Kajian keserasian kondisi fisik dan kependudukan Sub DAS Keduang terkait sedimentasi Waduk Serbaguna-Wonogiri
SUSILO, Widiasmoro Sigit Joko, Prof.Dr. H. Suratman Worosuprojo, M.Sc
2007 | Tesis | S2 GeografiPenilaian kondisi Daerah aliran Sungi (DAS) perlu dilakukan baik untuk kepentingan evaluasi maupun perencanaan pengelolaanya. Kondisi DAS perlu dikenali mengingat respon DAS terhadap air hujan sangat dipengaruhi oleh karakteristik atau kondisi dari DAS yang bersangkutan. Penilaian kondisi Sub DAS Keduang melalui kajian terhadap keserasian kondisi fisik dan kependudukan ini dilakukan berdasarkan kenyataan bahwa kontribusi sedimen Sub DAS Keduang ke Waduk Serbaguna - Wonogiri relatif tinggi. Kajian ini dilakukan dengan tujuan untuk : 1) mengevaluasi tingkat keserasian kondisi fisik dan kependudukan Sub DAS keduang; 2) menganalisis faktor utama penyebabnya; 3) menyusun strategi upaya rehabilitasi hutan dan lahan Sub DAS Keduang. Penelitian ini dilakukan melalui pengumpulan data sekunder, pengamatan dan wawancara lapangan. Analisis data dilakukan dengan cara tumpang-tindih (overlay) peta tematik dan pemberian skor terhadap indikator keserasian DAS. Dalam kajian ini, penilaian kondisi fisik dilakukan dengan menggunakan indikator intensitas hujan harian, tipe iklim wilayah, kepekaan tanah terhadap erosi, kelerengan dan penutupan lahan; sedangkan kondisi kependudukan dilihat dari indikator kepadatan penduduk agraris, prosen penduduk miskin, prosen petani, proporsi penduduk melek huruf dan rasio guru dan murid. Keserasian kondisi fisik dan kependudukan ini juga mempertimbangkan kesesuaian penggunaan lahan terhadap fungsi kawasan, yang dipandang sebagai wujud nyata penduduk DAS dalam mengelola wilayahnya. Kondisi fisik dan kependudukan Sub DAS dicirikan oleh perolehan nilai setiap indikator yang telah ditetapkan. Semakin tinggi perolehan nilainya maka semakin baik pula kondisinya. Berdasarkan penelitian ini diperoleh hasil bahwa kondisi Sub DAS berada dalam keadaan tidak serasi, utamanya antara kondisi fisik dan kependudukannya. Selanjutnya apabila dilihat dari kondisi keserasian tiap-tiap desa yang ada di Sub DAS Keduang, maka diperoleh hasil bahwa sebanyak 85 desa (88,54%) berada dalam keadaan tidak serasi, delapan desa (8,33%) kurang serasi, satu desa (1,04%) agak serasi dan dua desa (2,08%) dalam keadaan serasi. Penyebab utama ketidak serasian antara kondisi fisik dan kependudukan di Sub DAS Keduang ini adalah ketidak sesuaian penggunaan lahan terhadap fungsi kawasannya. Terhadap keadaan keserasian serta faktor utama penyebab ketidak serasian tersebut maka strategi upaya rehabilitasi hutan dan lahan yang dapat ditempuh adalah : menata kembali penggunaan lahan; penegakan peraturan perundangan yang berlaku melalui upaya sosialisasi dan pendekatan kepada masyarakat serta pemantauan dan pengendalian pelaksanaannya. Melalui strategi tersebut diharapkan penataan penggunaan lahan dapat berjalan baik dan kondisi Sub DAS Keduang akan menjadi lebih serasi sehingga erosi dan sedimentasi akan menurun.
Assessment of watershed condition need to be conducted for watershed evaluation as well as watershed planning. Watershed condition should be recognized since watershed’s respons to rainfall depend on its characteristic. Evaluation of Keduang sub watershed condition through this physical and demographical harmony assessment was carried out by aims of : 1) to evaluate the physical and demographical harmony level of Keduang sub watershed; 2) to analyze the main cause; 3) to arrange forest and land rehabilitation strategy for Keduang sub watershed. This research was carried out by secondary data collection; field observation and interview. Data analysis was done by overlapping thematic maps and scoring to the watershed harmony indicators. By this research, physical condition was evaluated by using daily rainfall intensity, climate type, soil erodibility, land slope and land cover indicators; whereas demographical condition was evaluated by using agricultural population density, percent of poor inhabitant, percent of farmer, percent of literate inhabitant and teacher student ratio. This assessment also consider the suitability between landuse and land zonning that shown a real watershed management practice was carried out by local community. Physical and demographycal condition identified by each total score from its indicators. The higher score the better condition. This research output indicate that Sub DAS Keduang condition was inharmony, especially between physical and its demographical condition. Refers to the village’s harmonious condition on this research, indicate that 85 villages (88,54%) of Sub DAS Keduang were inharmony, eight villages (8,33%) less harmony, one village (1,04%) rather harmony and two villages (2,08%) were harmony. The inharmony condition between physical and demographical condition mainly caused by unsuitability between land use and land zonning. Concerning with that harmony condition and identified main cause, strategy for the next watershed management practice are : rearrangement of landuse; law inforcement through community approach and socialization followed by controlling. Through those strategy hope that rearrangement of landuse runs well so that Sub DAS Keduang will be more harmony, with the result that the erosion and sedimentation will be decrease.
Kata Kunci : DAS,Sedimentasi Waduk, Assessment of watershed condition need to be conducted for watershed evaluation as well as watershed planning. Watershed condition should be recognized since watershed’s respons to rainfall depend on its characteristic. Evaluation