Pengaruh penanaman kakao terhadap karakteristik hidrograf banjir di Sub DAS Gobeh dan DAS Keduang Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Wonogiri Propinsi Jawa Tengah
PRAYOTO, Prof.Dr.Ir. Sri Harto Br., Dip.H
2007 | Tesis | S2 Teknik Sipil (Magister Pengelolaan Bencana AlamBerdasarkan peta penggunaan lahan tahun 2006, Sub DAS Gobeh terdiri dari 32 Ha sawah, 84 Ha tegalan dan 45 Ha pemukiman sehingga tidak memenuhi kondisi minimal 30% luas total DAS berupa hutan sesuai peraturan Undang- Undang Kehutanan Nomor 41 tahun 1999. Bertitik tolak dari pemikiran bahwa fungsi hutan sebagai penjaga keseimbangan tata air bisa digantikan oleh lahan perkebunan, maka dilakukan penelitian untuk mengkaji pengaruh penanaman perkebunan Kakao pada lahan tegalan terhadap karakteristik hidrograf banjir. Simulasi hidrograf banjir dilakukan menggunakan paket program perangkat lunak HEC-HMS dengan masukan hujan kala ulang 10, 25 dan 50 tahun dengan kondisi parameter DAS terkait periode penanaman Kakao, yaitu sebelum penanaman (1988), Kakao umur 5 tahun (1994) dan setelah penanaman (1995). Dalam aspek pengelolaan DAS dilakukan 4 skenario untuk lahan tegalan yaitu, pertama tidak melakukan perubahan lahan, kedua 57 Ha dari 84 Ha luas keseluruhan dibuah menjadi hutan, ketiga seluruh lahan diubah menjadi perkebunan Kakao, dan keempat seluruh lahan diubah menjadi hutan. Dengan membandingkan kondisi eksisting tahun 1988 dan 1994, maka terjadi penurunan nilai CN dari 82,45 menjadi 79,66. Penurunan nilai CN tersebut menimbulkan penurunan debit puncak sebesar 18,21% dan volume limpasan sebesar 22,77%. Hasil simulasi pada kondisi skenario menunjukkan bahwa, dengan menjadikan seluruh lahan tegalan menjadi lahan perkebunan Kakao dapat menggantikan kondisi minimum 30% luas DAS Gobeh berupa hutan dalam hal besaran penurunan debit puncak yang dihasilkan.
Based on the 2006 land use map, Gobeh Sub Basin consisted of 32 Ha rice field, 84 Ha non irrigated dry field and 45 Ha housing area, which is not fulfilled the minimum conditions 30% total basin area in forest area referring to the forestry regulation in Law Number 41 of 1999 year. Starting from idea that forest function for providing water balance can be replaced by cropping area, this study conducted to figure out the effect of Cacao crop plantation on non irrigated dry field to flood hydrograph characteristics. Floods hydrograph simulation conducted by means of HEC-HMS software using 10, 25 and 50 year return period rainfall input with basin parameter condition related to cacao plantation periods, that is before plantation (1988), 5 years old cacao (1994) and after plantation (1995). Regarding to basin management aspect, 4 scenarios are conducted for non irrigated dry field, first no area change is made, second 57 Ha of 84 Ha total area is change to forest, third the whole area is change to cacao plantation, and fourth whole area is changed to forest. By comparing the existing condition of year 1988 to year 1994, it is found that CN value decreases from 82.45 to 79.66. Decreasing of CN values create peak flow to decreases 18.21% and flood volume 22.77%. Simulation results of scenario’s conditions show that the minimum condition 30% forest area in Gobeh Sub basin can be fulfilled by altering non irrigated dry field to Cacao plantation due to the resulted peak flow decrease.
Kata Kunci : Hidrograf Banjir,Perkebunan Kakao,Pengendalian Daur Air, peak flow, flood volume, land use and simulation