Evaluasi jalur hijau ota Yogyakarta :: injauan fungsi ekologis, estetis dan sosiokultural
DIAN, Qonita Farah, Dr. H.A. Sudibyakto, MS
2007 | Tesis | S2 Ilmu LingkunganPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi permasalahan fungsi ekologis, estetis dan sosiokultural jalur hijau di sepanjang pedestrian kota Yogyakarta. Metode analisis yang digunakan adalah Mixed Method Design. Pengukuran fungsi ekologis dilakukan dengan pengklasifikasian berdasar Indeks Ketidaknyamanan. Suhu dan kelembapan merupakan parameter iklim yang diukur. Tata letak, komposisi tanaman, kondisi fisik pedestrian dan kelengkapan fasilitas merupakan parameter fungsi estetis yang diukur. Sedangkan fungsi sosiokultural berdasar aktifitas, hubungan antara pengguna dengan fasilitas yang ada dan kenyamanan pejalan kaki. Materi penelitian adalah sampel dari beberapa ruas pedestrian jalur hijau kota Yogyakarta, yaitu: Taman Devider Jalan Mangkubumi, Taman Trotoar Jalan Sudirman, Taman Median Jalan Suroto dan Taman Pot Jalan Urip Sumoharjo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasar klasifikasi Indeks Ketidaknyamanan pada keempat jalur, tingkat kenyamanannya adalah sama. Kondisi nyaman diperoleh pagihari dengan kisaran suhu 26.8-27.5ºC dan kelembapan 68-73% baik di luar maupun di bawah tajuk pohon. Pada siang hari kondisi tidak nyaman di luar tajuk dengan kisaran suhu 35.5-36.3ºC dan kelembapan 38-41%, di bawah tajuk suhu antara 34.2-34.9ºC dan kelembapan 40- 42%. Pada sore hari kondisi masih tidak nyaman dengan suhu berkisar 29.1-30.9 ºC dan kelembapan berkisar antara 55-61% baik di luar maupun di bawah tajuk pohon. Fungsi estetis terbaik berada pada Taman Median Suroto, diikuti Taman Trotoar Sudirman, Taman Devider Mangkubumi dan Taman Pot Urip Sumoharjo. Fungsi sosiokultural terakomodir dengan baik pada jalur pedestrian Mangkubumi, diikuti Sudirman dan Urip Sumoharjo. Fungsi sosiokultural kecil terjadi di sepanjang pedestrian Suroto. Berdasarkan ketiga fungsi tersebut, secara umum di Kota Yogyakarta model Taman Devider relatif dapat bersinergi dengan baik, diikuti model Taman Trotoar dan Taman Median. Paling buruk adalah model Taman Pot. Penataan pedestrian yang memperhatikan tiga fungsi secara terpadu dan berkelanjutan di sepanjang jalur hijau masih perlu ddiperbaiki dan disesuaikan dengan kondisi sosiokultural masyarakat Yogyakarta.
The goals of these research are for evaluating the function problems of urban greenways ecological, aesthetical and sociocultural in alongside of Yogyakarta’s pedestrian. The analysis methods that used are Mixed Method Design. To measure the ecological function was performed by classified based on Discomfort Index. The temperature and humidity are the climate parameters that measured. The lay out, plant composition, pedestrian physic condition and facilities completeness are aesthetical function parameters that measured. While sociocultural function based on activities, the relation between users and existing facilities, and walker comfort in alongside of pedestrian. The research materials are sample from many pedestrian internodes of urban greenways in Yogyakarta, that are Devider Park in Mangkubumi Street, Trotoar Park in Sudirman Street, Median Park in Suroto Street, and Pot Park in Urip Sumoharjo Street. The result shown that based on Discomfort Index Classification, the comfortable level is same. The comfortable condition was got in the morning by temperature rate 26.8-27.5ºC and humidity rate 68-73% both outside and under the leaf area. While in daylight the discomfort in outside leaf area by temperature rate 35.5-36.3ºC and humidity rate 40-42%. In evening the condition still discomfort by temperature rate 29.1-30.9ºC and humidity rate 55-61% both outside and under leaf area. Its meaning there is no different ecological function to the fourth greenways observed from temperature and humidity parameters. The best aesthetical function implemented in Suroto Median Park, followed by Sudirman Trotoar Park, Mangkubumi Devider Park and Urip Sumoharjo Pot Park. For sociocultural function can good accomadated in Mangkubumi pedestrian, followed by Sudirman and Urip Sumoharjo. Sociocultural function was rare occur in alongside of Suroto pedestrian. Based on these third function the Devider Park can better perform, followed by the Trotoar Park and Median Park. The worst is the Pot Park. Ordering the pedestrian that concerning three functions by compactly and sustainable in alongside of the urban greenways still require to repaired and adjusted with sociocultural of Yogyakarta society.
Kata Kunci : Hutan Kota, Jalur Hijau Kota, urban greenways, ecological function, aesthetical function, sociocultural function, discomfort index.