Laporkan Masalah

Analisis permintaan dan daya saing ubikayu Indonesia

ASRIANI, Putri Suci, Dr.Ir. Dwidjono Hadi darwanto, MS

2007 | Tesis | S2 Ekonomi Pertanian

Ubikayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu komoditas ekspor yang bersumber dari subsektor tanaman pangan dan memiliki potensi untuk dikembangkan. Indonesia merupakan produsen ubikayu ke-4 terbesar di dunia setelah Nigeria, Brazil dan Thailand. Secara kultur teknis tanaman ubikayu dapat ditanam pada tanah yang kurang subur, tahan terhadap kekeringan dan mempunyai waktu panen sepanjang tahun. Namun demikian, image dan dampak negatif yang melekat pada ubikayu menyebabkan potensi yang ada tidak dapat diberdayakan secara optimal, baik di pasaran ekspor maupun domestik. Faktor pendorong pemasaran ekspor dan domestik ubikayu di Indonesia digambarkan oleh variabel permintaan yang merupakan hasil estimasi regresi. Untuk mengetahui tingkat daya saing ubikayu Indonesia, dilakukan analisis Revealed Comparative advantage (RCA); Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP); Acceleration Ratio (AR); Domestic Resource Cost Ratio (DRCR); dan Effective Protection Rate (EPR). Hasil analisis variabel permintaan ekspor dan domestik dengan menganalisis faktor penentu tingkat permintaan ubikayu; tingkat daya saing ubikayu, akan digunakan sebagai dasar penetapan potensi pemasaran ubikayu Indonesia di pasar ekspor maupun domestik. Indonesia memiliki keunggulan komparatif untuk komoditas ubikayu dengan posisi daya saing pada tahap ekspor dengan kecenderungan memasuki tahap substitusi impor, dan Indonesia cenderung sebagai eksportir. Di pasar domestik, ubikayu memiliki permintaan yang bersifat elastis. Konsumsi domestik primer ubikayu Indonesia dalam bentuk ubikayu segar, tepung ubikayu, dan glukosa & dextrosa, konsumsi domestik sekundernya adalah gaplek. Di pasar ekspor, ubikayu digolongkan sebagai barang superior dengan permintaan yang bersifat elastis dan berhubungan positif terhadap perubahan trend ekspornya. Ekspor primer ubikayu Indonesia dalam bentuk gaplek, dan ekspor sekundernya adalah ubikayu segar dan tepung ubikayu. Strategi pengembangan komoditas ubikayu di Indonesia berdasarkan hasil analisis permintaan dan daya saingnya, untuk pasar domestik diarahkan pada pemenuhan kebutuhan pangan dalam bentuk ubikayu segar dan pemenuhan kebutuhan industri dalam bentuk tapioka; untuk pasar ekspor diarahkan pada pemenuhan kebutuhan pangan dalam bentuk ubikayu segar dan tepung ubikayu, pemenuhan kebutuhan industri dalam bentuk tepung ubikayu dan tapioka, dan pemenuhan kebutuhan bahan campuran pakan ternak dalam bentuk gaplek.

Cassava (Manihot Esculenta Crantz) is one of the export commodities that from food crops sub-sector and has potency to be developed. Indonesia is the biggest fourth producer of cassava in the world after Nigeria, Brazil and Thailand. Cassava grows very well under limited rainfall and poor soil conditions, with flexibility in planting and harvesting period. However, the negative impact and image of cassava cause existing potency cannot be improved optimally, either in export and domestic market. Potencial factor of cassava marketing in Indonesia was be depicted by demand factor show by regression estimation output. Revealed Comparative Advantage (RCA), Specialization Commerce Index (SCI), Acceleration Ratio (AR), Domestic Resource Cost Ratio (DRCR), and Effective Protection Rate (EPR) were implemented in analysis to indicate the competitiveness rates Indonesian cassava. Both result of analysis's, will be used as the basic determinant of Indonesian cassava export and domestic market potencies. Indonesia has comparative advantage for the commodities of cassava with competitiveness position at export stage with import substitution stage tendency, and Indonesia tend to be net exporter. In domestic market, cassava has elastic price of demand. Generally Indonesian cassava domestic consumption are fresh cassava, flour of cassava, and glucosa & dextrosa, while secondary domestic consumption is dried cassava. In the export market, cassava can be classified as superior goods with elastic price of demand and it has positive trend of export. Primary Indonesian cassava export is dried cassava, and secondary export are fresh cassava and flour of cassava. Based of demand and competitiveness analysis, the development strategy of cassava in Indonesia mostly to achieve domestic market either as a food in the form of fresh cassava and for cassava as a industrial need in the form of tapioka (cassava starch). Meanline for export market of cassava mostly in the form of fresh cassava and cassava flour, for cassava as a industrial need in the form of flour of cassava and tapioka, and for cassava as a mixture materials of animal feed livestock in the form of dried cassava.

Kata Kunci : Ubi Kayu Indonesia,Produksi,Daya Saing Produk, cassava, demand, competitiveness, export market, domestic market


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.