Program pemberdayaan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan pemberantasan malaria di Kabupaten Maluku Tengah
MARASABESSY, Nur Baharia, Abdul Kadar, SKM.,M.Kes
2007 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kebij. dan Manaj. PeLatar Belakang. Penyakit malaria masih menjadi penyebab utama masalah kesehatan masyarakat yang serius karena dampaknya pada produktivitas masyarakat dan lingkaran kemiskinan. Penelitian dari berbagai negara di dunia menyimpulkan bahwa program pemberantasan malaria dengan melibatkan peran serta masyarakat dapat menurunkan angka kejadian malaria sampai setengah kejadian tahun lalu. Kondisi geografis Kabupaten Maluku Tengah membuat wilayah kabupaten ini menjadi rentan terhadap perkembangbiakan nyamuk vektor malaria. Hal ini dapat dilihat dari kejadian penyakit malaria yang tinggi dan menempati urutan kedua dari 10 penyakit terbanyak yang diderita oleh penduduk. Program pemberantasan malaria sudah dilaksanakan, namun kejadian penyakit ini tetap tinggi bahkan cenderung naik. Tujuan Penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemberdayaan masyarakat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan program pemberantasan penyakit malaria di Kabupaten Maluku Tengah. Metode Penelitian. Jenis penelitian adalah kualitatif dengan subjek penelitian kepala bidang P3&PL, pengelola program malaria bidang P3&PL Dinas Kesehatan Kabupaten Maluku Tengah, kepala puskesmas dan pelaksana program malaria di puskesmas. Teknik penentuan sampel menggunakan purposive sampling dengan 5 kriteria inklusi. Kader kesehatan diwawancarai untuk memvalidasi adanya pemberdayaan masyarakat di lokasi penelitian. Hasil Penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam perencanaan dan pelaksanaan program pemberantasan malaria, ada kegiatan pemberdayaan masyarakat. Namun dalam proses perencanaan, masyarakat tidak dilibatkan. Jenis kegiatannya adalah penemuan dan pengobatan penderita oleh kader, pembentukan pos malaria desa dan melibatkan LSM dalam pendistribusian kelambu. Penunjukan kader dilakukan oleh petugas kesehatan dan tidak melalui desa. Tugas kader adalah penemuan dan pengobatan penderita malaria, tetapi oleh pengelola program dilibatkan pada semua kegiatan program malaria. Keberadaan kader ini dirasakan sangat bermanfaat untuk keberhasilan program. Bentuk pemberdayaan dilaksanakan melalui pelatihan, sosialisasi, menjalin kemitraan dan pemberian upah. Kesimpulan. Proses perencanaan sudah sesuai modul manajemen pemberantasan malaria, pelaksanaan program disesuaikan dengan ketersediaan dana. Pemberdayaan masyarakat belum dilaksanakan secara maksimal, karena baru sebatas pembentukan dan pemanfaatan kader dan pos malaria desa serta hanya dilibatkan pada saat pelaksanaan kegiatan.
Background: Malaria still becomes the main cause of serious public health problem as it’s impact is in community’s productivity and poverty’s chain. The result of researches in the world showed that malaria control program that involves community’s participation could decrease malaria incident up to half rate in the last year. The geographical condition of central Maluku district creates this district risky toward malaria vector mosquito breeding. This could be seen from the high rate of malaria disease incident and placed in the second rank out of 10 most suffered diseases in the community. Malaria control program has been already implemented, and yet the incident of this disease is still high even increased. Objective: This research is aimed to describe community’s empowerment in the process of planning and implementation of malaria disease control and prevention program in Central Maluku district. Method: This was a descriptive research that used research subject of head division of P3&PL, Organizer of malaria program of P3&PL of District Health Office of central Maluku, head of puskesmas (primary health care) and programmer of malaria program in primary health care. Techniques to determine the sample used purposive sampling with five inclusion criterias. Health cadres were interviewed to validate the existence of community’s empowerment in the research location. Result: The research result showed that in the planning and implementation of malaria control program, there was an activity of community empowerment. Nevertheless, in the planning process, the communities were not being involved. The type of the activity was finding and medicating patient by cadre, forming village malaria post and involving NGOs in distributing bed nets. Cadre appointment was conducted by health care provider and not conducted through village. The cadre’s task was finding and treating malaria patient, and yet by programmer, the cadre was being involved in all malaria program activities. The existence of the cadres was greatly benefitied for the successfulness of the program. The form of the empowerment was conducted through training, socialization, networking and giving reward. Conclusion: The planning process was following the module of malaria control management, and the implementation program was suitable with funding availability. Community’s empowerment was not yet optimally implemented, as it was just forming and utilizing the cadres and village malaria post and just entangled in implementation activites.
Kata Kunci : Layanan Kesehatan, Pemberantasan Malaria, Pemberdayaan Masyarakat, malaria, planning, implementation, community’s empowerment.