Pemanfaatan citra Quickbird untuk pemetaan penggunaan tanah skala 1:2.500 di daerah perkotaan :: STudi kasus di desa Maguwoharjo Kecamatan Depok Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta
AISIYAH, Nuraini, Ir. Slamet Basuki, M.Si
2007 | Tesis | S2 Teknik GeomatikaPerubahan penggunaan tanah khususnya di daerah perkotaan relatif cepat sehingga diperlukan pembuatan peta penggunaan tanah yang dinamis, yang dapat di up date tiap tahunnya Pada kenyataannya metode terestris tidak mampu mengejar laju perubahan penggunaan tanah karena membutuhkan waktu yang relatif lama juga biaya dan tenaga yang besar. Penelitian ini berupaya memetakan penggunaan tanah skala besar (1 : 2500) daerah perkotaan dengan memanfaatkan citra beresolusi spasial tinggi (Citra Quickbird) yang diambil pada tahun 2005 sebagai alternatif sumber data pelaksanaan kegiatan pemetaan penggunaan tanah skala 1 : 2.500 dan up dating peta penggunaan tanah di salah satu kelurahan di wilayah kecamatan di lingkup Kabupaten Sleman, dengan pertimbangan beberapa kelebihan yang dimiliki oleh citra tersebut. Penelitian ini menggunakan metode interpretasi citra secara visual dan hasil interpretasi dan deleniasi didigitasi tiap jenis penggunaan tanahnya dengan digitasi on-screen yang berpedoman pada Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional No. 1 Tahun 1997. Proses digitasi dilakukan bersamaan dengan identifikasi tiap jenis penggunaan tanah dengan cara deleniasi jenis penggunaan tanah dan pemberian data atributnya. Hasil digitasi diklasifikasikan dengan metode klasifikasi bertingkat (multi stage classification ) dengan pendekatan multi scale top down untuk mengetahui sejauhmana kemampuan masing-masing sistem dalam mengidentifikasi obyek dari yang bersifat general ke yang bersifat detil. Hasil klasifikasi dianalisis dengan menghitung statistik KHAT, dengan kriteria masuk kategori baik jika hasil KHAT > 0,75, selanjutnya ditarik kesimpulan sejauhmana kemampuan citra Quickbird untuk dapat dijadikan alternatif pemetaan penggunaan tanah sekala 1 : 2.500 di daerah perkotaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada klasifikasi tahap I nilai KHAT =0,916 , nilai KHAT klasifikasi tahap II = 0.837, nilai KHAT klasifikasi tahap III =0,732. Nilai KHAT tahap I dan II masuk dalam kategori baik, sedangkan untuk klasifikasi tahap III masuk dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa untuk menghasilkan peta penggunaan tanah skala 1 : 2.500 akan optimal jika ditambah kerjaan terestris karena kemampuan citra tidak dapat mendeteksi beberapa jenis obyek penggunaan tanah yang sangat detil pada skala 1 : 2.500. Hasil dari analisis spasial dalam penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tanah terbesar di wilayah penelitian adalah sawah irigasi (19.99 %) dan untuk penggunaan tanah terbesar nomor 2 adalah perumahan tidak teratur kepadatan tinggi (9.92 %), sedangkan penggunaan tanah terkecil adalah pasar tradisional (0,002 %).
The using of land especially in urban area are relative quickly change, so dynamics land use mapping which up dated yearly are particularly needed. In fact, terrestrial mapping is incapable method to applicate because of more expense and time needed. This research is examine land use mapping in large scale (1:2500) in urban area by using high resolution satellite image (Quickbird) taken on 2005 as an alternative data source of land use mapping in one of kelurahan region in area of Kabupaten Sleman. This research using visual interpretation and delineating its interpretation by on-screen digitizing of every kind use of land, by considering the rule of Peraturan Menteri Agraria/Ka BPN No. 1/1997. By the digitizing process, the identification of every kind of land use and its attribute is also executed. Digitizing result then being classified by multistage classification with multistage top down method to find out every system ability in identifying object from general type to the most detail. On next step, the classification result is analyzed by statistic method of KHAT, which its criterion is good in KHAT > 0.75. In the last step it would be concluded the capability of Quickbird image as an alternative data source to land use mapping in 1:2500 scale in urban area. The result of this research is on first step classification shows KHAT= 0.916, on second classification shows KHAT = 0.837 and on third classification shows KHAT = 0.732. KHAT on first and second classification step is in good categorization, while in third classification step is in middle one. This result shows that to produce the land use map in scale of 1:2500 would be more optimally if terrestrical mapping is added, because of image inability to identified more detail of land use in scale of 1 : 2500. By the spatial analysis in research area shows that the most using of land is irrigated farming area (19.9%) and the irregularly urban housing is on the second (9.92%), while the traditional market using is the least land using (0.002%).
Kata Kunci : Pemetaan Tanah,Citra Quickbird, Soil mapping, Quickbird Imagery