Kecukupan dan kesesuaian tenaga kesehatan di Kabupaten Solok Selatan
RASUL, Raflir, dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA
2007 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (Kebij. dan Manaj. PeLatar Belakang: Kabupaten Solok Selatan adalah pemekaran Kabupaten Solok yang lahir atas dasar UU No. 38 tahun 2003. Kabupaten baru ini masih merupakan daerah tertinggal dari Kabupaten Solok pada di waktu yang lampau. Sumber daya manusia sangat kurang baik dilihat dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Dinas Kesehatan Solok Selatang sedang membenah dan membangun rencana pengembangan kesehatan wilayah. Dengan keterbatasan layaknya sebagai kabupaten baru, penelitian ini dimaksudkan dapat menggambarkan kebutuhan tenaga terhadap situasi kependudukan dan masalah kesehatan di sini. Secara khusus, penelitian ini hendak melihat kecukupan dan kesesuaian tenaga kesehatan dan melihat distribusi tenaga kesehatan berdasarkan wilayah kecamatan. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan studi kasus untuk mengetahui hal khusus yang berkaitan dengan kecukupan dan kesesuaian tenaga kesehatan di Kabupaten Solok Selatan. Subjek penelitian adalah pejabat dan tenaga kesehatan di Kabupaten Solok Selatan yang terdiri dari Dinas Kesehatan Solok Selatan 27 orang, puskesmas 144 orang, dan RSUD Solok Selatan 59 orang. Penelitian menggunakan instrumen pengumpulan data studi SDM Puskesmas se- Indonesia Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan UGM yang sudah di uji coba di Propinsi Daerah stimewa Yogyakarta. Hasil: Perawat dan bidan mendominasi tenaga kesehatan di Kabupaten Solok Selatan. Rasio tenaga kesehatan per penduduk masih sangat rendah di Kecamatan Sungai Pagu dan Kecamatan Sangir. Wanita merupakan tenaga terbanyak. Puskesmas Muara Labuh dan Puskesmas Lubuk Gadang bahkan memiliki wanita lebih dari 80%. Hanya Puskesmas Mercu memiliki laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Dari tenaga puskesmas, 20% nya adalah tenaga administrasi tapi distribusi tenaga administrasi ini tidak pula merata bahkan ada puskesmas yang tidak memilikitenaga administrasi. Distribusi pelatihan berdasarkan medis dan non medis hampir merata, namun yang tidak mendapat pelatihan juga sangat besar, yakni separuh dari seluruh tenaga kesehatan di Kabupaten Solok Selatan. Kesimpulan dan Saran: Tenaga kesehatan di Kabupaten Solok Selatan belum mencukupi bila dibandingkan dengan indikator Indonesia Sehat 2010. Perencanaan SDM harus menjadi prioritas pemerintah daerah. Tenaga kesehatan yang berasal dari daerah setempat disarankan mendapat kesempatan lebih baik untuk direkrut di unit-unit layanan kesehatan di kabupaten ini.
Background: Solok Selatan become a new district that separated from the old Solok District in 2003. The district is still regarded as underdeveloped compared to other district in West Sumatera. The district has lack of health workforce in terms of quantity and quality. Solok Selatan District Health Office is now making strategic plan for health system development. This study attempt to document the population need for health workforce. In particular, it will look whether there is enough number of workforces and how are they distributed among sub -districts. Method: This study use cross sectional design. All workers in puskesmas and district health office were asked to fill in a questionnaire designed by Bappenas for Health Human Resource Development 2004. Respondents come from 27 of district health office, 144 of puskesmas, and 59 of district hospital. Findings: Nurses and midwives dominate the health workforce. The ratio of health workers per population is relatively low in sub-districts of Pagu and Sangir. Percentage of female workers are much higher than of male workers. Health workers in Muara Labuh and Lubuk Gadang reach more than 80% female. The only puskesmas with more male than female is Mercu. From all workers, 20% compose of administrative staff. Administrative staff is not distributed proportionally. One puskesmas even does not have administrative staff. Although different types of training for medical and non medical staff is almost proportional, the number of training remain low. Almost half of the workers have not yet got continuing training. Conclusion and Recommendation: Using criteria developed by Healthy Indonesia 2004, number of health workers in Solok Selatan is not yet sufficient. Strategic planning for health manpower is imperative for this area. Existing local health workers should be on the first list in recruitment and training opportunities.
Kata Kunci : Kebijakan Kesehatan,Tenaga Kesehatan,Kualitas dan Kuantitas, health workforce, health center, distribution, remote areas.