Laporkan Masalah

Political marketing dalam Pilkada Langsung :: Studi kasus kemenangan pasangan Herry Zudianto dan Haryadi Suyuti dalam Pilkada Langsung di Kota Yogyakarta

NAMBA, Seiko, Dr. I Ketut Putra Erawan, MA

2007 | Tesis | S2 Ilmu Politik

Dengan munculnya UU No. 32/2004 tentang pemerintahan daerah, sistem pemilihan kepala daerah (pilkada) berubah drastis. Kepala daerah yang sebelumnya dipilih dalam DPRD, kini dipilih oleh rakyat secara langsung. Maka dapat dikatakan bahwa pilkada pada saat ini sangat diatur oleh rakyat secara langsung. Dengan adanya pilkada langsung, maka konsep kampanye lebih dititikberatkan pada bagaimana merebut simpati rakyat. Untuk menarik simpati rakyat, para calon kepala daerah mengembangkan suatu model kampanye dengan apa yang disebut sebagai political marketing. Konsep ini menekankan cara-cara untuk mempengaruhi rakyat selaku pemilih agar bisa memberikan suara kepada calon. Nuansa political marketing yang kental akan strategi pemasaran merupakan ciri dari konsep tersebut. Di kota Yogyakarta, pilkada langsung telah dilaksanakan pada tanggal 26 November 2006 seteleh mengalami penundaan sebanyak dua kali. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, diketahui bahwa political marketing dipergunakan secara maksimal oleh tim sukses pasangan Herry Zudianto dan Haryadi Suyuti. Apa yang diutamakan oleh tim sukses dalam penerapan political marketing untuk menyampaikan sosok dan visi-misi pasangan tersebut adalah pendekatan masyarakat secara langsung terutama dengan kelas bawah. Strategi itu cukup berhasil dan hasilnya pun dapat dilihat dengan signifikan. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa political marekting telah menjadi suatu keharusan dalam pilkada langsung di Indonesia dan bagaimana menerapkan konsep tersebut adalah salah satu kunci untuk memenangi pilkada langsung.

System of Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah, or Local Head Elections) was changed since Law 32/2004 on regional administrations has been enforced in 2004. At the same time, Law 32/2004 drastically cut the power of DPRD (Dewan Perwakiran Rakyat Daerah, or Local Regional Parliament) which used to have an authority to choose Local Heads. Now, Indonesian citizen finally got a right to choose their local head by themselves. Since Pilkada Langsung became one of the political systems in Indonesia, they have a strong influence to Pilkada. To get their sympathy, candidates of Pilkada Langsung need to develop a certain campaign’s model which is called political marketing. The first Pilkada Langsung in Yogyakarta was held on November 26th 2006. This research shows that political marketing was applied by team of Herry Zudianto and Haryadi Suyuti as possible as they could. The most important thing for them is to tell Herry’s figure and their vision to the society in Yogyakarta especially who has low incomes by using direct approach. This strategy was very successful to get more sympathy from voters. It seems that political marketing has become a demand for the Pilkada Langsung in Indonesia. Also, how we apply this theory is one of the key points to overcome Pilkada Langsung

Kata Kunci : Pemilihan Kepala Daerah Langsung,Political Marketing, Political Marketing, Pilkada Langsung


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.