Laporkan Masalah

Pengaruh penambahan serutan baja terhadap perilaku lentur balok beton bertulang dengan metode Preplaced pada kondisi Overreinforced

HANUM, Nurul Latifah, Ir. Iman Satyarno, ME.,Ph.D

2007 | Tesis | S2 Teknik Sipil

Persyaratan arsitektural maupun teknis pelaksanaan kadang-kadang mengharuskan sebuah elemen struktur mempunyai dimensi terbatas tetapi, memiliki kapasitas kekuatan yang tinggi. Pada elemen balok beton bertulang penambahan tulangan baja tarik dapat meningkatkan kapasitasnya. Penambahan tulangan tarik ini kurang efektif terutama dari segi nilai ekonomi baja tulangan dibanding dengan manfaat yang dicapai. Kombinasi penggunaan material lain yang lebih ekonomis mungkin dapat menjadi salah satu alternatif. Salah satu material tambahan yang dapat memperbaiki sifat-sifat beton adalah fiber baja. Penambahan fiber baja pada campuran beton bertujuan untuk meningkatkan kuat lentur, kuat tarik, daktilitas , ketahanan terhadap benturan dan kuat geser beton. Bahan lain yang bisa dimanfaatkan sebagai fiber baja adalah limbah serutan besi yang dihasilkan dari sisa–sisa tulangan baja, pekerjaan pembuatan mesin otomotif atau yang dihasilkan dari bengkel bubut. Benda uji berupa balok dibuat dalam penelitian ini berukuran 160 x 200 x 2000 mm sebanyak 3 buah, yang teridiri dari beton normal dengan tulangan tarik , beton normal dengan tulangan tarik-tekan dan, beton fiber dengan tulangan lentur. Komposisi fiber yang digunakan sebanyak 236,5 kg/m3 (Vf=6,98%). Rasio antara Asb dengan As yang digunakan sebesar 1,21% untuk mencapai kondisi overreinforced. Balok– balok tersebut ditumpu sendi–rol dengan jarak tumpuan 1800 mm. Pembebanan berupa beban terpusat (P/2) pada jarak 600 mm dari tumpuan. Beban dinaikkan tahap demi tahap hingga mencapai batas maksimum Hasil pengujian menunjukkan bahwa balok beton bertulangan tarik (BN-T), balok beton bertulangan tarik-tekan(BN-G) dan balok beton fiber(BF) memberikan nilai beban ultimit (P) berturut-turut sebesar 164 kN, 193kN dan 188 kN. Lendutan pada beban ultimit untuk balok BN-T, BN-G, dan BF berturut-turut sebesar 16,76 mm, 22,5 mm dan 26,52 mm. Mekanisme struktur balok BN-T berupa kehancuran pada beton tekannya, balok BN-G mengalami kegagalan tarik dan pada balok BF mengalami kehancuran tekan daktail

Sometimes implementation of both technical and architectural requirements specify that structural element must have limited dimension but with high strength capacity. On a reinforced concrete beam element , additional tensile steel reinforcement can increase capacity. Such addition is quite ineffective especially based on the economic value compare to the benefits. Combination with more economical material can be alternatif. One of the material capable to improve the concrete characteristic is the steel fiber. The objective of adding steel fiber into concrete mixture is to increase the concrete bending strength, tensile strength, ductility, endurance to impact and shear strength. Other material used as steel fiber is iron scrap waste resulted from steel reinforcement remains, automotive machinery works, and welding workshops. The specimens used in the research were three beams with 160 x 200 x 2000 mm dimension. They were consist of normal concrete with tensile reinforcement, normal concrete with tensile-stress reinforcement, and fiber concrete with tensile reinforcement. The fiber composition was 236,5 kg/m3 (Vt= 6,98 %). The ratio of Asb and As was 1,21 % in order to achieve the overreinforced condition. These beams roll hinge were pointed at a point of support distance 1800 mm. The loading was centered (P/2) at 600 mm from the pont support. The load was increased in phases up to reach the maximum limit. Result of this study showed that tensile reinforced concrete beam (BN-T), tensile-stress reinforced concrete beam (BN-G) and fiber concrete beam (BF) gave the ultimate load value (P) of 164 kN, 193 kN, and 188 kN, respectiveley. The ultimate load defletion value for BN-T, BN-G, and BF beams were 16,76 mm, 22,5 mm and 26,52 mm respectively. The structural mechanism of BN-T beam was chrused on stress condition. BN-G beam experienced tensile failure. BF experienced ductile stress crush

Kata Kunci : Balok beton Bertulang,Perilaku Lentur,Serutan Baja,Metode Preplaced,Overreinforced, overreinforced, steel fiber, ductility


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.