Pengaruh penambahan serutan baja pada daerah tekan terhadap perilaku lentur balok beton bertulang dengan metode Preplaced Concrete pada kondisi Overreinforced
WARDANI, Ayu Kusuma, Ir. Iman Satyarno, ME.,Ph.D
2007 | Tesis | S2 Teknik SipilDalam pelaksanaan dan perencanaan bangunan pertimbangan arsitektural maupun struktural tidak dapat dipisahkan, kedua unsur tersebut menjadi satu kesatuan bangunan, namun kadang sering timbul permasalahan dalam pelaksanaan maupun perencanaan elemen balok. Pertimbangan arsitektural dan teknik pelaksanaan yang mengharuskan penampang memiliki dimensi terbatas, tetapi dikehendaki mempunyai kapasitas kekuatan yang tinggi. Benda uji terdiri dari tiga buah balok beton bertulang berukuran 160 mm x 200 mm x 2000 mm dengan rincian yaitu satu buah balok beton normal bertulangan tunggal (BN-T), satu buah balok beton normal tulangan ganda (BNG) dan satu buah balok beton bertulang dengan penambahan serat pada daerah tekan (BF). Balok-balok tersebut ditumpu sendi-rol dengan jarak antar tumpuan sebesar 1800 mm. Pembebanan berupa beban terpusat (P/2) pada jarak 600 mm dari tumpuan yang dilakukan secara bertahap. Pengujian lentur dilakukan untuk mengetahui kuat batas penampang balok dan mengetahui pola keruntuhan yang terjadi. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa balok beton bertulang dengan serat pada daerah tekannya memberikan peningkatan terhadap beban ultimit sebesar 12,20 % terhadap balok beton normal bertulangan tunggal (Pbs = 18400 kg; Pbt = 16400 kg). Dari hasil pengujian maupun analisis menunjukkan bahwa beton serat mempunyai daktilitas yang lebih tinggi dibanding dengan beton normal. Sehingga dapat dibuktikan bahwa sifat getas pada beton overreinforced dapat diperbaiki menggunaan serat pada sebagian tampang beton. Pola keruntuhan berupa lentur murni dan tidak terjadi keruntuhan tiba-tiba seperti pada beton overreinforced, karena sifat beton serat yang lebih daktail
Implementing and planning a structure must not separate both architectural and structural requirements. But occasionally, the integration of the two requirements emerge problems of implementing and planning the beam elements. Architectural and implementation techniques require limited dimension section but with high level of strength capacity. The speciments used in this study were three beams of 160 mm x 200 mm x 2000 mm dimension. They consisted of single reinforced normal concrete beam (BN-T), double reinforced normal concrete beam (BN-G) and reinforced concrete beam with additional fiber on the stress area (BF). These beams were then pointed on the roll-hinge at a distance of 1800 mm between the points of support. Centered loading (P/2) was given in phases at a distance of 600 mm. Bending test was taken to identify the beam section strength limit and the fracture pattern. Result of the study showed that the reinforced concrete beam with additional fiber on the stress area yielded increasing ultimate load of 12,20 % and to the single reinforced normal concrete beam (Pbs = 18400 kg, Pbt = 16400 kg). Results of the test and analysis also showed that fiber concrete ductility was higher than the normal concrete. This was an evidence that the breakable characteristic of overreinforced concrete could be corrected using the fiber on some parts of the concrete section. The fracture pattern was pure bending and not sudden fracture such as on the overreinforced concrete due to the fiber concrete more ductile characteristic.
Kata Kunci : Balok Beton Bertulang,Perilaku Lentur,Serutan Baja,Preplaced Concrete, fiber, overreinforced, ductility