Persepsi masyarakat dan pengelolaan ruang terbuka hijau di Kota Bandung
UTAMA, Raditya Sukma, Ir. Leksono Probo Subanu, Ph.D.,MURP
2007 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan DaerahRuang terbuka hijau yang berkualitas baik berperan penting dalam meningkatkan kualitas kehidupan suatu kota, membuat lingkungan lebih nyaman untuk ditinggali, menyediakan tempat bersantai, berolahraga dan bersosialisasi dengan orang lain. Manfaat ruang terbuka hijau lainnya adalah untuk mengurangi polusi, mengatur iklim mikro, sebagai daerah konservasi, membentuk budaya dan menciptakan kesan dari suatu kota. Ruang terbuka hijau publik di Kota Bandung mengalami penurunan kualitas dan kuantitas. Cakupannya tahun 2006 hanya berjumlah 1.154,93 hektar (6,91 %) dari total luas Kota Bandung. Keterbatasan pemerintah dalam pembiayaan dan sumber daya manusia menuntut peran serta yang lebih aktif dari swasta dan masyarakat dalam pengelolaan ruang terbuka hijau. Penelitian dilakukan di Kota Bandung. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi karakteristik ruang terbuka hijau dan upaya pengelolaannya oleh pemerintah, mengidentifikasi persepsi masyarakat yang berkaitan dengan ruang terbuka hijau, mengidentifikasi pengaruh karakteristik masyarakat terhadap persepsinya serta mengkaji keterkaitan antar fokus penelitian. Data primer berasal dari penyebaran kuesioner, wawancara dengan pemerintah kota dan observasi lapangan. Data sekunder didapat dari publikasi dan data statistik yang dimiliki pemerintah kota. Data dalam penelitian ini dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif untuk kemudian dilakukan inferensi. Analisis statistik yang digunakan adalah frekuensi dan tabulasi silang untuk menganalisis data karakteristik ruang terbuka hijau dan hasil penyebaran kuesioner kepada responden. Uji independensi Chi Square dan koefisien kontingensi menggunakan SPSS 13.0 dilakukan untuk melihat hubungan yang terjadi antar variabel penelitian. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan beberapa hal berikut : 1. Luas ruang terbuka hijau belum memadai dan penyebarannya belum merata. Mayoritas berukuran kecil, berfungsi pasif dan jumlahnya berimbang antara yang terawat dan tidak terawat. Taman di pelosok kota dan lokasinya strategis lebih terawat daripada di komplek perumahan. Ruang terbuka hijau masih lebih berfungsi untuk menunjang estetika kota. 2. Kebijakan dan program pemerintah sudah mendukung upaya peningkatan kualitas dan kuantitas ruang terbuka hijau. Kendala yang dihadapi adalah belum sebandingnya anggaran dan kuantitas pegawai dengan jumlah dan luas ruang terbuka hijau yang dikelola, sehingga persepsi masyarakat belum direspon sepenuhnya oleh pemerintah. Pemerintah cenderung lebih memperhatikan peningkatan kuantitas daripada peningkatan kualitas ruang terbuka hijau yang sudah ada. 3. Persepsi masyarakat dalam memahami manfaat, prioritas, harapan tentang kualitas, fungsi dan program yang berkaitan dengan ruang terbuka hijau sudah cukup baik. Masyarakat belum puas akan kondisi ruang terbuka hijau sehingga tidak terlalu aktif untuk memanfaatkan fungsi ruang terbuka hijau. 4. Persepsi masyarakat tentang ruang terbuka hijau tidak dipengaruhi oleh karakteristik masyarakat. Persepsi tentang ruang terbuka hijau tidak ditentukan oleh perbedaan usia, tingkat pendidikan, penghasilan, lama tinggal, asal daerah dan pekerjaan masyarakat 5. Pemerintah mengelola ruang terbuka hijau lebih baik daripada masyarakat. Masih ada kecenderungan menganggap hal ini sebagai tugas pemerintah semata. Persepsi masyarakat yang sudah baik belum dimanfaatkan optimal oleh pemerintah. Dengan keterbatasan pemerintah, ruang terbuka hijau belum memuaskan masyarakat dan belum berfungsi optimal.
Good quality green space plays vital roles in enhancing the quality of urban life. Green spaces help to make neighborhoods more comfort to live in and provide opportunities for city residents to relax, take exercise, and meet friends and neighbors. Other benefits of green space are as pollution controller, microclimate controller, conservation area, and optimize the culture and image of the city. The quality and quantity of green spaces in Bandung City has declined. In 2006, it covers 1.154,93 hectares area, only 6,91 % of total area. The government limitations in financing and human resources make people and private sector should be more involved in green space management. The objectives of this research are to identify the characteristic of green spaces and how the government manages them; to identify the resident’s perception about green space; to identify how resident’s characteristics influence resident’s perception; and to identify the correlation among resident’s perception, government’s management and green space characteristics. Primary data come from questionnaire result, interview with the government and field observation. Secondary data come from publications and statistical data owned by the government. Data used in this research analyzed qualitatively and quantitatively. Statistical analyses used are frequency and cross-tabulation for secondary data related to green space and primary data from questionnaire results. To see correlations among research variables, Chi-Square tests and contingency coefficient test also done. Some conclusions of this research are: 1. The green spaces’ area is still insufficient and not spread over the entire city. Green spaces majority are small, have passive function, and equal amount between the good and bad condition. Green spaces in the entire city area are relatively in better condition than in housing complex. The green spaces are functioning more for city’s aesthetics. 2. Government’s policy and program support the efforts in making the better green spaces’ quality and quantity. The problems are inequality in budget and human resource compare to green space to manage. The people’s perceptions are still not fully responding by the government. 3. Residents understand quite well about the benefit, priority, function and program related to green space. Residents still unsatisfied with the green spaces condition, so they interact inactively with the green spaces. 4. Resident’s characteristics do not influence their perceptions about green space. The perception about green space is not determined by age, education level, incomes, and length of stay, originality and occupation of the residents. 5. Government manages the green space better than the residents do. Many residents still think that the green space management is government’s duty only. The government still cannot optimize the quite well resident’s perception about green spaces. The government’s limitations make the green spaces still cannot satisfy the residents and not optimally functioned.
Kata Kunci : Ruang Terbuka Hijau,Partisipasi Masyarakat,Pengelolaan, green space, resident’s perception, government’s management