, manajemen bencana yang didefinisikan sebagai keseluruhan kegiatan meliputi aspek kepemimpinan, koordinasi, perencanaan dan pengawasan, maka aspek-aspek tersebut dijadikan konsep didalam penelitian. Konsep kepemimpinan merupakan kemampuan seseorang di dalam menjalankan organisasi dan mampu memanfaatkan segala potensi yang ada. Konsep koordinasi sebagai proses membangunkan mekanisme di dalam menyelaraskan suatu kegiatan dan tindakan. Konsep perencanaan adalah upaya untuk menentukan arah tujuan yang diinginkan dan diperlukan dalam kegiatan-kegiatan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Konsep pengawasan adalah kegiatan untuk mengetahui atau mengamati apakah pelaksanaan tugas atau pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan rencana. Peneliti juga mengunakan konsep pendukung yaitu Konsep komunikasi yang didefinisikan suatu kegiatan penyampaian dan penyebaran informasi. Konsep partisipasi masyarakat merupakan keterlibatan masyarakat atau peran serta dalam suatu kegiatan. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan format deskriptif, sedangkan teknik analisa data yang digunakan adalah teknik analisis komponensial yang pada akhirnya dapat menjawab permasalahan yang ada. Berdasarkan data yang didapatkan, manajemen bencana didalam penanganan korban bencana di Kabupaten Aceh Barat belum berjalan maksimal, ini diakibakan Pertama, kendali kegiatan penanganan korban bencana ada dibawah komando militer; Kedua, koordinasi yang kaku telah menjadi kegiatan berjalan satu arah; Ketiga, perencanaan tidak semua dapat berjalan sesuai akibat situasi dan kondisi; Keempat, pengawasan dalam kegiatan-kegiatan seperti pengelolaan bantuan sama sekali tidak ada. Selain itu kendala komunikasi menjadi faktor penghambat di dalam penanganan korban secara cepat dan ditambah dengan kendala kurangnya partisipasi masyarakat dalam upaya membantu penanganan korban bencana di Meulaboh. Rekomendasi peneliti kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Barat dan Satlak PBP adalah Petama, perlu mempersiapkan sejak dini para anggota yang memiliki kemampuan SAR dan masyarakat yang mempunyai potensi SAR; Kedua, Satlak PBP didalam penanganan korban bencana harus lebih menekankan aspek profesional baik sisi kepemimpinan, koordinasi, perencanaan dan pengawasan sehingga upaya-upaya penanganan korban dapat berjalan dengan baik.
Earthquake and tsunami disaster in Nanggroe Aceh Darussalam Province at 26 December 2004 have caused death of almost a hundred thousand people. Incapability of Government of Aceh Barat regency and Satlak PBP Meulaboh in minimizing impact of the disaster was real feature. The bad disaster management in Aceh Barat regency in dealing with victims have resulted in great suffer to victims and refugees. Victims and refugees should have got all their rights such as shelter, health service and aid in emergency period, but in reality helps and aids did not reach all of them. Based on the problem, a research was done to identify obstacles in field in handling victim of disaster in Aceh Barat regency. This thesis used some concepts. Disaster management was defined as all activities including aspects of leadership, coordination, planning and monitoring. These aspects were included as concepts in this research. Leadership was defined as one’s capability in running organization and in using all available potentials. Coordination was defined as process of building mechanism in harmonizing activity and actions. Planning meant effort to determine desired direction that is required in short and long term activities. Monitoring was activity to identify whether job done according to plan. Researcher also used supporting concepts such as communication, which is defined as activity of delivering and disseminating information. People participation is defined as public participation in an activity. It used qualitative method with descriptive format. Data was analyzed using componential analysis technique to address the problem. Based on data obtained, disaster management in handling disaster victim in Aceh Barat regency has not run maximally. It was due to some factors. First, control of activity to deal with disaster victims was under military command. Second, rigid coordination have made one-way activity. Third, planning cannot run wholly due to situation and condition. Fourth, there was no monitoring in aid management. Additionally, communication obstacle was barrier in handling victim immediately and there was less people participation in handling disaster victim in Meulaboh. Researcher’s recommendation to Government of Aceh Barat Regency and Satlak PBP is first, SAR personnel and people have potential capability in SAR should be prepared well; second, Satlak PBP Meulaboh should be more professional in handling disaster victims in aspects of leadership, coordination, planning, and monitoring so efforts of handling victims in future can run better.
Kata Kunci : Manajemen Bencana,Korban Gempa dan Tsunami