Konsep Cinta dalam Gandrung karya A. Mustofa Bisri :: Interpretasi Hermeneutik
SUHARTO, Abdul Wachid Bambang, Prof.Dr. Rachmat Djoko Pradopo
2007 | Tesis | S2 SastraKajian ini telah berupaya mengungkapkan beberapa aspek yang menjadi karakteristik sajak-sajak cinta Gandrung karya A. Mustofa Bisri. Dengan menggunakan metocle hermenutika sebagai sistem interpretasi, dan wacana hermeneutika dalam perspektif tasawuf (ta’wil) dijadikan pijakan bagi langkah filosofisnya, dapat dikemukakan bahwa sajak-sajak cinta Gandrung karya A. Mustofa Bisri mempakan puisi sufi yang kaya pengalaman ruhani berkenaan dengan keindahan dan cinta IlahjalL Puisi A. Mustofa Bisri memiliki kesamaan tematik dengan puisi tradisi sufi tentang kerinduan, cinta, kemabukan mistik, tingkatan- tingkatan ruhani menuju malcifat, dan penyatuan cinta dalam fana. Hal tersebut diungkapkan melalui tamsil percintaan pria dan wanita, tetapi yang dimaksudkan adalah Allah Yang Mahaindah. Pandangan puisi A. Mustofa Bisn' berfokus kepada keindahan, cinta dan kasih sayang Allah, yang bersetuju kepada pandangan tasawuf Rabi'ah al-Adawiyah. Akan tetapi, pandangan tasawufnya tentang Keindahan Universal (III-lama!) juga dipengaruhi Ibn ’Arabi, yakni melakukan penyempitan wujud bahwa sifat )amaliyah Allah yang paling lengkap dan sempurna ada pada diri wanita. Puisi A. Mustofa Bisri membcrikan tangga-tangga ruhani yang meninggi menuju Allah, saling berhubungan, dan saling melahirkan situasi ruham‘ sampai kc tingkatan tawakkal, melalui tahlil ke tasbih ke tahmid ke takbir ke istighfar ke syukur Ice khauf ke rajaa’, dan ke tawakka! sehingga menuju fanaa' (kefanaan) dan baqaa’ (keabadian). Dengan begitu, puisi A. Mustofa Bisri menempatkan tasawuf sebagai jalan yang meninggi, yang dijiwai oleh syahadat. Karena itu, puisinya djilhami oleh ayat-ayat al-Qur’an dalam tafsir tasawuf, di samping hadis qudsi sehingga bermakna keruhanian sekaligus berdimensi moral sosial. Hal ini sebab diimani Sifat Esa Allah â€tidak ada Tuhan, melainkan Allah†(Ian ilaaha iIlaaIlaah), karenanya menegaskan jarak dan transendensi-Nya. Akan tetapi, haldkat “Allah bisa dilihat di mana-mana†merupakan manifestasi dari sifat imanensi Allah.
This review aims to reveal several aspects that characterize poems of love in Gandrung composed by A. Mustofa Bisri. Using the hermeneutic method as a system of interpretation, with the hermeneutic discourse in tasawuf perspective (ta'wil) as its philosophical foundation, the love poems in Gandrung by A. Mustofa Bisri are said to be sufistic poems that have a wealth of spiritual experience about divine beauty and love. A. Mustaofa Bisri’s poems have a thematic similarity to those of the sufistic tradition regarding longing, love, mystical ecstasy, spiritual levels of makrifat, and the oneness of love in impermanence. They are expressed through parables of love between men and women, but they are all meant for the Beautiful God. The perspectives of A. Mustofa Bisri's poems, focusing on God’s beauty, love, and affection, are in harmony with the perspective of tasawuf Rabi'ah al-Adawiyah However, Bisri’s tasawuf perspective on the Universal Beauty (al-[amal), is also influenced by Ibn 'Arabi’s perspective which narrowing the manifestation of God’s absolute and perfect [amaliyah into a women. A. Mustofa Bisri’s poems serve as ascending spiritual ladders towards God, connected each other, and act in synergy to produce a spiritual state that finally leads to a tawakkal level which starting from tahlil to tasbih, tahmid, takbir, istighfar, syukur, khauj; rajaa', and finally to tawakkal, that finally reach fanaa' (impermanence) and baqaa' (eternity). In that manner, Bisri’s poems put tasawuf as a path into a higher spiritual state and spirited by the syahadat. His poems are inspired by al-Qur'an verses in tasmvuf interpretation as well as hadis qudsi so that they have spiritual meanings and having moral and social dimensions. It also comes from the belief of God’s singularity "that no other God but Allah" (laa ilaaha illaallaah), emphasizing the His distance and transcendence. But the nature of "God’s omnipresence" is the manifestation of God's immanens.
Kata Kunci : Puisi Sufi,Penyair,Gandrung,Konsep Cinta,Interpretasi Hermeneutik, Love, Beauty, Divine Lave, Tasmqu