Pergulatan politik antar elit partai di aras lokal :: Studi di Dewan Pimpinan Daerah Partai Amanat Nasional Kota Malang
JAINURI, Drs. Cornelis Lay, MA
2007 | Tesis | S2 Ilmu Politik (Politik Lokal dan Otonomi Daerah)Penelitian ini memetakan tentang pergulatan politik antar Elit di DPD PAN kota Malang. Setting pergulatan ini disebabkan karena elit dan sekelompok elit berebut kekuasaan dan usaha untuk memperbesar kekuasaan di partai politik yang dilakukan diluar koridor ketentuan partai. Karena perebutan kekuasaan ini sering menafikan ketentuan partai maka yang terjadi kemudian adalah konflik antar kelompok elit yang non kompetitif, menggunakan cara cara manipulatif, tidak jarang menggunakan intimidasi bahkan mengarah pada kekerasan fisik. Berhubung elit dominan di DPD PAN dalam mendapatkan kekuasaan dengan cara â€manipulatif dan kekerasan†maka apresiasi dan strategi bertahan dalam kekuasaanpun dilakukan dengan cara yang sama. Jenis penetelitian yang di gunakan dalam Metode penelitian ini adalah metode diskriptif kualitatif yang dikombinasikan metode komparatif. Untuk menggali informasi dan data tentang pergulatan politik di DPD PAN kota Malang peneliti menggunakan teknik obervasi, dokumentasi disamping interview dan diskusi kelompok dengan beberapa subyek penelitian yang memahami fenomena politik tersebut diatas. Sementara untuk sampai pada tahap kesimpulan penelitian ini menggunakan metode analis kualitatif. Hasilnya : pertama, Pada masa pembentukan partai tahun 1998/1999, elit yang berkecenderungan memiliki perilaku demokratis, inklusif dan pruralis termarjinalisasi oleh bad strongmen bekerjasama dengan elit oligarki dalam pergulatan politik di DPD PAN kota Malang; kedua, Untuk selanjutnya partai berlambang matahari yang di kons truk menjadi â€partai yang demokratis†ini di dominasi oleh bad strongmen Komsi elit berlatar belakang blater bernepotis dengan elit oligarki. Apresiasi kekuasaan dan strategi bertahan dalam kekuasaan yang mereka gunakan tatkala dominan di PAN adalah : koersif, predatoris dan Machiavellis. Ketiga, Implikasi dari apresiasi kekuasaan yang koersif, predatoris, Machiavellis dan pengelolaan sumber-sumber kekuasaan yang eksklusif, nepotism, personalism mengakibatkan : kinerja partai sangat buruk, konflik tak terkendali, banyak elit PAN yang tersingkir, simpati massa menurun konstituen merosot meskipun masih beruntung mendapat wakil di lembaga parlemen kota Malang ; keempat, Pergantian elit tahun 2003 dari Bad strongmen Komsi kepada good strongmen Ali Ja’far elit yang berlatar belakang santri dan menjadi Lora di pondok Munawwaroh, membawa semangat untuk mengubah DPD PAN kota menjadi organisai partai yang lebih terbuka dan demokratis. Penampilan Ali Ja’far yang lugu, familier, dan egaliter. Apresiasi kekuasaan Ali Ja’far yang mengutamakan persuasif-dialogis menghindari konflik dan kekerasan. Pengaruhnya sangat kuat dilingkungan elit yang mengelilinginya dimanfaatkan untuk mengubah perilaku elit tersebut agar mempimpin DPD PAN Kota Malang lebih terbuka, dan demokratis. Kelima, Sebaik apapun Elit ia tetap menyimpan apa yang disebut dengan kepentingan pribadi Ali tidak bisa menutup-nutupi keinginan pribadi agar saudaranya menjadi elit PAN dan menjadi anggota legislatif, Ali Ja’far sebagai orang kuat juga melakukan â€jalan pintas†dalam mengambil keputusan misalnya dalam memilih calon legislatif. Sekarang Ali Ja’far mengalami dilema peran karena menjadi salah satu Pimpinan Muhammadiyah di Kota Malang dan ia harus mundur dari DPD PAN, dilema yang dihadapi Ali Ja’far mundur sekarang dari PAN khawatir terjadi konflik antar elit di PAN yang tak terkendali, sementara kalau tidak mundur Ali hanya akan menjadi penghalang bagi demokratisasi di partai yang berlambang matahari ini.
This research mapped the political discourse among elites in DPD PAN of Malang city. The setting of this political discourse was caused by struggling with power and efforts to enlarge power without the outlines of party’s rules in political parties. Because of this power struggle often neglected the outlines of party’s rules so the conflicts among non competitive elites would appear through manipulating, intimidation and even coercing way. In the way of power struggling, the dominant elites of DPD PAN used manipulative and coercive way so they would use the same way in the defense strategic and appreciation of their power. The type of this research used qualitative descriptive method combined comparative method .To search information and data of political discourse in DPD PAN of Malang city , the researcher used observation and documentation technique. Inter-view and group discussion with research subject understanding the phenomena as methods are also used in this research. While to reach at the conclusion level this research used qualitative analysis. The result: First, in the year of party establishment in 1998/1999, elites who tended to democracy, inclusive and pluralism behaviors were marginalized by bad strongmen cooperated with oligarchy elites in political discourse of DPD PAN of Malang. Second, for the next way the party symbolized by “SUN†constructed to become “democracy party†dominated by bad strongmen Komsi an elite who owned blater background nepotized with oligarchy elite. Power appreciation and defense strategic which they used when dominated the party are: Coercive, predatory and Machiavelli’s power appreciating and management of exclusive power sources were bad perform, eliminated PAN elites and dropped its constituent, nevertheless the party fortunately got its representation in parliament. Fourth, the elite circulation in 2003 from Komsi the bad strongmen to Ali Ja’far the good strongmen and religious background elite had brink spirit to change DPD PAN lead to opened and democratic party. Ali Ja’far had a simple, familiar and egalitarian appearance. Ali Ja’far ‘s power appreciation gave priority to persuasive and dialogic way and avoid conflict or coercive one. The fifth, how excellent Ali Ja’far an party elite, he had a personal interest to success his brother become a PAN elite and parliament, even he used short cut to make a political decision – parliamentary candidate recruiting- as an example. Now, Ali Ja’far has a dilemma role. Having a position in the chairman of Muhammadiyah of Malang City give him a consequence to retreat from DPD PAN. The dilemma is if Ali Ja’far retreated from the party, the uncontrolled conflict would rise, whereas if he maintained his position in the party, the situation will lead to undemocracy characterize.
Kata Kunci : Partai Politik,Elit Partai,Pergulatan Politik, Struggle, Elite, Party