Groundwater vulnerability assessment in Yogyakarta urban area, Indonesia
RAKSMEY, May, Dr.Ir. Heru Hendrayana
2007 | Tesis | S2 Teknik GeologiPenelitian ini dilakukan di Daerah Perkotaan Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Batas hidrogeologi daerah penelitian ini adalah Sungai Code di bagian timur dan Sungai Winongo di sebelah barat. Salah satu dampak perkembangan Kota Yogyakarta adalah terjadinya penurunan kualitas airtanah. Di bagian utara daerah penelitian, kualitas airtanah telah tercemar oleh kebocoran tangki penyimpanan bahan bakar untuk kereta api. Lebih jauh lagi, karena Yogyakarta adalah kota tujuan budaya dan pariwisata, pertumbuhan industri batik yang berlokasi di sebelah tengah dan barat daerah penelitian telah menyebabkan terjadinya penurunan kualitas airtanah. Saluran pembuangan berkelompok juga menjadi sumber pencemaran airtanah. Pada umumnya, perencanaan tata kota di Kota Yogyakarta dilakukan tanpa memperhatikan aspek negatifnya terhadap airtanah. Memperhatikan masalah di atas, penelitian ini bertujuan untuk membuat peta kerentanan intrinsik dan spesifik airtanah. Metodologi penelitian ini adalah konsep pemetaan kerentanan airtanah dari Jerman. Dengan pendekatan ini, derajat kerentanan airtanah ditentukan berdasarkan keefektifan proteksi tanah dan zona tidak jenuh airtanah. Beberapa parameter seperti kapasitas lapangan efektif tanah, perkolasi rata- rata, jenis batuan, dan ketebalan tanah dan batuan di atas akuifer diperlukan untuk mengetahui keefektifan proteksi pada model sistem perhitungan titik. Sistem informasi geografis akan menjadi sangat berguna untuk membuat model dan proses pemasukan data pada peta. Hasil yang didapatkan, yaitu dari peta kerentanan airtanah intrinsik, ada dua derajat kerentanan airtanah terhadap pencemaran, yaitu sangat tinggi dan tinggi. Daerah yang berada pada derajat kerentanan airtanah sangat tinggi mencakup 82% luas daerah penelitian dan daerah dengan derajat kerentanan airtanah tinggi mencakup 18% luas daerah penelitian . Peta kerentanan airtanah spesifik menunjukkan persentase daerah yang merupakan sumber pencemaran airtanah pada masing-masing zona. Daerah yang didominasi oleh rumah penduduk dan daerah yang saluran pembuangannya berkelompok mendominasi daerah penelitian, dengan penyebaran sekitar 76,22 % dan 10,87% yang berada pada daerah yang paling rentan terhadap pencemaran, 65,85 % dan 29,83% berada pada daerah dengan dengan kerentanan tinggi. Dengan kata lain, lndustri Batik Rumahtangga berada pada zona sangat tinggi, dengan luasan sekitar 4,91%. Kajian kerentanan airtanah di daerah perkotaan Yogyakarta adalah langkah awal bagi perencana tata ruang dan tata kota untuk pengembangan kota pada masa yang akan datang dan sebagai bahan untuk melakukan proteksi airtanah.
The research work is conducted in Yogyakarta Urban Area, Yogyakarta Special Province, Indonesia. The hydrogeological boundary of this study area is limited by Code River at the east and by Winongo River at the west. As a result of the development of all sectors in Yogyakarta city, the quality of groundwater has been significantly deteriorating. In the northern part of the research area, groundwater quality has been noticeably contaminated by the leakage of fuel storage tanks for trains. Furthermore, because Yogyakarta is a cultural city and tourist destination, the growing of batik industry located in the middle and southern part has led to the groundwater pollution and quality degradation. Similarly, the sources from unsewered areas are also a major contributor to groundwater contamination. In general, landuse planning in this city is often done without taking any aspects of groundwater protection into consideration. In response to the above issues, this research study is dedicated to producing a map of intrinsic and specific groundwater vulnerability in the study area. The methodology applied in this case is the German Concept of Groundwater Vulnerability Mapping. Within this approach, the degree of vulnerability is determined according to the overall protective effectiveness of the soil cover and the unsaturated zone. Therefore, some parameters such as soil effective field capacity, percolation rate, rock types, and thickness of soil and rock cover above the aquifer are required to assess the overall protective effectiveness based on Point Count System Model (PCSM). Geographic Information System (GIS) will be a powerful tool to make the model of assessment up and then process the input data as well as directly compile the map. The result of the groundwater vulnerability assessment shows two main degrees of groundwater vulnerability to contamination: Extremely High and High in the intrinsic groundwater vulnerability map. The zone of Extremely High covers up to 82% of the territory, while the area of High degree extends until 18%. In addition, the specific groundwater vulnerability map illustrates the five main classifications of the possibility of groundwater contamination from the sources such as Extremely High, High, Medium, Low, and Very Low. The groundwater vulnerability assessment in Yogyakarta Urban Area is the first intension to offer planners with a tool for a preliminary selection of priority areas for appropriate future landuse development and to serve as a measure for groundwater protection.
Kata Kunci : Hidrogeologi,Kerentanan Air Tanah,Pencemaran,Kota Yogyakarta