Kapasitas geser Retrofitting balok laminasi bambu petung tampang I
LAYA, Arqam, Prof.Ir. H. Morisco, Ph.D
2007 | Tesis | S2 Teknik SipilBambu sebagai bahan alternatif pengganti kayu dapat dibentuk sebagai balok atau papan dengan cara dilaminasi (laminated bamboo). Teknik laminasi seperti ini mampu digunakan untuk membentuk dimensi bahan bangunan yang digunakan sebagai bahan konstruksi. Bambu mempunyai sifat elastisitas yang sangat besar karenanya defleksi yang terjadi cukup besar sebab bambu merupakan bahan yang daktail. Mengacu pada sifat bambu yang elastis ini, maka material tersebut sangat baik untuk diperbaiki. Penelitian ini menggunakan balok laminasi yang telah dibebani, kemudian diperbaiki dengan cara dilaminasi kembali. Konsep energy fracture dan uji geser digunakan terhadap Balok Laminasi Tampang I dengan dimensi tampang 120 x 160 mm dan panjang 1200 mm. Balok laminasi bambu tampang I ini dibuat dalam tiga variasi susunan, yaitu susunan horisontal, vertikal dan kombinasi vertikal – core. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Balok laminasi susunan galar dengan kombinasi vertikal – core memiliki kecenderungan menahan beban lebih besar dibanding 2 tipe balok lainnya, diikuti oleh balok laminasi susunan horizontal, dan balok laminasi susunan vertical. Balok Laminasi Retrofitt kekuatan beban yang mampu dipikul berkisar antara 1952 – 3239 kg atau antara 36 – 60 %. Jadi Balok Laminasi Retrofitt kekuatannya hanya berkisar 50 % dibandingkan kekuatan awal sebelum diperbaiki tapi kekuatan ini masih lebih besar dari kekuatan balok kayu pada umumnya dimana tegangan geser ijin balok laminasi 1,54 – 2,16 MPa sementara tegangan geser kayu kuat kelas II 1,20 Mpa. Dari uji analysis of varians (anova) bahwa susunan variasi berpengaruh secara beda sangat nyata atau sangat signifikan terhadap kekuatan dan kekakuan balok
As one of alternative to replace wood material, bamboo could be formed to become flatten beam or board by laminating (laminated bamboo). The lamination technique can be used to form the dimension of material construction. Bamboo has a good elasticity and ductility, for the reason, the big deflection can be happened on it. Due to the elasticity characteristic, the bamboo has high possibility to be retrofitted This research used I shape flatten beam after load testing, and then retrofitted by laminating again. By using fracture energy concept, material shear testing was conducted to the I shape flatten beam with 120 x 160 mm in dimension and 1200 mm length. The I shape flatten beam was made in 3 variety of formation, horizontal formation, vertical formation and combination between vertical and core formation. The results showed, flatten beam with combination between vertical and core formation had a better capacity in load arresting compared to the others. The horizontal formation of flatten beam had a better capacity in load arresting than vertical formation. The retrofitting of flatten beam had capacity of load between 1952 – 3239 kg or 36 – 60 % only compared to the initial condition. So, the load capacity of retrofitting flatten beam is 50 % only compared to the initial condition (the condition of flatten beam at the experiment before). However, this capacity was still better than wood capacity in general, where the shear strength of flatten beam was 1,54 – 216 MPa and for the wood class II is 1.20 MPa only. The analysis of variances (anova) showed that the formation of flatten beam was influenced the strength and stiffness of beam significantly.
Kata Kunci : kapasitas geser, retrofitt, bambu petung, balok laminasi galar, shear capacity, bamboo ‘petung’, flatten laminated beam