Laporkan Masalah

Outsourcing the training function a strategy choiche in improving human resource competency of Tojo Una-una regency

PERTIWI, Indah, Dr. Ertambang Nahartyo, M.Sc

2006 | Tesis | Magister Manajemen

Momentum otonomi telah menciptakan suatu perubahan besar dalam mengelola suatu kabupaten. Otonomi secara langsung dihubungkan dengan profesionalisme dan efisiensi dari pemerintah daerah di Indonesia, karena mereka harus dapat mengelola sendiri setiap aspek pemerintahannya dan tidak perlu lagi bergantung pada keputusan dari pemerintah pusat. Tetapi, perubahan yang drastis dari pemerintah yang terpusat menjadi otonomi bagaimanapun juga akan mempengaruhi kesiapan para aparat terhadap perubahan mereka sendiri. Training outsourcing dapat menjadi salah satu strategi yang paling efisien untuk meningkatkan kompetensi aparat pemerintah daerah. Penelitian ini mencoba untuk meneliti kemampuan dan profesionalisme dari aparat daerah melalui pemahaman kinerja pelatihan masa lalu pemerintah daerah dan kemampuan menghasilkan serta melaksanakan keputusan strategis jangka pendek, medium dan panjang setelah diberlakukannya otonomi daerah. Dengan pengujian tersebut, kita dapat menyimpulkan efisiensi dan profesionalisme dari pelatihan yang telah dilaksanakan sebelumnya dan peningkatan yang dapat diperoleh ketika pemerintah daerah memutuskan untuk melaksanakan strategi training outsourcing ini. Untuk membuat riset ini lebih jelas, kabupaten Tojo Una-Una akan menjadi salah satu wakil dari pemerintahan daerah. Informasi mengenai kegiatan dan organisasi training diperoleh dari mempelajari data primer dan sekunder. Pengambilan data primer berdasarkan interview dan observasi langsung dikombinasikan dengan melakukan analisa terhadap diskusi dan perdebatan yang sedang berlangsung di berbagai lembaga formal maupun informal yang berkaitan dengan training aparatur dan training outsourcing. Data sekunder berdasarkan pada jurnal-jurnal, data base dari pencarian di internet serta data lain yang valid dari website pemerintah. Riset ini telah menyimpulkan bahwa Training Outsourcing telah membawa suatu hasil yang baik terhadap pengembangan kompetensi aparat. Tetapi kurangnya konsistensi dan juga dedikasi dalam menerapkan training secara berkesinambungan telah menyebabkan kemajuan menjadi stagnan. Bukanlah konklusif bahwa pemerintah daerah dan juga penyedia training telah berusaha keras sebisa mungkin dalam kondisi yang sempurna untuk melaksanakan proses training dan penilaian. Pengaplikasian dari outsourcing akan dilaksanakan pada proses Training Need Assessment (TNA), terutama dalam survei kebutuhan training. Jadi, direkomendasikan untuk memberikan tindakan lanjutan yang lebih baik setelah pelaksanaan Training Outsourcing dan system penilaian yang lebih baik akan meningkatkan keefektifan pada training berikutnya.

Autonomy momentum creates a big change in the way regency works. Autonomy links directly with the efficiency and professionalism of regional government in Indonesia since it has to manage almost every aspect of governance by itself and no longer counted on the central government’s decision. However, drastic changes from centralistic to autonomic governance will somehow affect the apparatus’ readiness of the changes themselves. Training outsourcing can be one of the most efficient strategies to improve the apparatus’ competency in the regional government. This research examines the competency and professionalism of regional apparatuses through understanding the past training performance of the regional government and the abilities of producing and conducting short, medium and long term strategic decisions after the implementation of regional autonomy was made. By examining this, we can deduce the efficiency and effectiveness of past training conducted and the improvement that might be gained when a regional government decided to implement Training Outsourcing Strategy. To make the research more visible, one example of regional government set as an example namely Tojo Una-Una regency. Information about the training organization and activities have been collected by using primary and secondary data. Primary data mainly based on interviews and direct observation combined with analysis of on-going discussion held on formal and informal community related to the apparatus training and training outsourcing. Secondary data generally based on journals, search engines’ database and other data validate from the government websites. This research has concluded that Training Outsourcing has brought a good effect towards building apparatus competency. However, lack of consistency as well as dedication in implementing the training continuously has made the improvement to be stagnant. It is not conclusive that the regional government as well as the training provider made the best effort that possibly be made in a perfect condition of conducting training process and assessment. The application of outsourcing will be conducted in the training need assessment (TNA) process especially in the Training Need Survey. Thus, it is recommended to give a better follow-up after a Training Outsourcing was conducted and better assessment system will increase the effectiveness of the next training.

Kata Kunci : Manajemen Sumberdaya Manusia,Training Outsourching,Otonomi Daerah, Training Outsourcing, Training & Development, Training Need Assessment, Apparatus Competency


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.