Laporkan Masalah

Realitas poligini :: Studi kasus pada Pesantren Barokah, Desa Cabean, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur

LIESTYASARI, Siany Indria, Prof.Dr. Kodiran, MA

2007 | Tesis | S2 Antropologi

Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki dan kemudian menjelaskan realitas dari poligini terkait dengan pandangan dan perilaku atas poligini yang dikonstruksi oleh latar belakang budaya dan agama dalam sebuah pesantren. Penelitian ini kurang lebih mewawancarai sekitar 20 informan yang terdiri dari seorang kyai (pemimpin keagamaan di desa), empat orang nyai (istri dari kyai terebut), lima orang anak-anak kyai, empat orang guru pengajar dalam pesantren Attaqwa dan sisanya adalah beberapa orang santri serta orang-orang yang tinggal di dekat pesantren. Data dikumpulkan dengan menerapkan metode observasi partisipasi yang dilakukan dalam pesantren Attaqwa termasuk dalam ruangan para santri, rumah para Nyai dan arsitektur bangunan pesantren itu sendiri. Data juga diperoleh dari wawancara mendalam. Data diperlukan bagi analisis proses konstruksi poligini dalam pesantren dan juga untuk menggambarkan bagaimana kehidupan keseharian perempuan dalam perkawinan poligami. Kajian ini menunjukkan bahwa poligini yang dipraktikkan oleh kyai memiliki dua alasan yakni nilai anak dan latar belakang agama yang diyakini melegalkan poligini. Sementara itu, konstruksi sosial kultural atas poligini yang dibangun oleh kyai dalam pesantren adalah sebuah proses panjang melalui pendidikan dalam pesantren, kurikulum yang diajarkan dalam pesantren, aturan-aturan pesantren yang menanamkan pembedaan gender diantara santri yang juga mensosialisasikan kitab Uqud al-Lujjayn. Penanaman (internalisasi) inilah yang mengakibatkan poligini dipandang oleh santri dan keluarga kyai sebagai sesuatu yang alamiah meskipun mereka mengkonsepkan poligini dalam cara-cara yang berbeda.

The research aims to investigate and then explain the reality of polygyny related with the perspective and attitude toward polygyny that constructed by cultural and religious background in a pesantren area. The research subjects were more or less 20 informants consisting of a kyai (religious leadership in village), 4 nyai (the kyai’s wife), 5 kyai’s children, 4 teachers Pesantren Attaqwa, the rest is several santri and person who lived near the pesantren. Data were collected by applying participatory observation method, which was carried out in the pesantren Attaqwa including santri’s room, Nyai’s house and the architecture of the pesantren itself. Data were also obtained from free in-depth interview. The data wwere necessary for an analysis on the process of constructing polygyny in the pesantren and also to describe how the woman’s daily life in polygamous marriage. The research results reveal that polygyny that practiced by kyai based on two reasons namely the value of children and the religious background that convinced legitimized polygyny. Meanwhile, the social cultural construction about polygyny that held by kyai in the pesantren is a long process through education in pesantren, curriculum that teached in pesantren, the pesantren’s rules that inculcated gender differentiation among santri and also the socialization of Kitab Uqud-al Lujayyn. Because of these inculcation, polygyny regarded by santri and kyai’s family as a natural thing although they conceptualized polygyny in different ways.

Kata Kunci : Poligini,Pondok Pesantren, Polygyny, Construction of polygyny, Kyai, Nyai, Pesantren


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.