Laporkan Masalah

Studi variasi genetik hutan tanaman Pinus merkusii Jungh. et de Vriese di Pulau Sulawesi dan di Pulau Jawa dengan metode analisis Isozim

FITRIANI, Adistina, Prof.Dr.Ir. H. Moch. Na'iem, M.Agr.Sc

2007 | Tesis | S2 Ilmu Kehutanan

Analisis isozim dilakukan pada dua populasi Pinus merkusii, yaitu populasi hutan tanaman di Pulau Sulawesi yang terdiri dari sub populasi Ponean, Koleakan dan Bone dan populasi hutan tanaman di Pulau Jawa yaitu sub populasi Janto dan Takengon. Sebagai bahan pembanding digunakan hasil analisis isozim pada hutan alam di Blengkejeren, Aceh yaitu Arul rengit, Uring, Uning, Rikit dan Kendawi, selain itu dibandingkan pula dengan hasil analisis isozim dari Hutan Tanaman yaitu Sumedang, Kebasen, Jember dan Kebun Benih Jember. Variasi genetik diteliti menggunakan tiga sistem enzim, Esterase (Est), Glutamate oxaloacetate transaminase (Got) dan Shikimate dehydrogenase (ShDH). Biji dari populasi Sulawesi dan Jawa dilakukan proses elektoforesis sehingga diperoleh gel yang nantinya dapat di staining (pewarnaan) yang kemudian diamati letak lokusnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi genetik pada hutan alam lebih besar (He = 0,3255), dibandingkan hutan tanaman di Sulawesi (He = 0,3171), hutan tanaman di Kebun Benih Jember (He = 0,2637). Secara umum rerata heterozigositas harapan adalah 0,3122. Analisis kelompok yang dilakukan menunjukkan dua kelompok yang memiliki kekerabatan dekat, yaitu pertama kedekatan antara populasi Sulawesi (Ponean, Kaleakan dan Bone) dengan kebun benih Jember (Janto dan Takengon). Kedua antara populasi hutan alam Aceh (Arul rengit, Uring, Uning, Rikit dan Kendawi) dan hutan tanaman di Jawa (Sumedang, Kebasen, Jember dan Kebun Benih Jember). Pada masa akan datang dalam pembangunan kebun benih atau daerah konservasi dapat digunakan dari biji-biji yang telah diketahui kekerabatan dan biji yang bagus untuk pengembangan masa datang sehingga nantinya diperoleh nilai jual yang tinggi baik dari segi kayu ataupun dari getahnya yang memiliki nilai jual yang tinggi.

Isozyme analysis was carried out on two population of Pinus merkusii, namely plantation forest in the Sulawesi that consisted of sub-population Ponean, Koleakan, and Bone, and the Jember’s plantation forest that consisted of subpopulation Janto and Takengon. Results of isozyme analysis in this experiment were then compared to those of natural forest Pinus merkusii in Blengkejeren, Aceh that consisted of Arul Rengit, Uring, Uning, Rikit, and Kendawi and plantation forest in Sumedang, Kebasen, Jember and Jember’s seed orchard. Genetic variation was studied using six polymorphic loci from three enzyme systems, namely Esterase (Est), Glutamate oxaloacetate transaminase (Got) and Shikimate dehydrogenase (ShDH). Results of the experiment showed that genetic variation in the natural forest is higher (He=0.3255) than those in the plantation forest of Sulawesi (He=0.3171), plantation forest of Java of sub-population Janto and Takengon (He=0.2637) and plantation forest of Java that consisted of population Kebasen, Sumedang, Jember and Jember’s seed orchard (He=0.3161). Average of expected heterozigosity (He) was 0.3122. Results of cluster analysis showed that Pinus merkusii could be classified into two groups. First group showed that Sulawesi population (Ponean, Koleakan and Bone) has close genetic relationship with Jember (Janto and Takengon). Second group indicated that there is a close genetic relationship between natural forest in Aceh (Arul Rengit, Uring, Uning, Rikit and Kendawi) and plantation forest in Java (Sumedang, Kebasen, Jember and Jember’s seed orchard). Result of the experiment suggest that subsequent experiment of genetic relationship of Pinus merkusii in Indonesia was required to sustain breeding program and genetic conservation.

Kata Kunci : Hutan Tanaman Pinus,Variasi Genetik,Pemuliaan,Pinus merkusii, isozyme, expected heterozigosity (Hs)


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.