Peran modal sosial dalam pelaksanaan Program Hutan Kemasyarakatan :: Studi kasus di Kabupaten Gunungkidul
SUSILOWATI, Rita, Ir. Leksono Probo Subanu, Ph.D.,MURP
2007 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan DaerahKabupaten Gunungkidul, D.I.Yogyakarta dikenal sebagai daerah tandus dan memiliki ribuan hektar lahan kritis. Kabupaten ini dinilai berhasil dalam merehabilitasi dan mereboisasi hutan negara melalui Program Hutan Kemasyarakatan (HKm). Ada 35 Kelompok Tani HKm (KTHKm) yang terlibat. Akan tetapi menurut penilaian Tim Monitoring, tidak semua kelompok tani dinilai berhasil dalam pelaksanaannya, padahal seperti lazimnya program pemerintah, perlakuan yang diberikan sama kepada seluruh KTHKm. Penulis menduga bahwa tinggi rendahnya tingkat modal sosial mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan program. Penelitian yang bersifat deduktif kualitatif ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara perbedaan modal sosial dengan tingkat keberhasilan pelaksanaan Program Hutan Kemasyarakatan. Untuk itu diambil dua sampel KTHKm, yaitu Tani Manunggal yang mewakili kelompok yang berhasil (peringkat 1) dan Sumber Wanajati IV yang mewakili kelompok kurang berhasil (peringkat 27). Tulisan disajikan secara deskriptif berdasarkan hasil temuan di lapangan. Kemudian dianalisa dengan metode triangulasi dan terakhir dilakukan pembandingan antara teori dengan hasil temuan. Diperoleh kesimpulan, (1) petani menanam pohon jati sebagai tanaman pokok di lahan HKm, konsekuensinya petani harus memperoleh pendapatan diluar tumpangsari mulai tahun ke-enam. Kelompok tani juga diwajibkan membentuk badan hukum koperasi agar nantinya dapat memanen tanaman jati. (2) Elemen modal sosial yang mendukung keberhasilan pelaksanaan program adalah sejarah, aktor kunci, kepercayaan, motivasi, partisipasi, jaringan kerja, keamanan, rasa memiliki, kemampuan berorganisasi, dan kemampuan mengelola usaha. (3) KTHKm Tani Manunggal memiliki tingkat modal sosial yang lebih tinggi dari KTHKm Sumber Wanajati IV. (4) Tingkat modal sosial yang tinggi berhubungan dengan kesiapan kelompok tani melaksanakan program paska tahun kelima. Disamping itu, peran aktif pemerintah untuk membuat, menindaklanjuti dan melaksanakan kebijakan yang dapat melancarkan keberhasilan proses pelaksanaan Progam HKm sangat diharapkan
Gunung Kidul regency is known as infertile area and have thousands of hectares of critical land in Yogyakarta. It is assessed in rehabilitating and reforestation of state forest through social forest program (HKM). There are 35 groups of farmers HKM (KTHKm) concerned. However, based on the assessment of monitoring team, not all farmer group assessed succeed in its implementation, though as a rule governmental program, treatment is given the same to all of KTHKm. The writer anticipates that the level of social capital influence the success of program implementation. This deductive-qualitative research aims to explain the relationship between the differences of social capital and the success of social forest program implementation. The data are taken from two samples KTHKm. KTHKm ‘Tani Manunggal’ is successful group (rank 1) and KTHKm ‘Sumber Wanajati IV’ is less successful group (rank 27). This research is presented descriptively based on the findings in the field. Then, it analyzes with triangulation method and finally compares theories with the findings. The research finds that, (1) the farmer plant teak as main plant in HKM field, its consequence that farmer have to get the earnings of outside intercropping from the sixth year. The groups are also obliged a co-operation in order to harvest later. (2) The social capital elements that supporting program are history, key actor, trust, motivation, participation, network, safety, sense of belonging, organizational ability, manage the effort ability. (3) Social capital of KTHKm Tani Manunggal is higher than Sumber Winajati IV. (4) The level of social capital is related to readiness the farmer to implement past-program activities. Beside that, the government plays important role to follow-up and execute the policy in an effective process.
Kata Kunci : Program Hutan Kemasyarakatan,Modal Sosial,social capital, social forest