Hubungan antara Program Pembangunan Keluarga Sejahtera dengan ketahanan ekonomi keluarga di Kecamatan Bandar Kabupaten Pacitan
SAPARYANTO, Prof.Drs. Kasto, MA
2007 | Tesis | S2 Ketahanan NasionalPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membuktikan hubungan antara program pembangunan keluarga sejahtera dengan ketahanan ekonomi keluarga. Hipotesis yang diajukan adalah: (1) Semakin tinggi tahapan keluarga sejahtera semakin baik tingkat ketahanan ekonomi keluarga; (2) Semakin kecil jumlah anak pada masing-masing tahapan Keluarga Sejahtera (KS) semakin baik tingkat ketahanan ekonomi keluarga; (3) Kepala Keluarga yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi pada masing- masing tahapan Keluarga Sejahtera (KS) mempunyai tingkat ketahanan ekonomi yang lebih baik dibandingkan dengan Kepala Keluarga yang berpendidikan rendah Penelitian ini mengambil lokasi di Kecamatan Bandar Kabupaten Pacita n dengan sampel sejumlah 50 responden pada masing- masing tahapan keluarga sejahtera dengan menggunakan metode sampling kuota dan teknik pengambilan sampel secara acak (Bilangan Random). Data penelitian ini dikumpulkan melalui studi kepustakaan, observasi, angket, dan dianalisis dengan teknik analisa data bivariat. Setelah dilakukan analisis dan pembahasan terhadap hasil penelitian diperoleh temuan sebagai berikut : Pertama, persentase yang berada di atas garis kemiskinan (>GK) cenderung meningkat dari mulai tahapan Pra Keluarga Sejahtera sampai dengan tahapan Keluarga Sejahtera III+. Semakin tinggi tahapan Keluarga Sejahtera semakin baik tingkat ketahanan ekonomi keluarga, dengan demikian tahapan Keluarga Sejahtera mempengaruhi ketahanan ekonomi keluarga. Kedua, persentase keluarga yang memiliki jumlah anak lebih kecil atau sama dengan dua anak (£ 2 anak) yang berada diatas Garis Kemiskinan (>GK) cenderung meningkat dari mulai tahapan Pra Keluarga Sejahtera sampai dengan tahapan Keluarga Sejahtera III+. Namun demikian pada tahapan KS III sampai dengan KS III + juga didapatkan persentase keluarga yang memiliki jumlah anak lebih besar dari dua anak (> 2 anak) yang berada diatas garis kemiskinan (> GK). Jadi dengan demikian hipotesis yang mengatakan semakin kecil jumlah anak semakin baik tingkat ketahanan ekonomi keluarga, tidak diterima secara penuh. Jumlah anak tidak mempengaruhi ketahanan ekonomi keluarga pada tahapan Keluarga Sejahtera III dan tahapan Keluarga Sejahtera III+. Ketiga, persentase kepala keluarga yang memiliki tingkat pendidikan lebih besar dari SMP (>SMP) yang berada di atas Garis Kemiskinan (GK) cenderung meningkat dari mulai tahapan Pra Keluarga Sejahtera sampai dengan tahapan Keluarga Sejahtera III+. Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga semakin baik tingkat ketahanan ekonomi keluarga. Jadi tinggi rendahnya tingkat pendidikan kepala keluarga mempengaruhi tingkat ketahanan ekonomi keluarga.
This research aim to know and prove relationship between program development of welfare family with family economics resilience. Hypothesis the raised is: (1) welfare family step progressively goodness mount family economics resilience; (2) Smaller the amount of child each secure and prosperous family step progressively goodness mount family economics resilience; (3) Family Head owning higher education storey level each welfare family step have economics resilience storey level which is better to be compared to family head which have low education. This research take location in Subs district of Bandar, Pacitan Regency with total sample 50 respondent on each of welfare family phase using quota sampling method and random sampling technique (random number). The research data is questionnaire, and analyzed using bivariate data analysis technique. After performed analysis and discussion to the research outcome, it is obtained the findings as follows: First, the percentage of those presenting above poverty line (>GK) tend to increase from beginning of pre-welfare family phase to III+ welfare family phase. The highest the welfare family phase, the best the level of family economic resilience, thus the welfare family phase influences the family economic resilience. Second, the family percentage that have amount of child smaller or same with two children (£ 2 children) which above the poverties line (>GK) tend to increase from beginning of pre-welfare family phase to III + welfare family phase. But on the III + welfare family phase to III + welfare family phase are also obtained percentage of family that have amount of child bigger than two children (> 2 children) that is above poverty line (>GK). Thus the more little amount of child, the best the level of family economic resilience, “accepted†to the II welfare family phase. Amount of child do not influence the family economic resilience on the III welfare family phase and III + welfare family phase. Third, percentage of head of family that have education level more than SMP [secondary school] (> SMP) that is above poverty line (>GK) tend to increase from beginning of pre-welfare family phase to III + welfare family phase. The highest the education level of head of family, the best the level of family economic resilience. Thus the low and high of the education level of head of family influence the level of family economic resilience.
Kata Kunci : Kemiskinan,Program Pembangunan Keluarga Sejahtera,Ketahanan Ekonomi, Welfare family, poverty line and family economic resilience