Laporkan Masalah

Pengaruh luas penebangan hutan tanaman jati terhadap karakteristik hidrograf banjir :: Studi kasus pada kawasan hutan jati PT. Perum Perhutani Wilayah I Jawa Tengah, KPH Cepu, Sub DAS Modang Kabupaten Blora

PAIDI, Prof.Dr.Ir. Sri Harto Br., Dip.H

2007 | Tesis | S2 Teknik Sipil (Magister Pengelolaan Bencana Alam

Salah satu fungsi hutan adalah sebagai perlindungan sistem keseimbangan air pada suatu daerah aliran sungai (DAS). Kegiatan penebangan hutan jati pada Sub DAS Modang oleh PT. Perum Perhutani saat ini belum memperhatikan kondisi lingkungan terutama dari aspek hidrologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penebangan hutan terhadap karakteristik hidrograf banjir. Dengan penelitian ini luas maksimum hutan yang dapat ditebang tanpa menimbulkan banjir diharapkan diketahui. Analisis penutupan lahan dan curve number dilakukan dengan bantuan paket program perangkat lunak ArcView GIS 3.3 dan berpedoman pada Tabel SCS Curve Number. Hujan rata-rata DAS dihitung dengan cara Poligon Thiessen dan hujan harian maksimum rancangan diperoleh dari hasil analisis frekuensi terhadap hujan rata-rata DAS tersebut. Hidrograf satuan diturunkan dari 10 kejadian banjir dengan cara Collins. Skenario pola penebangan hutan dibuat sesuai dengan ketentuan yang berlaku di PT. Perum Perhutani. Analisis perhitungan hidrograf banjir dilakukan dengan bantuan paket program perangkat lunak HEC-HMS 2.2.2 dengan melakukan proses kalibrasi dan verifikasi untuk memperoleh besaran parameter DAS yang akan digunakan dalam simulasi hidrograf banjir akibat penebangan. Nilai CN awal Sub DAS Modang 78,558. Penebangan hutan pada Sub DAS Modang hingga 79,496% menyebabkan peningkatan CN menjadi 83,49. Peningkatan nilai CN tersebut menimbulkan peningkatan debit puncak 71,60% dan volume limpasan 71,04%. Trendline kenaikan debit puncak dan volume limpasan akibat penebangan hutan tergantung dari luasan hutan yang ditebang dan besarnya masukan (hujan) yang terjadi. Untuk menghindari terlampauinya kapasitas tampang SPAS Modang, maka luas hutan maksimum yang boleh ditebang 120,30 hektar atau 32,69%.

One of the forest functions is to protect water balance system on a drainage basin. Activity of teak plants forest cutting on Modang Subbasin by Perhutani Limited Corporation in this time has not yet considered the environment condition, especially from hydrologic point of view. This study aims to know the forest cutting effect on flood hydrograph characteristics. By this study, the maximum forest cutting area which no flood occurrences at certain level is expected to be determined. Land covered analysis is conducted by ArcView GIS 3.3 and curve number is determained base on SCS Tables of Curve Number. Catchment rainfall is calculated by Thiessen Polygon Method and design rainfall is obtained from frequency analysis of partial series data. Unit Hydrograph is obtained from 10 flood occurrences by Collins Method. The forest cutting pattern scenarios are refered to Perhutani Limited Corporation rules. Flood hydrograph calculation is conducted by using HEC-HMS software through calibration and verification processes to achieve basin parameter values that will be used for simulating flood hydrograph. The initial value of curve number on Modang Subbasin is 78,558. Forest cutting in Modang Subbasin up to 79.49% will cause 83.49 on CN value. Increasing of CN values generates the rising of peak flow to 71.60% and the flood volume to 71.04%. The rising peak flow trendlines and runoff volume trendlines depend on forest cutting area. To avoid the flood occurrences, the maximum forest cutting area is 120.28 hectares or 32.69%.

Kata Kunci : Hidrograf Banjir,Penebangan Hutan,DAS, basin, forest cutting, peak flow, flood volume


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.