Koordinasi pelayanan kesehatan pasca bencana gempa di Puskesmas Piyungan Kabupaten Bantul
DONA, Bella, Prof.dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc.,Ph.D
2007 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kebij. dan Manaj. PeLatar Belakang: Bencana alam gempa bumi yang terjadi di Propinsi DIY dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006 menimbulkan korban jiwa, menyebabkan banyak bangunan roboh dan rusak termasuk bangunan pelayanan kesehatan. Puskesmas Piyungan merupakan salah satu puskesmas di Kabupaten Bantul yang tidak dapat berfungsi, sehingga tidak dapat difungsikan pada hari pertama. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk. untuk mengetahui pelaksanaan koordinasi Pusksmas Piyungan dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat masa pasca bencana gempa. Metode penelitian: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif sedangkan jenis penelitiannya eksploratif . Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam yang dibantu dengan alat pedoman wawancara dan FGD. Hasil Koordinasi pelayanan kesehatan bagi korban gempa ini di wilayah kerja Puskesmas Piyungan telah dilaksanakan pada masa emergency dengan melakukan konsolidasi petugas, melakukan pendataan dan pendistribusian relawan, serta konsolidasi dengan lintas sektoral maupun Dinas Kesehatan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat korban gempa. Koordinasi setelah masa emergency yaitu dengan melakukan briefing pagi, melibatkan kader dalam program imunisasi, melaksanakan program di luar gedung dan mencari donatur untuk pembangunan kembali sarana Puskesmas. Kepemimpinan Puskesmas Piyungan bersifat administratif pada awalnya, yang berorientasi untuk menciptakan organisasi yang efektif, tetapi dalam keadaan bencana telah terjadi adaptasi agar tetap efektif untuk memberikan pelayanan. Pengorganisasian pada masa emergency bersifat adhokrasi dan kembali ke birokrasi yang kaku, setelah selesai masa emergency. Faktor penghambat pelayanan kesehatan paska gempa adalah keterbatasan sumber daya manusia, sarana, dan stakeholder yang arogan yang tidak mau beradaptasi seperti relawan sebagian besar tidak melapor sehingga terjadi kesulitan pihak puskesmas untuk melakukan koordinasi apalagi sebagian mempunyai konsep pelayanan yang berbeda beda. Kesimpulan : Koordinasi pelayanan kesehatan masa pasca bencana gempa berjalan karena bantuan-bantuan yang luas dari pihak-pihak yang ingin membantu bencana dan layanan ini berhasil karena keterbukaan puskesmas dan saling isi dalam pemanfaatan sumber-sumber secara fleksibel.
Background: The earthquake striking the provinces of Yogyakarta Special Territory and Central Java on May 27, 2006 caused lots of casualties and damages of infrastructure, including health service facilities. Piyungan health center as one of health centers in Bantul District was seriously damaged so that it could not operate the first day post earthquake. Objective: The study was meant to identify the implementation of Piyungan health center coordination in the provision of health services for the community post earthquake. Method: This was a qualitative study with explorative approach. Primary data were obtained from indepth interview supported with interview guide and focus group discussion. Result: Coordination of health services for earthquake casualties at the working area of Piyungan health center had been carried out during emergency period through consolidation of staff, volunteer documentation and distribution and across sectoral consolidation with the Health Office. Coordination post emergency period was carried out through morning briefing involving cadres of immunization program, external program and seeking for donors for rebuilding health center facilities. Leadership of Piyungan health center used to be administrative and focused on the running of effective organization; however, after the calamity the center adapted to effective provision of services. The organization during emergency period was flexible but turned to become rigid as before when the emergency was over. Factors whic h inhibited health services post earthquake were limited human resources and facilities and arrogant stakeholders who were unwilling to adapt to the situation as well as some volunteers who did not report to the center so that coordination was hard to do. The coordination was difficult to do because some volunteers had different concept of service. Conclusion: Coordination of health services post earthquake could run well due to external supports provided for Piyungan health center. The service was well-functioning because of openness of the center and flexible use of resources available.
Kata Kunci : Layanan Kesehatan,Koordinasi Puskesmas,Gempa