Penyelenggaraan negara menurut filsafat Xun Zi
ARIF, Oesman, Promotor Prof.Dr. Lasiyo, MA.,MM
2007 | Disertasi | S3 Ilmu FilsafatPenelitian ini adalah penelitian tentang filsafat manusia menurut Xun Zi, filsuf Cina yang hidup pada 300 tahun sebelum Masehi. Manusia menurut kodratnya harus hidup bersama dalam negara, tanpa negara manusia tidak ada artinya. Menurut Xun Zi manusia mempunyai naluri dan emosi, apabila naluri manusia tersalurkan maka emosinya dipuaskan, artinya senang, apabila nalurinya tidak tersalur, emosinya terganggu, artinya tidak senang. Menurut Xun Zi sifat asli manusia adalah hidup untuk mengikuti nalurinya, dan untuk memuaskan emosinya, apabila manusia mendapat pendidikan yang benar ia dapat menyalurkan nalurinya dalam bentuk seni atau perbuatan yang tidak menyakitkan atau merugikan orang lain. Hasil belajar manusia menyalurkan naluri dalam perbuatan yang baik itu disebut budaya. Naluri manusia untuk makan enak menjadi seni memasak, naluri manusia untuk melanjutkan keturunan menjadi upacara perkawinan, naluri manusia untuk berkuasa menjadi kegiatan politik.. Menurut Xun Zi totalitas dari kegiatan kebudayaan itu mencapai bentuk tertinggi dalam membangun negara. Suatu bangsa terbukti tinggi budayanya apabila dapat membangun negara yang kuat dan kaya. Xun Zi menegaskan bahwa suatu negara bisa kuat dan kaya apabila: 1).Negara tersebut mempunyai Ideologi Pembangunan Negara yang mantap, yang wajib dipatuhi oleh seluruh rakyat.2). Mempunyai pemerintahan yang kuat dan stabil, didukung oleh rakyat.3). Ada penegakan hukum yang berlandaskan kebajikan dan keadilan .4). Pembangunan Perekonomian negara adil dan merata.5). Negara itu mempunyai sistem pertahanan dan keamanan yang kuat, prajuritnya bermoral dan terpelajar. Bentuk negara yang diinginkan adalah negara hukum. Untuk mewujudkan cita-citanya itu Xun Zi menyarankan agar semua pejabat negara dari semua lapisan harus orang yang telah dididik di perguruan Konfusianisme. Pada zaman dinasti Han (206 S M) dikeluarkan peraturan bahwa semua pejabat negara harus menempuh ujian negara dengan materi ujian isi kitab Klasik Konfusianisme, peraturan ini hanya mewujudkan sebagian harapan Xun Zi karena para calon pejabat itu hanya diuji pengetahuannya. Padahal menurut Xun Zi, pendidikan moral itu penting dan hanya bisa diwujudka n dengan latihan dibawah bimbingan guru yang pandai, yaitu di perguruan Konfusianisme. Di RRC dan Vietnam fungsi perguruan Konfusianisme, seperti yang dimaksud Xun Zi, diambil alih oleh partai Komunis, yang menstranformasi ajaran Konfusianisme ke zaman modern. Filsafat Xun Zi bersifat realistis positif, menjauhi segala bentuk spekulatif, maka pada jaman perlombaan teknologi dan perang ekonomi sekarang ini menjadi sangat bermanfaat untuk diperhatikan. Menurut Xun Zi, penegakan hukum tidak terlepas dari pembangunan bidang ekonomi, politik, bidang hukum, dan kebudayaan. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kepustakaan filsafat yang bersifat deskriptif kualitatif, menggunakan sumber primer dalam bahasa Cina dan bahasa Inggris, kemudian dilengkapi dengan bacaan lain yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas. Metode analisis yang dipakai yaitu idealisasi, metode histories deskriptif, metode rekonsruksi biografis, metode verstehen, metode hermeneutik, metode komparasi, metode abstraksi, peridisasi, dan heuristik. Dari penelitian ini ternyata bahwa ide-idenya banyak digunakan oleh negara-negara modern di Barat maupun di Timur. Beberapa filsuf Barat seperti Thomas Hobbs dan John Dewey, pemikirannya ada yang sama dan ada juga perbedaannya dengan pemikiran yang disampaikan oleh Xun Zi , 23 abad yang lalu.
This research is about philosophy of man based on Xun Zi, a Chinese philosopher living in 300 BC. Man, in accordant with his nature, must live together in a state. Without it, man is nothing. To Xun Zi’s teaching, man has instinct and emotion. If his instinct is found an outlet, he feel satisfied, if not, he feel unhappy. Xun Zi sad that common people lives in accordance with his instinct and his emotion. If man properly educated he will be able to express his instinct in the form of art or action which satisfied and brought beneficial to others. The out put of man’s expression in doing good-deeds is called culture. Man’s nature to enjoy delicious food creates the art of cooking, to descend creates wedding ceremony, to have the authority creates political activities, etc. According to Xun Zi, the highest form of cultural activity is constructing a state. A nation is considered to have a high culture, if it is able to construct a strong and rich state. Xun Zi states that a state can be strong and rich if it has: 1) State Development Ideology which is obeyed by all citizen 2) Strong and stable government, supported by its people 3) Law Enforcement based on benevolence and justice 4) Economical Development whic h is just and for every body 5) Strong educated soldiers and they should have good morality. The form of the desired state is a constitutional state. To realize his idea, Xun Zi suggests that all the government officials must be educated in the Confucian school. During the Han dynasty (206 BC), the government required that all government officials should have mastered the classic book of Confucianism. However, it was only part of Xun Zi’s hope because they knew only the knowledge, not the morality. According to Xun Zi, morality is important, and it needs to be continually practiced under the guidance of intelligent Confucian teachers. In China and Vietnam, Confucian teachings are taken under the Communist Party, which transforms them in to modern lives. Xun Zi’s philosophy is realisticpositive, not speculative and mystical. In the competition era of technology and economy, his philosophy is, therefore, significantly considered. According to Xun Zi, law enforcement can not be apart from economic, political, and cultural development. This research is including descriptive qualitative research made use of primary sources written in Chinese and English, and was supplemented with other readings related to the problems statements. Methodology used to analysis the data are idealization, hermeneutic, logic, comparative, and heuristic. The result of the research is that Xun Zi’s idea is mostly used by modern western and eastern states. Some western philosophers, such as Thomas Hobbes and John Dewey have the same idea with Xun Zi, who lived twenty centuries ago.
Kata Kunci : Filsafat Manusia,Xun Zi,Penyelenggaraan Negara, human being, culture, state, law, orderliness, prosperity