Relevansi nilai informasi laporan keuangan untuk pasar saham :: Pengujian berbasis teori valuasi dan pasar efisien
LAKO, Andreas, Promotor Prof.Dr. Jogiyanto Hartono M., MBA
2007 | Disertasi | S3 Ilmu Ekonomi AkuntansiStudi ini menginvestigasi relevansi nilai informasi laporan keuangan (ILK) untuk pasar saham dari waktu ke waktu. Investigasi terhadap isu itu penting karena dalam beberapa tahun terakhir berkembang klaim di kalangan pelaku pasar modal bahwa laporan keuangan korporasi publik Indonesia sudah kehilangan relevansinya untuk pasar saham. Klaim serupa juga telah berkembang di AS dan sejumlah negara. Namun, hasil studi value relevance yang menguji klaim tersebut belum konklusif. Keterbatasan dari studi tersebut adalah: 1) basis valuasinya hanya mengandalkan teori valuasi Ohlson (1995) dan mengabaikan teori pasar modal efisien (PME); dan 2) belum mempertimbangkan pengaruh tingkat pertumbuhan angka-angka laporan keuangan (TPALK), kualitas ILK (KILK), dan kualitas pengungkapan ILK (KPILK) sebagai variabel pemoderasi yang dapat meningkatkan relevansi nilai ILK. Karena itu, studi ini menggunakan teori valuasi Ohlson (1995) dan teori PME (Beaver, 1998) sebagai basis valuasi dan memasukkan TPALK, KILK dan KPILK sebagai variabel pemoderasi. Studi ini menghipotesiskan bahwa: Pertama, relevansi nilai ILK untuk pasar saham tidak menurun dari waktu ke waktu. Kedua, TPALK berpengaruh positif meningkatkan relevansi nilai ILK; dan relevansi nilai dari laporan keuangan yang mengandung TPALK positif lebih besar dibanding laporan keuangan yang mengandung TPALK negatif. Ketiga, KILK berpengaruh positif meningkatkan relevansi nilai ILK. Relevansi nilai dari laporan keuangan yang mengandung laba bersih berisi komponen laba/rugi transitori lebih rendah dibanding laporan keuangan yang mengandung laba permanen. Juga dihipotesiskan bahwa relevansi nilai dari laporan keuangan yang mengandung tingkat manajemen laba rendah (MLR) lebih besar dibanding laporan keuangan yang mengandung tingkat manajemen laba tinggi (MLT). Keempat, KPILK berpengaruh positif meningkatkan relevansi nilai ILK. Relevansi nilai dari laporan keuangan yang berisi ATB lebih besar dibanding laporan keuangan yang tidak berisi ATB, dan relevansi nilai dari laporan keuangan yang dipublikasi lebih awal lebih besar dibanding laporan keuangan yang dipublikasi pada batas akhir tanggal pelaporan. Dengan menggunakan sampel emiten manufaktur BEJ selama 1995-2004, studi ini melaporkan bahwa laporan keuangan masih memiliki relevansi nilai untuk pasar saham. Meski pada t.-2,2 dan t.-1,1 tren relevansi nilainya menurun (menolak Ho1), namun pada t.0 trennya meningkat (terima Ho1). Hasil studi ini juga membukukan bahwa: Pertama, TPALK dan KILK tidak memiliki efek kontingensi meningkatkan relevansi nilai ILK (menolak H2a dan H3), sedangkan KPILK memiliki efek kontingensi signifikan meningkatkan relevansi nilai ILK (terima H4). Kedua, laporan keuangan yang mengandung TPALK positif, laba permanen dan tingkat MLR memiliki relevansi nilai lebih rendah dibanding laporan keuangan yang mengandung TPALK negatif, laba bersih berisi komponen laba/rugi transitori dan tingkat MLT (menolak H2b, H3a dan H3b). Ketiga, laporan keuangan yang berisi ATB dan dipublikasi lebih awal secara signifikan memiliki relevansi nilai lebih besar dibanding laporan keuangan yang tidak berisi ATB dan dipublikasi pada batas akhir (terima H4a dan H4b). Studi ini juga melaporkan bahwa tren relevansi nilai ILK sesudah dimasukkan TPALK dan KILK menurun pada t.-2,2 dan t.-1,1, namun meningkat signifikan pada t.0. Sementara tren relevansi nilai ILK setelah dimasukkan KPILK semuanya meningkat selama periode peristiwa publikasi.
This study investigates the value-relevance of financial statements information (hereafter, FSI) to stock market over time. The issue is crucial to investigated due to growing a claim in capital market community in the recent years that financial statements of Indonesian public firms had lost or deteriorated their relevance to stock market. The same claim also upwards in US and other countries. However, value-relevance studies investigated the claim report inconclusive evidence. The main limitation of the studies is that their valuation basis relies only on the Ohlson (1995) valuation theory. The studies ignore efficient capital market (ECM) theory in which over last decades used in the information content studies. Besides, the studies do not yet take account of the impact of growth level of financial statements numbers (GLFSN), the quality of FSI (QFSI) and the disclosure quality of FSI (DQFSI) as moderating variables having contingency effect to the relevance of FSI. Therefore, this study applies both the Ohlson (1995) valuation theory and ECM theory (Beaver, 1998) as valuation basis. The study also considers GLFSN, QFSI and DQFSI as moderating variables. This study hypothesis: First, value-relevance of FSI to stock market does not decline over time. Second, GLFSN has significantly effect in increasing value relevance of FSI, and the relevance of financial statements having positive GLFSN is higher than of ones having negative GLFSN. Third, QFSI has significantly effect to enhance value relevance of FSI, and relevance of financial statements having net income containing transitory components is lower than of ones having permanent earnings. It is also supposed that the relevance of financial statements having low earnings management (LEM) level is higher than of ones having high earnings management (HEM) level. Fourth, DQFSI has significantly effect in increasing value-relevance of FSI. The relevance of financial statements containing intangible assets is higher than value relevance of ones not containing intangible asset, and value-relevance of financial statements released at the early date is higher than of ones released at last minute of the required reporting date. Using sample from listed manufacture firms at the JSX over 1995-2004, the results indicate that financial statements have still value relevance over time, although its relevance tends to low. In spite of the fact that around event periods of financial statements releases (t.-2, 2 and t.-1, 1) the relevance tends to decline (reject Ho1), but at the announcement date (t.0) its relevance has a tendency to increase over time (accept Ho1). This study also documents few findings as follows: 1) GLFSN and QFSI do not have contingency effect in increasing value relevance of FSI (reject H2a and H3), while DQFSI have contingent effect in increasing the relevance (accept H4); 2) value relevance of financial statements containing positive GLFSN, permanent earnings and LEM is lower than of ones containing negative GLFSN, net income with transitory earnings components and HEM (reject H2b, H3a dan H3b); and 3) value relevance of financial statements containing intangible assets and released at the early date is higher than of ones not containing intangible assets and released at the end of the required reporting date. This study concludes that the relevance of FSI after including GLFSN and LEM tends to decline at t.-2, 2 and t.-1,1, but it raises significantly at t.0. And, the relevance of FSI after including DQFSI tends to increase significantly at the time t.-2, 2, t.-1,1 and t.0.
Kata Kunci : Informasi Laporan Keuangan,Relevansi Nilai, value-relevance, information quality, disclosure quality, contingency effect, permanent earnings, transitory earnings, earnings management, and intangible assets