Makna kehadiran Rendra dan Mini Kata dd dalam Teater Modern ndonesia di Yogyakarta
YUDIARYANI, Promotor Prof.Dr. Siti Chamamah Soeratno
2007 | Disertasi | S3 Ilmu BudayaPenelitian ini merupakan upaya menganalisis makna kehadiran Rendra dan Mini Kata di dalam teater modern Indonesia di Yogyakarta. Teori yang digunakan adalah analisis tekstual pertunjukan Marco de Marinis dalam bukunya The Semiotics of Performance. Analisis tekstual pertunjukan membongkar konteks yang ada di sekitar Rendra dan Mini Kata yang menjadikan keduanya sebagai sebuah teks. Memaknai kehadiran Rendra dan Mini Kata sebagai teks pertunjukan berarti mengonstruksi suatu jaringan konteks melalui perburuan jejak-jejak tanda yang tersembunyi di sekitarnya. Jejak tersebut saling berelasi dengan menunjukkan adanya inspirasi dan pembaruan antarelemen di dalamnya. Rendra adalah sutradara teater modern Indonesia yang berpengaruh di dunia seni teater di Yogyakarta. Berbagai persoalan dalam masyarakat menjadi inspirasi kreatifnya. Kelompok teaternya, Bengkel Teater, aktif sejak tahun 1968, ketika Rendra baru saja kembali dari Amerika setelah belajar selama beberapa tahun di New York. Karya pertama mereka—dikenal dengan nama teater Mini Kata—adalah nomor-nomor teater nonverbal dan nonlinear yang merupakan pertunjukan improvisasi dengan kata-kata sesedikit mungkin tetapi terbuka untuk berbagai tafsir. Bentuk ini merupakan usaha alternatif untuk mengatasi keruwetan kata-kata dengan langsung menghadirkan suasana. Salah satu nomor Mini Kata yang sering ditampilkan Rendra dan Bengkel Teater adalah Bip Bop. Rendra dibesarkan dalam tradisi Jawa yang dipenuhi oleh kebiasaan dan aturan yang menjadikan orang tak berdaya. Rendra memberontak terhadap tradisi semacam itu. Selain mencipta Mini Kata, ia mengundang penyair, aktor, sutradara, dan seniman lainnya dari seluruh penjuru Indonesia untuk mengikuti perkemahan di pantai Parangtritis yang disebutnya dengan Perkemahan kaum Urakan, yaitu komunitas marginal. Rendra mempelajari mistik Jawa dan dari sana lah ia mengembangkan daya hidup yang membantu manusia menjadi manusia yang utuh dan mandiri. Pertunjukan Mini Kata—yang semula adalah bentuk pelatihan akting—menyumbang gagasan keilmuan dalam suatu proses kreatif, yaitu pertama mengembangkan suatu metode melatih energi alam; kedua, menghadirkan sistem pelatihan akting improvisasi; ketiga, mewujudkan teknik akting gerak indah. Pertunjukan Mini Kata menghadirkan suatu gerakan kesenian dan kebudayaan yang berhasil mengundang seluruh elemen masyarakat, di antaranya anak muda, seniman, intelektual, budayawan, dan bahkan politikus untuk memikirkan perlunya kebebasan berekspresi dan kemanusiaan.
This research aims at presenting analyses of the significance of Rendra and his Mini Kata in modern Indonesian theater in Yogjakarta. Theories applied in the research is textual analysis of performance put forward by Marco de Marinis in his book entitled The Semiotics of Performance. This analyses take part the contexts which were in Rendra’s and Mini Kata’s surroundings that have made them texts. To elucidate Rendra and his Mini Kata as texts means to construct webs of contexts by a pursuit of sign’s footprints hidden in the surroundings. The footprints were interrelated as something inspiring and innovating interrelations of the elements. Rendra is an outstanding influentially dramatists in the world of theater in Yogyakarta. Society and its dynamics were sources of his works. His theater group namely Bengkel Teater started to be active in 1968 when he just arrived home from studying theater for several years in New York. His first works, which was then renowned as Teater Mini Kata, was piece of non-verbal and non-linear theater that, as a matter of fact, improvised performance with minimal words. Yet, they were open to various interpretations. This form, as they were considered later, was that which presented the atmosphere and situation directly without verbal explanations. It was an alternative to those of using complicated words. One of the pieces was often produced called Bipbop. Rendra was raised in Javanese tradition which was full of customs, manners and traditional regulations to behave. He rebelled against that. In addition to Mini Kata, he organized poets, artists, actors, directors from all over Indonesia to have camping out in Parangtritis beach whom he named kaum urakan, the marginal community. He learned Javanese mysticism and based on which he developed daya hidup, force of life, to help people to be themselves completely and to be independent. Mini Kata which was formerly a training method for acting, had contributed ideas of scientific activities and creative process. First, to train actors natural energy; second, to inspire acting system: improvisation; third, aesthetic body movement namely gerak indah. The performance of Mini Kata had stimulated art and cultural movements that eventually invited young generations, intellectuals, culture people and politicians to understand better the importance of expression and human freedom
Kata Kunci : Teater Modern Indonesia,Rendra dan Mini Kata