Laporkan Masalah

Pemerolehan bahasa kedua siswa taman kanak-kanak di Yogyakarta International School :: STudi kasus di yogyakarta

ZULAENI, Erna, Prof.Dr. Soepomo Poedjosoedarmo, MA

2007 | Tesis | S2 Linguistik

Sudah menjadi rahasia umum bahwa ada dua cara untuk meningkatkan kompetensi bahasa kedua (L2) yaitu melalui ‘pemerolehan’ yang mengacu pada pengakuisisian L2 melalui pendedahan, dan ‘pembelajaran’ yang mengacu pada pembelajaran dengan kesadaran penuh. Tesis ini memberikan ulasan mengenai proses yang ditempuh oleh siswa Pra-TK dan TK Yogyakarta International School (YIS) untuk memperoleh L2 mereka berdasarkan hasil riset yang dilaksanakan selama 10 bulan. Dari penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa apa yang dilakukan siswa YIS sudah sesuai dengan metode-metode seperti Behaviourism, Innatism, Interactionism and the Monitor Model, seperti halnya anak lain yang memperoleh baik L1 maupun L2 mereka. Perbedaannya hanyalah, jika menurut teori, seorang anak membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk melampaui semua tahapan, siswa YIS hanya membutuhkan waktu 10 bulan untuk mencapai tahap keempat. Setting dari proses belajar mengajar yang didesain sedemikian rupa sehingga memberikan siswa perasaan nyaman, aman dan gembira, ternyata menghindarkan anak dari perasaan cemas dan menciptakan interaksi yang bagus diantara masyarakat kelas. Ternyata, hal ini hanyalah merupakan satu faktor penentu keberhasilan anak. Kondisi lain seperti bagaimana guru menyediakan banyak sekali input bahasa yang mudah dipahami dengan cara berbicara secara alami dan dengan memberi pancingan, ternyata meningkatkan motivasi dan rasa percaya diri anak. Satu hal penting lainnya adalah keharusan adanya peristiwa yang bisa memberi kesan mendalam, baik dari guru maupun teman, yang bisa memicu inisiatif siswa untuk memulai berkomunikasi memakai L2. Begitu mereka mulai berbicara dengan L2, proses pemerolehan bahasa pun akan lebih cepat. Hal lain yang diketemukan dalam riset adalah bahwa begitu hubungan pertemanan menjadi akrab, siswa menciptakan inovasi yang aslinya muncul tanpa sengaja, namun akhirnya menjadi trademark kekentalan hubungan kelompok mereka

It is widely known that there are two distinct and independent ways of developing competence in a second language (L2) i.e. ‘acquisition’ which refers to acquiring a L2 through exposure, and ‘learning’ which refers to conscious study of a L2. This thesis presents the process by which students of Pre-K and K of Yogyakarta International School (YIS) acquire their L2 based on research which was done over a 10 month period. It can be concluded that students of YIS have gone through a range methods in acquiring L2 such as Behaviourism, Innatism, Interactionism and the Monitor Model, just like any other children acquiring either L1 or L2. The only difference is that unlike the theory that mentions it takes years for a child to cover all the stages, the students of YIS took only 10 months to reach the fourth stage. It was also discovered that the setting of the teaching-learning process, which was designed in such a way that gave students feelings of comfort, safety, and joy, freed the students from being anxious and created a good interaction among the class community. This apparently was only one of the factors which determined the students’ success. Other conditions such as how teachers provided students with abundant comprehensible language inputs by speaking naturally and by giving prompts, definitely boosted students’ motivation and confidence. Last but not least, there needs to be a significant occurrence or event which leaves an indelible impression upon the child, be it from the peer or teacher which may trigger the child’s initiative to start communicating in the target language. Once they start talking, the process of acquiring is amazingly fast. One other thing discovered during the research was that once the students’ developed close personal friendships they started to get closer to each other and create innovation which originally was done unintentionally but in the end was used as the trademark of their bond.

Kata Kunci : Bahasa Kedua,Proses Belajar Mengajar,Siswa Yogyakarta International School, language acquisition, stages, interaction, innovation


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.