Formulasi strategi Express Taksi
GAOL, Hiap Lumban, Harsono, Dr.,M.Sc
2007 | Tesis | Magister ManajemenBahan bakar minyak sebagai komponen tersebesar dari biaya operasional industri transportasi, terutama industri taksi yakni sebesar 26%, sangat terpukul dengan kebijakan ekonomi yang dibuat oleh pemerintah pada bulan Oktober 2005. Kenaikan ini ibarat pepatah ‘sudah jatuh ditimpa tangga pula’. Hal ini bisa diibaratkan karena disamping kenaikan biaya operasinal perusahaan, ternyata daya beli masyarakatpun menurun karena memang belum sepenuhnya pulih dari krisis ekonomi, juga karena efek multiplier dari kenaikan bahan bakar tersebut. Banyaknya armada taksi yang beredar di DKI Jakarta, diduga salah satu penyebebab banyaknya armada taksi yang kosong baik di jalan untuk mencari penumpang maupun di pangkalan-pangkalan seperti mal, hotel, stasiun, bandara maupun di pinggir jalan. Akan tetapi, tidak sepenuhnya alasan ini benar karena ternyata Express Taksi sebagai pemain nomor tiga terbesar pada industri taksi, mampu bersaing dan bahkan memimpin pasar saat ini. Salah satu keunggulan dari Express Taksi sehingga memimpin pasar adalah karena faktor tarif (harga) dimana Express Taksi menerapkan untuk flag fall sebesar empat ribu Rupiah, sedangkan tarif perkilo meternya sebesar seribu delapan ratus Rupiah. Blue Bird yang sebelumnya sebagai pemimpin pasar menerapkan flag fall sebesar lima ribu Rupiah dan tarif perkilo meternya dua ribu Rupiah. Presiden Taksi yang telah berganti merek menjadi Prestasi sebenarnya memiliki jumlah yang paling besar dari segi armada akan tetapi karena kepemilikan armada adalah perorangan, maka faktor infrastruktur dan kualitas pelayanan tidak bisa diandalkan sehingga tidak dianggap sebagai pesaing oleh Express Taksi dan Blue Bird. Faktor keunggulan lain dari Express Taxi adalah strategi kemitraan dimana armada adalah milik pengemudi setelah kurun waktu tertentu. Ternyata strategi ini sangat mempengaruhi kinerja perusahaan Express Grup, terutama pada biaya pemeliharaan. Dengan pendekatan kepemilikian, ternyata pengemudi lebih berhati-hati mengendarai armada taksi sehingga biaya pemeliharaan turun secara drastis. Berdasarkan analisis SWOT, posisi Express Grup saat ini berada pada kuadran I yang berarti resiko rendah dan pertumbuhannya yang positif, sehingga saatnya untuk melakuan diversifikasi. Express Grup saat ini telah melakukannya salah satunya adalah dipakainya armada Express sebagai ruang iklan. Di sampang itu juga, karena Express adalah merupakan salah satu anak perusahaan Rajawali, maka Express dengan mudah bisa melakukan aliansi strategi dengan perusahaan lain di bawah payung Rajawali.
Gasoline as a major expense for transportation industry epecially taxi which 26%, is affected by government policy to increase gasoline on October 2005. The policy affects high inflation for business especially taxi. And multiplier effect of the policy is decreasing of income and also due to economic crisis is not normal as yet. The number of taxies operate in Jakarta also suspected as one of factor why so many taxi cab is empty even on the street, mal, hotel, station, port. For Express Taksi in not truly right since Expess Taksi as the number third taxi operator is compete and leading in the market recently. On of the key success factor of Express Taksi to lead the market is tariff. Formerly, Express is applied the new tariff which flag fall is five thousand Rupiah and the kilometre tariff is two thousand and five hundred. The intention to increase this tariff is to cover hyper inflation due to gasoline price. Express evaluated their strategy and decided to apply the old tariff which for flag fall is four thousand Rupiah and the kilometre tariff is one thousand and eight hundred Rupiah. And after, demand for Express Taksi was increased. Other taxi operator could not make that strategy due to some factor to be observed in advance. Another key success factor of Express Taksi is partnership strategy, which the cab is owned by driver after certain of time. And this strategy is fit to the condition, it shown by the decreasing of maintenance cost because the driver is more careful to drive so the accident is decrease significantly. According to SWOT analysis, current position of Express at I quadrant, which means that less risk and growth and alternative solution is diversification of business related or unrelated.
Kata Kunci : Strategi Perusahaan,Armada Taxi,Analisis SWOT, partnership strategy, decreasing of tariff, improvement of service, diversification, competition