Nasionalisme Aceh dan Nasionalisme Indonesia 1900-2007
AMIRUDDIN, Zulkifli, Prof.Dr. Suhartono
2007 | Tesis | S2 SejarahTujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki tumbuh dan dan berkembangnya nasionalisme atau kesadaran keindonesiaan di Aceh dari 1900-2005. Penelitian ini sangat penting artinya untuk melihat kembali kenapa Aceh menjadi Indonesia dan kenapa pula nasionalisme nasional yang hidup di Aceh mengalami pasang naik dan pasang surut. Penelitian ini, mulai dari pelacakan sumber hingga tahap penulisan akhir, sepenuhnya menggunakan metode penelitian sejarah. Sumber utama penelitian ini adalah berbagai laporan politik kolonial, surat kabar dan majalah, khususnya terbitan Aceh. Dan pengumpulan sumber dari berbagai perpustakaaan di Yogyakarta, Jakarta dan Banda Aceh. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: pertama, orang Aceh mempunyai identitas yang sangat kuat, yaitu kejayaan masa Iskandar muda dan Islamisasi, yang membuat Aceh ditabalkan serambi Mekkah. Kedua, di awal abad ke 20, muncul modernitas dan reformis Islam di Aceh. Orang Aceh menyambut kedua hal baru tersebut, dan kedua kelompok sosial tradisional saling berlomba untuk memajukan Aceh dengan jalan dan cara yang berbeda, mereka inilah yang mengadopsi dan berkenalan dengan nasionalisme Indonesia yang masuk ke Aceh melalui organisai pergerakan nasional dan modernitas serta mereka pulalah yang menerjemah nasionalisme Indonesia di tingkat lokal. Ketiga, Nasionalisme Aceh yang hidup pada era 1930-an akhirnya bertransformasi menjadi nasionalisme Indonesia, Keempat, revolusi fisik dan lainnya adalah bentuk pengorbanan dan kesetiaan Aceh kepada NKRI. Kelima, Darul Islam belum menunjuk sifat separatis, namun GAM jelas sebuah separatis disebabkan oleh modernisasi, dan dampak dari pembangunan yang tidak adil selama Orde Baru. Keenam, sekarang Aceh bukan hanya tanah uleebalang dan ulama tetapi juga milik GAM.
This research aims to investigate the growth and the development of nationalism or Indonesian awareness in Aceh from 1900 – 2005. This research is important to look back why Aceh become Indonesia and also why national nationalism that lives in Aceh undergoes up and down condition. The research, beginning from the tracing of sources until the final writing phase, totally used historical research methodology. The main source of the research was various colonial political reports, newspapers and magazines, particularly published in Aceh, and the collected sources from several libraries in Yogyakarta, Jakarta, and Banda Aceh. The conclusion of the research were: first, Acehnese people possessed a strong identity, that is, the glory of Iskandar Muda and Islamic times which was implemented as Serambi Mekkah. Second, in the early of the 20th century modernity and and Islamic reformist emerged in Aceh. Uleebalang and Ulama welcome both new things and both traditional social groups competed with each other to develop Aceh with different ways. It was them who adopted and be acquainted with Indonesian nationalism in the local level, that is, in Aceh. Third, Acehnese nationalism, which emerged in 1930s era, finally transformed into Indonesian national nationalism. Fourth, physical was the form of Acehnese sacrifaction and loyalty to NKRI. Fifth, the emergence of Darul Islam did not show the separatist characteristic, bur the existence of GAM obviously was a separatist as the result of unfairly development in Orde Baru era. Sixth, now Acehnese land does not belond to Uleebalang and Ulama only but also belongs to GAM.
Kata Kunci : Sejarah Indonesia, Aceh 1900,1007, Nasionalisme, Transformation, nationalism, Aceh and Indonesian.