Transformasi perilaku perempuan sebagai korban menjadi agen pembangun perdamaian :: Studi kasus konflik Ambon
SOSELISA, Sara Emarina, Dr. Nanang Pamuji Mugasejati
2007 | Tesis | S2 Ketahanan Nasional (Magister Perdamaian dan ResPenelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat bagaimana proses perubahan perilaku perempuan korban menjadi agen pembangun perdamaian. Apa saja yang telah dilakukan oleh perempuan dalam mengupayakan perdamaian di Ambon pasca konflik. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara atau in-dept interview terhadap Focus Group Diskusi (FGD) antara lain; kelompok perempuan partai PDIP, Golkar, wartawan, Perawat, pegawai negeri sipil, guru, ibu rumah tangga (perempuan pengungsi) dan personal antara lain ; tokoh masyarakat perempuan Muslim-Kristen, pemerintah, ibu rumah tangga, aktivis LSM, perempuan pelaku dan korban konflik. Perubahan perilaku perempuan dari korban menjadi agen pembangun perdamaian disebabkan oleh antara lain ; 1. Tanggung jawab peran sebagai ibu. Konflik mengakibatkan perempuan harus menghidupi keluarganya. Hanya dengan kondisi yang aman dan damai mereka bisa bekerja untuk menghidupi bahkan memberikan rasa aman bagi kelurga. 2. Adat-Budaya. Perempuan lebih peka terhadap budaya pela-gandong sebagai perekat hubungan masyarakat Maluku. Hubungan kekerabatan ini sudah menjadi aturan hidup yang diletakkan oleh orang tua-tua dengan segala sanksi yang keras bagi pelanggaran yang terjadi. 3. Interaksi dengan orang/ lembaga lain. kondisi yang terpisah menurut agama mengakibatkan masyarakat tinggal dalam pikiran dan nilai-nilai negative terhadap orang atau kelompok lain yang dianggap musuh. Pertemuan-pertemuan yang terjadi yang difasilitasi oleh LSM atau pemerintah membuat mereka mengenal dan menumbuhkan kembali kepercayaan yang pernah hilang. Dialog yang terjadi mengakibatkan nilai negative berubah menjadi positif. Kehidupan bersama kembali mempunyai nilai yang positif dalam membangun kehidupan bersama dengan lebih baik. Kesimpulannya, sebagai korban perempuan berusaha untuk memperbaiki keadaan melalui apa yang mereka lalukan sehari-hari. Kebencian dan amarah dilupakan dan memberikan pengampunan untuk hidup berdamai. Perempuan korban bisa menyebarkan perdamaian dalam lingkungan mereka melalui pergaulan karena mereka lebih melihat kepentingan dan kebutuhan bersama tanpa membutuhkan biaya yang mahal.
This research is conducted as a mean to see how behavioral change process of women of victim become peace builder agent. Any kind of which have been done by women in striving peace in Ambon, conflict pasca. Data collecting through observation and in-dept interview to Focus Group Discussion (FGD) such as, women group of PDIP and Golkar parties, Jurnalist, Nurse, Civil Servant, Teacher, and housewife ( IDP’s Women); personal interview, such as, elite figure women of Muslim-Christian, governmental, housewife, NGO activist, and women of perpetator and conflict victim. Behavioral change of women from victim become peace builder agent because of: 1. Role responsibility as mother. The conflict resulted in women’s responsible to take care of their family. Only with save and peaceful condition they can work in order to take care of their family and even give security to family. 2. Tradition-culture. Women are more sensitive to Pela-Gandong Culture as the adhesive of Moluccas community relations. This kinship has become life order that put down by old people with all hard sanction to collision that happened. 3. Interaction with other people or institute. The separation condition based on religion make society remains in mind and negative values to other people or group which assumed as their enemy. Meetings that happened which are facility by NGO or government make they recognize and grow again the trust which have loosed. Dialogue that happened result negative values turn into positively. Coexistence again has value which is positive in developing coexistence eminently. Based on this research we can conclude that as victim, women try to repair situation through what they do every daily. Hatred and anger have forgotten and give mercy in order to make live in peace. Women of victim can propagate peace in their environment through social intercourse because they see in the interest of togetherness and their need more without requiring the expense of costly.
Kata Kunci : Konflik Ambon,Pembangunan Perdamaian,Perilaku Perempuan, Transformation, behavioral, women of victim