Hubungan antara indeks standar pencemar udara dengan kejadian infeksi saluran pernafasan akut pada balita kota Medan tahun 2005
BANGUN, Arapenta, Prof.Dr.dr. Soebijanto
2007 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Kerja (Ilmu Kesehatan LingkunganLatar Belakang : Perkembangan industri dan peningkatan jumlah kendaraan bermotor di kota besar mengakibatkan kualitas udara ambien menurun dan tidak dapat memenuhi peruntukannya. Kualitas udara enam kota besar di Indonesia tahun 2004 menunjukkan kondisi baik hanya 22-62 hari dalam setahun atau 17 % dari 365 hari. Peningkatan kadar polutan di udara yang digambarkan dengan angka Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dapat menimbulkan gangguan kesehatan khususnya saluran pernafasan manusia. Pola penyakit di Puskesmas Kota Medan menunjukkan ISPA merupakan penyakit tertinggi dengan jumlah penderita sebesar 382.314 orang (46,3 %) kunjungan pasien rawat jalan di Puskesmas. Tujuan : Untuk menganalisis hubungan antara ISPU dengan kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut balita di kota Medan tahun 2005. Metode : Penelitian ini merupakan jenis penelitian survey analitik untuk mengetahui gambaran empiris korelasi faktor resiko dengan efek menggunakan data ekologi/lingkungan dengan rancangan cross sectional. Analisis data dengan uji statistik regresi linier. Hasil : Partikulat debu (PM10) merupakan konsentrasi parameter ISPU yang paling sering dilaporkan tertinggi diantara parameter ISPU lainnya yaitu selama 237 hari dari 358 hari pengukuran. Hasil uji regresi linier mendapatkan parameter ISPU PM10 dan karbon monoksida (CO) memiliki hubungan linier yang signifikan dengan kejadian ISPA balita (pValue < p α 0,05). Sedangkan faktor klimatologi curah hujan dan kelembaban memiliki hubungan signifikan dengan kejadian ISPA balita di kota Medan tahun 2005. Tingkat kandungan partikulat debu dan CO di udara ambien kota Medan yang cukup tinggi diperkirakan berasal dari pembuangan gas industri/pabrik dan kendaraan bermotor.
Background: Industrial development and increased number of motor vehicles in big cities cause low quality of ambien air and standard of health. Quality of air in six big cities of Indonesia in 2004 shows good condition only as many as 22 – 62 days a year or 17% of 365 days. The increase of air pollutant level as described in Pollutant Standard Index may cause health problems especially in human respiratory tract. Disease pattern at Medan Municipal Health Center indicates that acute respiratory infection is the major disease with as many as 382,314 patients (46.3%) who visit outpatient service of the center. Objective: To analyze the relationship between Pollutant Standard Index (PSI) and prevalence of Acute Respiratory Infection (ARI) among children under five at Medan Municipality in 2005. Method: The study was an analytical survey to find out empirical overview of the relationship between risk factors and effects using ecological/environmental data with cross sectional design. Data analysis used linear regression statistical test. Result: Dust particle (PM10) was PSI parameter concentrate most frequently reported among other PSI parameters, ie. as many as 237 out of 358 days. The result of linear regression test showed that PM10 and monoxide carbon (CO) PSI parameter had significant linear relationship with prevalence of ARI among children under five (p value < pô€‚0.05). Climate factors of rainfall and humidity also had significant relationship with prevalence of ARI among children under five at Medan Municipality 2005. High level of PM10 and CO in ambien air of Medan Municipality was suspected to come from exhaust of industrial activities and motor vehicles.
Kata Kunci : Kesehatan Lingkungan, Pencemaran Udara, Infeksi Pernafasan Akut, Balita