Kapasitas geser balok laminasi vertikal bambu petung bilah profil I
RAHARJO, Eko, Prof.Ir. H. Morisco, Ph.D
2007 | Tesis | S2 Teknik SipilKebutuhan kayu meningkat bersamaan dengan kebutuhan akan tempat tinggal, baik digunakan sebagai struktural maupun non struktural. Permintaan kayu tersebut tidak dapat terpenuhi karena kayu baru dapat dimanfaatkan pada umur sekitar 50 tahun. Bambu yang mempunyai kekuatan yang tinggi dan kualitas yang baik dapat diperoleh pada umur 3-5 tahun, sehingga bambu dapat dijadikan alternatif pengganti kayu. Bambu mempunyai keterbatasan sebagai bahan bangunan adalah bentuk dan ukuran bambu serta bentang yang dihasilkan. Dengan teknologi laminasi dapat mengahasilkan dimensi baik panjang, lebar, maupun tebal yang sesuai dengan yang kita butuhkan. Bambu yang digunakan dalam penelitian ini adalah bambu petung. Penelitian pendahuluan dilakukan untuk mengetahui sifat fisik dan mekanik serta kuat rekat bambu mengikuti standar pengujian ISO 3129-1975. Melalui uji sifat mekanika bambu petung akan menentukan dimensi balok profil I yang digunakan. Benda uji balok profil I laminasi susunan vertikal dibuat dalam tiga variasi penggunaan core pada balok, yaitu tanpa core (BL 00), dengan core 1 cm (BL 01) dan core 1,6 cm (BL 1,6), dengan menggunakan jumlah perekat terlabur 50/MDGL. Pembebanan lateral statik diberikan secara bertahap sampai balok profil I runtuh. Hasil pengujian sifat mekanika Bambu Petung dapat diketahui nilai ratarata kuat tekan dan kuat tarik sejajar serat, kuat tekan tegak lurus serat, kuat geser, kuat geser laminasi, kuat lentur dan modulus elastisitas (MOE) masing-masing berturut-turut sebesar 28,57 MPa, 149,5 MPa, 14,03 MPa, 8,80 MPa, 25,36 MPa, 118,8 MPa dan 17918 MPa. Kekuatan maksimal balok laminasi profil I diperoleh pada variasi dengan core 1 cm sebesar 71380,8 N. Kekuatan balok laminasi mengalami peningkatan 36,46 % pada penggunaan core 1 cm dibandingkan tanpa core. Selama pengujian balok laminasi kerusakan yang terjadi adalah patah geser dan patah lentur.
The demand of wood is increasing parallel with housing production. The demand of wood can not be fulfilled because wood can be produced by trees at least fifty years old. Bamboo that has high strength and good quality can be obtained in the age of 3-5 year, so bamboo is a primary alternative of wood substitute. Bamboo has some limitations in form and the size and the span as building material. By lamination technology, it could produce a dimension appropriate to the one need. Bamboo used in this research was bamboo petung from Watukelir Sukoharjo,which was arranged vertically. Preliminary research was previously conduted to obtain the physical and mechanical behaviour of the bamboo and the block strength based on ISO 3129-1975. The obtained bamboo mechanical afterwards were used to define the laminated I Beam dimension which was arranged vertically. The laminated I beam specimen consisted of three variations of core using on the beam, such as no core (BL 00), core 1 cm (BL 01), and core 1.6 cm (BL 1.6) with glue speced as 50/MDGL. Lateral static loading was applied gradually until I beam failure. The test of Bamboo Petung’s resulted the average value of compression and tensile parallel, compression perpendicular, shear strength, lamination shear strength, modulus of rupture and modulus of elasticity (MOE) as 28,57 MPa, 149,5 MPa, 14,03 MPa, 8,80 MPa, 25,36 MPa, 118,8 MPa and 17918 MPa respectively. The maximum strength of lamination I beam in the variation using core 1 cm was 71380.8 N. The strength of lamination beam increased as 36,46% in the use of core 1 cm compared to no core I beam. During the test of lamination I beam, the damage occurred due to bending and shear.
Kata Kunci : Balok Laminasi Bambu,Laminasi Vertikal,Kuat Geser, amboo lamination beam of profile I, vertical lamination, shear strength