Laporkan Masalah

Strategi survival pedagang pasar tradisional dalam menghadapi pertumbuhan pasar modern :: Penelitian di DKI Jakarta

KUSNADI, Prof.Dr. Tadjuddin Noer E

2006 | Tesis | S2 Sosiologi

Pembangunan pasar modern, seperti mal dan hipermarket di Kota Jakarta dalam beberapa tahun terakhir sangatlah marak, seperti jamur di musim hujan. Pemerintah kota (Pemkot) terkesan begitu mudah memberikan izin, sehingga pasar pembelanjaan modern tersebut muncul mengepung kota dari segala penjuru. Ekspansi mal dan hipermarket kini telah merambah di pinggiran Jakarta, tidak peduli keberadaannnya dekat dengan pasar tradisional atau kondisi lalu-lintas yang padat. Di satu sisi, pembangunan mal bisa memberi manfaat ekonomi. Namun di sisi lain, beban sosial yang harus ditanggung kota Jakarta terus menggunung. Hasil penelitian AC Nielsen menyebutkan bahwa tingkat pertumbuhan pasar tradisional – 8,01 persen, sedangkan pasar modern atau hypermarket 31,4 persen. Akibatnya tahun 2005 sembilan pasar tradisional terpaksa dilikuidasi, ribuan pedagang pun bangkrut setiap tahunnya. Pedagangpun harus melakukan strategi survival dalam mempertahankan keberadaannya dalam persaingan dengan pasar modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi pedagang pasar tradisional dalam menghadapi persaingan dengan pasar modern serta mempertahankan kekhasannya sebagai pasar rakyat dalam proses kehidupan di pasar tradisional Tanah Abang, Jakarta Pusat. Untuk lebih memudahkan dalam mengungkap nilai, ide, dan perilaku pedagang tradisional, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan grounded. Dalam studi penelitian grounded, metode utama yang digunakan adalah pengamatan partisipatif. Metode pengamatan partisipatif ini sasaran utamanya adalah orang atau pelaku, oleh karena itu keterlibatannya dengan sasaran yang diteliti berwujud dalam hubunganhubungan sosial dan emosial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi survival yang dilakukan oleh pedagang pasar tradisional Tanah Abang untuk dapat mempertahankan keberadaannya akibat dari meningkatnya ekspansi ekonomi modern dalam wujud pasar modern dengan melakukan tiga pola strategi, yaitu strategi politik, sosial dan ekonomi. Dalam strategi tersebut pedagang pasar tradisional lebih menfokuskan pada bagaimana mensiasati atau mensikapi kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah sebagai suatu lembaga kekuasaan. Kebijakan tersebut berkaitan dengan bagaimana pemerintah daerah mencari sumber pendapatan bagi akumulasi modal lewat pembangunan pasar modern. Spirit utama dibalik gejala itu adalah kepentingan pemerintah daerah mengakumulasi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Karena PAD dianggap sebagai indikator keberhasilan pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Pemda nampaknya lebih mempertimbangkan kepentingan investor atau para pengusaha yang menanamkan modal dibanding mempertimbangkan nilai etis pembangunan yakni mendasarkan nilai kemanusiaan dan pembebasan dari belenggu kemiskinan.

The growth of the modern market, just like the mall and hypermarket In Jakarta in this recent year is very fast, as the growth of mushrooms in a rainy season. The local governor seems to be easily in giving the permit (license), so that the modern shopping centers emerge in every corner of the town. The mall and hypermarket expansion has reached the tip of Jakarta, and it pays no attention toward its surrounding whether it is near the traditional market or located in a crowded-traffic area. On the other hand, the mall development may give us the economical benefit. However, the social burden which has to be faced by the local governor is getting higher and higher. The AC Nielsen research shown that the degree (level) of the traditional market growth is 8,01%, whereas the modern market/hypermarket growth is 31,4 %. As the result, in 2005 nine traditional markets were being liquidated, thousands of traders were also getting bankrupt in each year. Most of them have to do the the survival strategy to defend their existence in facing the competition toward the modern market. This research has the purpose of learning the phenomenon of trader action, and the strategy pattern of the traditional market trader in facing the competition with the modern market and defending its uniqueness as the fellow market of the life process in Tanah Abang traditional market, in the center of Jakarta. To make it easier in showing a value, an idea, and the traditional trader action, then this research used the qualitative method with the grounded approach. In the research study of grounded, the main method which is being used is the participatif monitoring approach (limited). The main target of this kind of method is the people (doer), so that their involvement with the target which is being researched is in a form of social and emotional relationship. The result of this research indicate that the survival strategy conducted by traditional market merchant of Tanah Abang are able to maintain its existence effect of the increasing of modern economic in the form of modern market by conducting three strategy pattern, that is political strategy, social and economic. In the strategy of traditional market merchant more focused at how to interrogate or policy attitude applied by government as a power institute. The policy goes together how local government look for the earnings source for capital accumulation pass the modern market development. Especial Spirit at the opposite of that symptom is importance of local government accumulate the Original Earnings of Area (PAD). Because PAD considering to be an economic efficacy growth indicator of certain area. Local government likely more considering of investor importance or all entrepreneur inculcating capital compared to consider the ethical value of development namely base the human value and exemption poorness shackle.

Kata Kunci : Pedagang Pasar Tradisional,Strategi Survival,Kebijakan Pemerintah, Traditional Market Merchant, Survival Strategy, and Governmental polic


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.