Hubungan antara kadar Plumbum (Pb) dan Hipertensi pada Polisi Lalu Lintas di Kota Manado
PASORONG, Mery Bidangan, dr. Haripurnomo K., MPH.,DrPH
2007 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Field Epidemiology TPendahuluan: Hipertensi dibedakan menjadi dua bagian yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Faktor risiko yang berhubungan dengan terjadinya hipertensi primer, diantaranya faktor genetik, umur, jenis kelamin, merokok, alkohol, obesitas, inaktifitas dan polusi udara. Polusi udara dapat bersumber dari kendaraan bermotor yang mengandung logam plumbum (Pb). Pb dapat masuk ke tubuh melalui inhalasi, makanan dan minuman serta absorbsi melalui kulit. Efek Pb bagi kesehatan antara lain menyebabkan peningkatan tekanan darah (hipertensi), kerusakan pada otak, kerusakan pada saraf, dapat menurunkan tingkat Intelligence Quotient (IQ) pada anak dan keguguran kandungan serta kerusakan sistem reproduksi pria. Populasi yang berisiko tinggi terpapar Pb adalah polisi lalu lintas yang bekerja di jalan raya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar Pb dalam darah dengan kejadian hipertensi pada polisi lalu lintas di Kota Manado. Metode Penelitian: Rancangan penelitian ini adalah rancangan potong lintang (cross sectional study). Penelitian dilakukan terhadap 96 sampel polisi lalu lintas yang bekerja di jalan raya dan 96 sampel polisi yang bekerja di kantor pada Poltabes Manado. Pengambilan sampel adalah secara random. Analisis data yaitu deskripsi variabel penelitian, analisis univariat dan multivariat. Hasil: Analisis univariat menunjukkan bahwa kadar Pb dalam darah mempunyai hubungan secara bermakna (p<0,05) dengan terjadinya hipertensi (OR=6,50). Pada analisis multivariat kadar Pb dalam darah mempunyai hubungan secara bermakna dengan terjadinya hipertensi (p<0,05), Nilai OR=7,42 (95% CI 2,58-21,31), menerangkan bahwa polisi yang memiliki kadar Pb dalam darah ≥ 6,27 μg/dL memiliki risiko sebesar 7,42 kali lebih tinggi untuk mengalami hipertensi dibandingkan dengan polisi yang kadar Pb dalam darah <6,27 μg/dL, setelah mengendalikan lama dinas, lama kerja, riwayat bapak/ibu yang hipertensi, aktifitas olahraga dan merokok. Setelah mengendalikan lama dinas dan lama kerja, hubungan antara kadar Pb dalam darah dengan kejadian hipertensi tidak menunjukkan kemaknaan statistik (p>0,05), akan tetapi dengan melihat nilai Odds Ratio (OR) maka polisi lalu lintas yang bekerja lebih dari 8 jam per hari memiliki risiko 2–2,4 kali lebih tinggi untuk mengalami hipertensi dibandingkan dengan polisi yang bekerja di kantor. Riwayat bapak/ibu yang hipertensi, tidak berolahraga dan merokok juga mening-katkan risiko seorang polisi lalu lintas untuk mengalami hipertensi. Kesimpulan: Ada hubungan antara kadar Pb dalam darah dengan terjadinya hipertensi, setelah mengendalikan lama dinas, lama kerja, riwayat bapak/ibu yang hipertensi, aktifitas olahraga dan merokok.
Background: Hypertension can be divided into two types, i.e. primary and secondary hypertension. Risk factors related to incidence of essential hypertension, among others are age, sex, smoking, alcohol, obesity, inactivity and air pollution. Air pollution can derive from motor vehicles and air which contains plumbum (Pb). Pb may enter the body through inhalation, foods, drinks and absorption through skin. The effects of Pb for health are blood pressure elevation (hypertension), brain damage, neural damage, decrease of intelligence quotient in children, miscarriage and damage of male reproductive system. Population with high risk Pb exposure are traffic police working on the road. Objective: The objective of the study was to identify relationship between Pb level in the blood and prevalence of hypertension among traffic police in Manado Municipality. Method: The study used cross sectional design. Sample consisted of 192 subjects or study participants: 96 traffic police working on roads and 96 police working at the office of Manado Capital city Police. Study participants were chosen using simple random sampling technique. Data were analyzed descriptively, using univariable and multivariable analyses. Result: The result of univariate analysis showed that Pb in blood had significant relationship (p<0.05) with incidence of hypertension (OR=6.50). The result of multivariate analysis showed that Pb in blood had significant relationship with incidence of hypertension (p<0.05). The value of OR=7.42 (95% CI 2.58-21.31) indicated that policemen having Pb level in blood ≥ 6.27μg/dl had 7.42 times higher risk in suffering from hypertension than those with Pb level in blood < 6.27 μg/dl after being controlled with length of on duty, length of work, mother's/ father's history of hypertension, sports activities and smoking. Although after being controlled with length of on duty and length of work the relationship between Pb level in blood and incidence of hypertension was statistically insignificant (p>0.05), by looking at the value of Odds Ratio (OR) it could be identified that traffic policemen working more than 8 hours/day had 2 – 2.4 times higher risk of suffering from hypertension than those working in the office. Mothers'/father's history of hypertension, sports inactivities and smoking also increased risk of hypertension incidence among traffic policemen. Conclusion: There was relationship between Pb level in blood and incidence of hypertension after being controlled with length of on duty, length of work, mother's/father's history of hypertension, sports activities and smoking.
Kata Kunci : Epidemiologi,Hipertensi,Kadar Pb,Polusi Lalu Lintas,Plumbum (Pb) level, hypertension, traffic policeman