Pendugaan tingkat silang dalam pohon kayu putih Melaleuca cajuputi dengan penanda Isozim
WULANDARI, Rani Agustina, Dr.Ir. Taryono, M.Sc
2007 | Tesis | S2 Pemuliaan TanamanMelaleuca cajuputi atau kayu putih merupakan tanaman penghasil minyak kayu putih yang kebutuhannya dari tahun ke tahun semakin meningkat. Salah satu usaha meningkatkan produksi minyak melalui program pemuliaan adalah mengetahui sistem persilangan dengan menggunakan penanda biokimia isozim. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah biji hasil persilangan alami tanaman M.cajuputi subsp. cajuputi di Kebun Benih Uji Keturunan (KBUK) Paliyan, Gunung Kidul, DIY. Berdasarkan hasil evaluasi KBUK tahun 2001 terpilih 15 pohon plus. Dalam penelitian ini hanya digunakan 10 pohon plus, biji dari masing-masing pohon plus dikecambahkan, kemudian protein diekstraksi, dielektroforesis, dan diwarnai dengan enzim staining. Data hasil penelitian kemudian dianalisis dengan menggunakan program analisis Popgene version 1.3.1 untuk mengetahui keragaman genetik dan Program GDA 1.1 untuk mengetahui tingkat silang dalam. Dari delapan sistem enzim yang digunakan hanya dua macam sistem enzim yang dapat menghasilkan band, yaitu PGI (Phosphoglucose isomerase) dan EST (Esterase). Keragaman genetik M.cajuputi menggunakan penanda isozim sebesar 0,1074 – 0,4258 (rata-rata 0,2537). Nilai ini lebih tinggi dari nilai heterozigositas pada M.alternifolia (Butcher et al., 1992). Tingkat silang dalam pohon kayu putih cukup rendah yaitu sebesar 0.099 (9,9%). Tingginya nilai silang luar diakibatkan oleh self-incompatibility, mekanisme protandri, berpindahnya polen dari pohon yang satu ke pohon yang lain dengan bantuan pollinator, dan jarak tanam atau kerapatan tanam.
Melaleuca cajuputi subsp. cajuputi is a plant which produces foliar essential oil and its demand increased every year. Improving the genetic of cajuputi to increase the quantity and quality of cajuputi oil is the objective of the breeding programme in Indonesia. One important information to support the breeding program is mating system. In this study, biochemical marker, called isozyme is used. Materials for this research were collected from natural crossing of Melaleuca cajuputi subsp. cajuputi progeny trial at Paliyan, Gunung Kidul, DIY. According to evaluation in 2001, 15 promising local trees have been selected, and only 10 selected trees is used. The seeds were germinated and protein was extracted. Two programs have been used for data analysis i.e., Popgene version 1.3.1 to calculate the genetic variability, and GDA 1.1 for the inbreeding rate. The result showed that from eight enzyme systems, only two enzyme systems i.e., (PGI/Phosphoglucose isomerase and EST/Esterase) produced clear and polymorphic bands. The genetic variability of Melaleuca cajuputi subsp. cajuputi was approximally 0,254. This value is higher than M.alternifolia. The inbreeding rate of Melaleuca cajuputi subsp. cajuputi is low (9,9%). High outcrossing rate is due to selfincompatibility, protandry, and pollen movement by pollinator. Besides that, plant spacing or plant density can also affect outcrossing rate.
Kata Kunci : Pohon Kayu Putih, Tingkat Silang, Penanda Isozim