Laporkan Masalah

Alokasi sumberdaya rumahtangga petani secara optimal di wilayah eks Proyek PLG Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah

SUHARNO, Promotor Prof.Dr. Dibyo Prabowo, M.Sc

2007 | Disertasi | S3 Ilmu Pertanian

Dihentikannya Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektar di Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun 1999 berdampak pada tidak adanya bantuan dan pembinaan kepada para transmigran yang baru dimukimkan di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan: (1) mengkaji keragaan usahatani; (2) menganalisis alokasi sumberdaya rumah tangga petani dan pola usahatani yang dilakukan berdasarkan perbedaan jenis tanah, tipe luapan pasang surut dan asal transmigran; (3) menganalisis optimasi alokasi sumberdaya rumah tangga petani dan menyusun simulasi agar diperoleh pendapatan keluarga yang maksimal. Penelitian dilakukan di wilayah Eks Proyek PLG Sejuta Hektar di Kabupaten Kapuas Provonsi Kalimantan Tengah. Lokasi penelitian di wilayah Palingkau dengan dominasi tanah alluvial dan wilayah Lamunti dengan dominasi tanah gambut. Jumlah sampel 166 KK dipilih secara proporsional mewakili asal transmigran serta tipe luapan pasang surut, yaitu UPT Palingkau SP-1 tipe luapan A/B, UPT Palingkau SP-2 tipe luapan B, UPT Lamunti C-1 tipe luapan C dan UPT Lamunti C-5 tipe luapan D. Analisis optimasi menggunakan metode linear programming. Di wilayah Palingkau kegiatan usahatani hanya terfokus pada lahan surjan untuk bertanam sayuran dan lahan pekarangan untuk berusahatani padi sawah varietas lokal pada MT II, sedangkan lahan usaha sebagian besar tidak diusahakan. Di wilayah Lamunti pengelolaan usahatani umumnya relatif lebih baik, selain lahan pekarangan banyak pula petani yang mengusahakan lahan usaha yang berupa lahan kering untuk bertanam padi ladang dan palawija. Tidak ada perbedaan pola usahatani antara transmigran pendatang dan transmigran lokal. Pendapatan keluarga petani di wilayah yang jenis tanah dominan aluvial (Palingkau) Rp 6.905.950,- sedangkan di wilayah yang jenis tanahnya dominan gambut (Lamunti) Rp 6.597.525,- secara statistik tidak berbeda nyata. Berdasarkan asal transmigran, pendapatan keluarga petani transmigran pendatang Rp 6.568.175,- sedangkan transmigran lokal Rp 6.750.790,- secara statistik juga tidak berbeda nyata. Perbaikan teknologi usahatani dapat meningkatkan pendapatan keluarga petani sebesar 3–8%. Penggunaan lahan terluas dan tenaga kerja keluarga potensial meningkatkan pendapatan keluarga petani sebesar 13-41%, sedangkan apabila lahan yang diusahakan adalah seluruh lahan yang dikuasai petani, pendapatan keluarga petani meningkat sebesar 15-58%. Peningkatann modal dan jumlah ternak yang diusahakan dengan kendala lahan terluas dapat meningkatkan pendapatan keluarga petani sebesar 26-120%, sedangkan apabila luas lahan yang diusahakan adalah seluruh lahan yang dikuasai petani, pendapatan keluarga petani meningkat sebesar 31-140%.

Dispersing Peat Land Development Project in Central Kalimantan has affected inexistence of aids and supervision to the farmers. This research aims (1) to study the farm condition, (2) to analyze allocation of farmer’s household resources and farming system based on the different soil types, types of tidal land and migrant origins, (3) to analyze optimization of family farm resources allocation and simulations to find maximum family income. The research was done at the former Peat Land Development Project in Kapuas District Central Kalimantan, especially in Palingkau represents the dominant of alluvial soil and Lamunti represents the dominant peat soil location. Total samples are 166 farmers proportionally represent the different types of soil, migrant origins and tidal land types. In terms of tidal land type, UPT (resettlement unit) Palingkau SP-1 represents A/B tidal type, UPT Palingkau SP-2 represents B tidal type, UPT Lamunti C-1 represents C tidal type and UPT Lamunti C-5 represents D tidal type. Data analysis was done using linear programming method. In Palingkau farming activity just focused on the surjan lands to cultivate vegetable and on the home yard to cultivate local lowland rice at 2nd planting season. Most farmlands (lahan usaha) are not cultivated. In Lamunti, the farming condition is better. Besides the home yard, more farmers cultivated the farmland to grow the upland rice and some palawija. In the same settlement location generally there is no different farming system among the original settlers and migrants. Farmer family income in alluvial soil site (Palingkau) Rp 6,905,950 a year and in peat soil site (Lamunti) Rp 6,597,525 statistically not significant different. Migrant family income was Rp 6,568,525 and origin settlers family income was Rp 6,750,790, statistically not significant different either. By improvement of farming technology, family income of the farmers will be able to increase 3-8%. Change in land constraints by the largest land cultivated and potential household labors increase family income by 13-41%. If land constraints are all of owned by the farmer family income will increase 15-58%. Increasing capital and livestock ownership on the largest land will increase family income by 26-120%, and relaxing land constrains, family income will increase by 31-140%.

Kata Kunci : Usahatani,Sumberdaya Rumah Tangga Petani,Eks Proyek PLG, household resources, peat land, optimization


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.