Laporkan Masalah

Respon masyarakat terhadap perkembangan pariwisata Selo di Desa Samiran Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali

WIJAYA, Atika, Drs. Rahardjo, M.Sc

2007 | Tesis | S2 Sosiologi (Studi Pembangunan)

Pelaksanaan otonomi daerah menuntut pemerintah daerah di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan daerah masing-masing dengan memaksimalkan potensinya. Salah satu potensi yang paling banyak dipilih oleh pemerintah daerah adalah pariwisata. Potensi pariwisata yang ada di daerah-daerah dikembangkan sedemikian rupa sehingga tampak sudah siap dipakai. Demikian halnya bagi pemerintah daerah Jawa Tengah dan Kabupaten Boyolali yang menyusun kebijakan untuk melakukan pengembangan pariwisata di Kecamatan Selo yang mengandalkan potensi alam Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Pemkab Boyolali dalam melakukan pengembangan terlebih dahulu mengadakan sosialisasi pada masyarakat. Untuk melihat perkembangan yang terjadi akibat perkembangan pariwisata Selo maka digunakan rentang waktu yaitu tahun 2001 - 2006. Saat ini, pariwisata di Selo sudah berkembang yang ditandai dengan meningkatnya sarana pendukung pariwisata dan meningkatnya jumlah wisatawan. Perkembangan pariwisata Selo mengakibatkan perubahan dalam kehidupan masyarakat di Desa Samiran, yang kemudian direspon oleh masyarakat secara beragam sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan yang terjadi karena perkembangan pariwisata Selo. Perubahan yang dimaksud difokuskan pada perubahan kultural yaitu kebudayaan masyarakat. Tujuan lainnya yaitu mengetahui respon masyarakat yang muncul karena perkembangan pariwisata Selo. Penelitian dilakukan dengan cara deskriptif kualitatif dengan maksud menggambarkan suatu realitas sekarang berdasarkan fakta-fakta sebagaimana adanya. Lokasi penelitian di Desa Samiran Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali. Data-data diperoleh melalui teknik wawancara, pengamatan, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perkembangan pariwisata telah menimbulkan perubahan kultural yaitu kemajuan kebudayaan materiil berupa teknologi komunikasi, transporasi, dan informasi. Perubahan lain terjadi pada pola pikir masyarakat tradisional agraris, yang mulai berfikir logis dan mulai meninggalkan kepercayaan terhadap hal mistis. Adanya proses perpaduan antara pola hidup lama dengan pola hidup baru yang cenderung modern, juga termasuk dalam perubahan kutural. Dalam penelitian ini, respon masyarakat terhadap perkembangan pariwisata adalah positif dan negatif. Respon positif berupa: tumbuhnya institusi lokal yaitu Pokdarwis Samiran, masyarakat memanfaatkan adanya peluang usaha baru yang muncul, para seniman merespon dengan meningkatkan kualitas, dan masyarakat lebih sadar menjaga kelestarian lingkungan. Sedang, respon negatifnya adalah adanya kontra dari LSM pada awal pengembangan dan adanya kelompok masyarakat yang tidak berperanserta dalam kegiatan pariwisata. Meskipun demikian pariwisata Selo masih perlu pengembangan lebih lanjut karena masih terdapat kendala yaitu belum masuknya dana investor. Sehingga masyarakat belum dapat memanfaatkan pariwisata secara maksimal guna meningkatkan kesejahteraannya

The implementation of local autonomy demands the local government in Indonesia to fulfill their local needs by maximizing its potency. One of the potency that most selected by local government is tourism. The tourism potency in local area developed in such a manner so that see have ready to used. The tourism development is holds for the local government of Central Java and Boyolali regency that made the policy to develop the tourism of Selo with the potencies of Merapi Mount and Merbabu Mount. The local government of Boyolali in order to develop the Selo tourism beforehand held the socialization for local society. To see the growth that happened by the effect of the growth of Selo tourism that is use the period 2001 - 2006. In this time, Selo tourism developed that marked by the increasing of tourism facilities and increasing of tourist amount. Growth of Selo tourism effected the change in society life in Samiran village, later of respond by society immeasurable as according to knowledge owned. This research held in order to know the change that happened because of Selo tourism growth. The change focused at cultural change that is society culture. Others, this research is also intended to describe the responses of the people in Samiran village about tourism growth in its countryside. The research done with the descriptive qualitative method so the aim of this research that is can describe the reality in field according to fact as it reached. Location of this research is in Samiran village of Selo of regency Boyolali. The data obtained by technique interview, observation, and documentation. The result of this research indicate that the tourism growth have generated the cultural change that is material culture progress in the form of communications technology, transportation, and information. The other change happened in patterned thinking agrarian traditional society, what set thinking logical and start to leave the belief to mystical matter. The integration between old life pattern with the new life pattern which is tend to modern, also included in cultural change. In this research, society responses to tourism growth divided into negative and positive. Positive responses in the form of: growing of local institution that called by Pokdarwis Samiran, society exploit the new effort opportunity which emerge, local artists respond by improving their quality, and society more conscious take care of the environmental continuity. The negativity responses are the contra action from LSM in the early development and the society group that do not participate in tourism activity. Even though, the Selo tourism still needs furthermore development because there is constraint that is not yet entry of investor fund. So that society not yet earned to exploit the tourism maximally, to improve its prosperity.

Kata Kunci : Kebijakan Pengembangan Pariwisata,Respon Masyarakat,society responses, tourism growth, and cultural change


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.