Laporkan Masalah

Faktor lingkungan pemukiman setelah Tsunami dan dampaknya terhadap kasus malaria di Kabupaten Bireun Propinsi Nangroe Aceh Darussalam

BASTIAN, Prof.Dr.dr. Soebijanto

2007 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Kerja (Ilmu Kesehatan Lingkungan

Malaria tidak hanya menimbulkan gangguan kesehatan, tetapi juga menyebabkan kematian, menurunkan produktifitas kerja. Di negara berkembang, termasuk Indonesia meningkatnya malaria erat kaitannya dengan kekurangan gizi, krisis ekonomi, kerusuhan dan bencana alam. Hampir 20 propinsi di Indonesia terjangkit malaria, 11 juta orang diantaranya tinggal di pulau Jawa dan Bali. Annual Parasite Incidence (API) 0,12 permil pada tahun 1997 meningkat menjadi 0,38 permil pada tahun 2001 di Jawa dan Bali. Annual Malaria Incidence (AMI) Kabupaten Bireuen: 2,79 permil pada tahun 2003, menjadi 3,61 permil pada tahun 2004, sedangkan tahun 2005 meningkat menjadi 3,82 permil. Bencana Tsunami menyebabkan gelombang air laut yang masuk ke daratan dan bercampur dengan air tawar yang ada di daratan, pada salinitas tertentu akan menjadi tempat perindukan vektor malaria Anopheles sundaicus. Tujuan untuk mengetahui dampak faktor lingkungan fisik, lingkungan biologi setelah Tsunami dan perilaku masyarakat terhadap kasus malaria. Penelitian ini menggunakan cross sectional dan menerapkan pendekatan observasional. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Jeumpa dan Gandapura Kabupaten Bireuen. Variabel lingkungan fisik; genangan air payau menunjukkan bahwa adanya pengaruh terhadap kasus malaria (OR=12.267 dan p=0,000), sedangkan kolam, pH air, dan salinitas air (kadar garam) tidak berpengaruh terhadap kasus malaria. Variabel lingkungan biologi; keberadaan kandang ternak menunjukkan bahwa adanya pengaruh terhadap kasus malaria (OR=4,250 dan p=0,012), sedangkan ganggang/lumut/tanaman air, musuh alami (predator) tidak berpengaruh terhadap kasus malaria. Variabel perilaku masyarakat; kegiatan di luar rumah pada malam menunjukkan bahwa adanya pengaruh terhadap kasus malaria (OR=3,710 dan p=0,025), penggunakan kelambu menunjukkan bahwa adanya pengaruh terhadap kasus malaria (OR=3,889 dan p=0,023). Lingkungan fisik yaitu genangan air payau yang memberikan dampak terhadap kasus malaria. Lingkungan biologi yaitu keberadaan kandang ternak yang memberikan dampak terhadap kasus malaria. Perilaku masyarakat yaitu kegiatan diluar rumah pada malam hari, tidak menggunaan kelambu memberikan dampak terhadap kasus malaria di Kecamatan Jeumpa dan Gandapura Kabupaten Bireuen.

Background: Malaria can cause not only health problems but also deaths and decreased work productivity. In the developing countries including Indonesia the increase of malaria cases is closely related to under nourishment, economic crisis, riots and natural disasters. Malaria strikes in nearly 20 provinces of Indonesia and as many as 11 million people living in Java and Bali suffer from it. Annual Parasite Incidence (API) of 0.12 per mil in 1997 increased to 0.38 per mil in 2001 in Java and Bali. Annual Malaria Incidence (AMI) of 2.79 per mil in 2003 at the District of Bireuen increased to 3.61 per mil in 2004 and 3.82 per mil in 2005. Tsunami calamity has caused sea water to enter land and mix with land water of which at certain salinity will become Anopheles sundaicus malaria vector brood. Objective: To identify the impact of physical and biological environment factors post tsunami and behavior of the community to malaria cases. Method: The study was observational with cross sectional design carried out at subdistrict of Jeumpa and Gandapura, District of Bireuen Result: Physical environment variable of briny water puddle affected malaria cases (OR=12.267 and p=0.000); whereas ponds, water pH and salinity did not affect malaria cases. Biological environment variable of the presence of stalls affected malaria cases (OR=4.250 and p=0.012); whereas algae/moss/water plants and predators did not affect malaria cases. Community behavior variable of external activities during the night affected malaria cases (OR=3.710 and p=0.025), and using mosquito nets affected malaria cases (OR=3.889 and p=0.023 Conclusion: Physical environment of briny water puddle affected malaria cases. Biological environment of the presence of stalls affected malaria cases. Community behavior of having external activities during the night and not using mosquito nets affected malaria cases at the Subdistrict of Jeumpa and Gandapura, District of Bireuen.

Kata Kunci : Kesehatan Lingkungan,Malaria,Tsunami, physical environment, biological environment, community behavior, malaria


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.