Seni sesaji ritual Pawiwahan di Kabupaten Karangasem Bali
SURYAHADI, Anak Agung Ketut, Promotor Prof.Dr. R.. Soedarsono
2007 | Disertasi | S3 Ilmu BudayaAjaran Agama Hindu memiliki tiga kerangka dasar yaitu filsafat, etika, dan upacara atau disebut tatwa, susila, dan upacara. Ketiga landasan dasar ini terkait erat satu dengan lainnya sehingga memberikan ciri terhadap keberadaan Agama Hindu Dharma di Bali. Pelaksanaan upacara agama merupakan salah satu bentuk yadnya atau korban suci yang memerlukan sarana disebut upakara, salah satunya dinamakan bantên atau sesaji. Pembuatan bantên untuk keperluan upacara agama kemungkinan telah dimulai sejak sebelum Agama Hindu masuk ke Indonesia. Jejak-jejak perpaduan antara sistem kepercayaan lokal dengan ajaran Hindu dapat dilihat dari prilaku Umat Hindu di Bali dalam berhubungan secara religius dengan alam dan mahluk hidup selain manusia dengan menggunakan sarana bantên. Ritual pawiwahan adalah salah satu dari jenis Manusa Yadnya. Seperti halnya yadnya yang lain, pelaksanaan ritual pawiwahan juga memerlukan sarana bantên berkaitan dengan tatwa dan susila. Oleh sebab itu bantên mengandung makna tentang keinginan manusia yang diwujudkan secara visual dan estetis. Tatwa Agama Hindu yang melandasi penggunaan sesaji adalah yang berhubungan dengan ketuhanan, alam semesta, dan manusia yang bersumber dari kitab suci Wéda. Salah satu tatwa tentang ketuhanan dalam Agama Hindu Dharma berawal dari kekosongan (sunia, luang), dalam hal ini Tuhan bersifat Nirguna – tidak produktif, kemudian karena kemahakuasaanNya membelah diri menjadi dua yaitu Purusa dan Pradhana (positif dan negatif, laki-laki dan perempuan) sehingga Tuhan menjadi Saguna yang menimbulkan pencipataan alam semesta yang tersusun dari unsur material dan non-material. Kemaha-kuasaan Tuhan yang serba berpasangan dikonsepsikan menjadi prinsip Rwa Bhinedha atau dua hal yang bertentangan; berkuasa di Tri Loka (Bhur, Bwah, dan Swah) secara vertikal, dan ada di setiap penjuru mata angin secara horizontal dikonsepsikan sebagai Pengider Buwana dengan Dewata Nawa Sanga-nya. Prinsip Rwa Bhineda pada dasarnya merupakan dua kutub kekuatan yang besar. Hal ini selalu terefleksi dalam kegiatan yadnya dengan sarana penggunaan bantên ke sor (bawah) dan bantên ke luhur (atas). Manusia yang berada di tengah memiliki kewajiban untuk menyeimbangkan kedua kekuatan tersebut, dan mempertemukannya sehingga menjadi somya yang berguna bagi kesejahteraan kehidupan di bumi. Kemudian inti ritual pawiwahan adalah pembersihan sukla dan swanita agar mempelai kelak mendapatkan keturunan yang suputra melalui pengorbanan yang tulus iklas (bhakti) yang diwujudkan dalam bentuk persembahan bantên yang indah.
Hinduism has three fundamental frameworks namely religion philosophy, ethics, and ceremony or referred to tatwa, susila, and upacara . The three frameworks are related and overlapping to one another that give a characteristic to the existence of Hinduism in Bali. The execution of ceremonies is one form of yadnya or sacrifice which need a medium called upakara , one of them is offerings known as bantên It is assumed that people started to make bantên before Hinduism spread out into Indonesia. The making and usage of offerings progressive ly expand in line with the expanding of Hinduism that fused with the indigenous believe system. The fusion can be seen from how the Balinese respect other being and nature religiously by using medium of bantên. The ritual of pawiwahan is one type of Manusa Yadnya. As it is in the other yadnya, the pawiwahan ritual also needs medium of bantên that relate to tatwa and ethic. Hence, the bantên contain meanings about human desire that expressed visually. Hinduism tatwas that underlie the usage of offerings, it is the one related to God, universe, and human being, and are based on the holy book of Wéda. One of the Hindu philosophy about the God is early form of void (sunia, luang), in such condition God has the character of Nirguna - unproductive, then because of God’s omnipotence, He split Himself into two, called Purusa and Pradhana ( negative and positive, man and woman) so that God become Saguna generating of all creation in the universe structured by material and non-material substances. The omnipotence of God is always complementary and conceptualized into the principle called Rwa Bhinedha or two contradictory things. The almighty of God vertically is in Tri Loka (Bhur, Bwah, and Swah) and horizontally is conceptualized as Pengider Buwana with its nine Deities reside in nine directions which are called Dewata Nawa Sanga. The Rwa Bhineda principle is basically two powerful poles. It is always reflected in the yadnya activities with the usage of medium bantên to sor (below pole) of bantên to luhur (above pole). Human being residing in the middle is owning an obligation to balance both strength, and bring them into contact so that to become somya (ambrosia) for prosperity of life on the earth. The essence of pawiwahan ritual is actually to purify the sukla (sperm of man) and the swanita (ovum of woman) in order the couple to have suputra offsprings through honest and sincere sacrifice that is based on karma and bhakti realized in the form of devoting and dedicating the beautiful bantên.
Kata Kunci : Ritual Pawiwahan, Seni Sesaji, Kabupaten Karangasem Bali.