Strategi adaptasi penghuni di barak pengungsian Lhoong Raya Kecamatan Banda Raya Kota Banda Aceh
PHA, Muhammad Ichsan Syahputra Nyak, Ir. Kawik Sugiana, M.Eng.,Ph.D
2007 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan DaerahAkibat bencana gempa dan tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu, dari 3.859,51 Ha total luas pemukiman di Kota Banda Aceh, seluas 2.884,54 Ha atau sekitar 73,7 % mengalamai kerusakan. Keadaan itu memaksa ratusan ribu orang yang selamat untuk mengungsi karena kehilangan tempat tinggal. Relokasi pengungsi ke barak atau hunian sementara Lhoong Raya menyebabkan penghuni harus menyesuaikan diri atau beradaptasi terkait dengan kondisi bangunan dan fasilitas barak, sarana dan prasarana lingkungan dan lingkungan sosial, yang berbeda dengan keadaan permukiman mereka sebelumnya. Oleh karena itu agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya, penghuni barak membutuhkan suatu strategi atau cara-cara beradaptasi, yaitu pilihan tindakan yang logis dan mampu mereka lakukan untuk tetap bertahan di barak Penelitian ini bertujuan untuk menemukan strategi adaptasi yang dilakukan oleh penghuni di Barak Pengungsian Lhoong Raya, Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh, serta mengetahui bagaimana hubungannya dengan keputusan untuk bertahan atau pindah dari barak. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan pendekatan analisis induktif. Pendekatan secara induktif memungkinkan peneliti mengeksplorasi setiap temuan di lapangan. Penelitian dilakukan dengan observasi dan wawancara mendalam (indepth interview). Sampel dipilih secara purposive dan diarahkan oleh landasan teori. Pemilihan Informan dilakukan atas dasar informan kunci (key informan) pertama. Informasi yang diperoleh dari seorang key informan kemudian dikonfirmasi kembali kepada informan kunci (key informan) berikutnya, sehingga diperoleh pengembangan atas informasi terdahulu. Teknik yang dikenal dengan snow ball sampling ini baru berhenti setelah diperoleh kejenuhan informasi. Hasil penelitian menemukan adanya strategi adaptasi yang dilakukan oleh penghuni barak yaitu: (1) penyesuaian fisik dan lingkungan, (2) penyesuaian pada perilaku agar sesuai dengan lingkungan, (3) tindakan diam, menunggu dan mampu bertahan. Dengan kata lain, strategi adaptasi yang mereka lakukan adalah untuk dapat bertahan dengan berbagai keterbatasan, tekanan internal (personal) dan eksternal (lingkungan) di barak. Jika tidak, mereka akan memilih menghindar atau bahkan pindah permanen dari barak, sebelum rumah yang dijanjikan pemerintah selesai dibangun. Dalam kenyataannya, ditemukan adanya faktor dorongan dari luar individu maupun komunitas penghuni barak (intervensi) baik yang dilakukan oleh perorangan khususnya oleh pimpinan barak, maupun tindakan kolektif sebagai hasil mufakat. Dengan demikian strategi adaptasi yang dilakukan penghuni tidak hanya sebagai hasil dari proses penalaran alamiah semata yang melalui proses belajar dalam kurun waktu relatif lama, akan tetapi dibutuhkan intervensi agar strategi adaptasi yang dilakukan penghuni barak sesuai dengan kultur masyarakat Aceh yang agamis, sekaligus mengurangi potensi konflik. Intervensi baik secara langsung maupun tidak langsung tersebut akan membentuk suatu pola strategi adaptasi yang lebih baik.
Due to earthquake and tsunami disaster on 26th December 2004, about 3.859,51 hectares of 3.859,51 settlements were destroyed. This is equal to about 73, 7 % of total damage of settlement area in Banda Aceh. This condition forced hundred thousands of people migrate to other location. Relocation the migrants to the temporary shelter in Lhoong Raya forced them to adapt to the new environment. The relocation to the temporary shelter in Lhoong Raya caused migrants adjust in accordance to the facility and shelter condition, infrastructures and social environment different compare to the situation before. In order to adjust to the new environment, they need to find several adaptation strategies, so that they will survive in the new environment. The objective of this research is to find out the strategy that the dwellers do in the Lhoong Raya shelter, Banda Raya municipality of Banda Aceh. The research utilized a qualitative method with inductive analytical approach. Survey was done by observation and in-depth interview. Samples were chosen by purposive sampling. The information that received from the first key informant confirmed to the next key informant subsequently, until information obtained is saturated. The research discovered that there were several strategies used by the dwellers, including: (1) physical adjustment to the environment, (2) behavioral adjustment to the environment, (3) passive action, wait and remain to survive. Trough that strategies, the dwellers could survive with numerous lacks of resources, internal depression (personality), and external pressures. Other wise, (4) they will be preferred to withdrawal or further more migration, before the permanent housing that the government built will be finished. The study finds that both personal and collective factors support their strategies. It means that the adaptation strategies they were adapted not only based on the natural process only, but they depended also on the collective intervention from the community’s level. Such intervention would help individuals to find their own adaptation strategies.
Kata Kunci : Barak Pengungsian,Perilaku Pengungsi,Strategi Adaptasi