Pemenuhan proyeksi permintaan batu split dengan metode Aggregate Planning di PT Intermix Perkasa Purwakarta
NAFTALI, Natanael Ari, Dr.Ir. Adi Djoko Guritno, MSIE
2006 | Tesis | Magister ManajemenDalam membuat suatu unit produksi diperlukan perencanaan yang baik dan matang. Adapun tujuannya untuk mencegah atau mengurangi berbagai permasalahan yang dapat terjadi dan mengakibatkan kerugian baik dari segi waktu maupun biaya. Untuk memenuhi semua itu, suatu unit produksi dituntut untuk membuat perencanaan yang matang dan komprehensif untuk mengoptimalkan setiap sumber daya yang ada, untuk kemudian dipadukan menjadi suatu landasan operasi unit produksi tersebut. Suatu perencanaan yang baik diharapkan menghasilkan suatu kinerja yang sesuai dengan target perusahaan sekaligus meminimalisir setiap inefisiensi dan inefektivitas yang mungkin terjadi. Dalam operasinya, PT INTERMIX PERKASA membagi kegiatan produksinya kedalam empat tahap yaitu Development, Primary Crushing, Secondary Crushing dan Sand Correction sebagai tahap opsional untuk memproduksi Pasir Cuci. Dengan menggunakan Perencanaan Aggregate, penulis mencoba mengkombinasikan faktor-faktor input untuk mendapatkan hasil yang optimal Dalam melakukan penelitian, ada tiga metode yang akan dilakukan penulis. Metode tersebut adalah: 1. Riset Kepustakaan (Library Research) 2. Riset Lapangan (Field Research) 3. Riset Internet (Internet Research) Hasil yang didapat dari penelitian yang dilakukan adalah bahwa dari ketiga metode perencanaan aggregate yang dilakukan, Metode Chase dan Metode Level memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Penggunaan Metode Chase menghasilkan biaya persediaan yang sedikit namun belum bisa menjawab fluktuasi permintaan yang terjadi. Sedangkan Metode Level disatu sisi mampu menjawab seluruh proyeksi permintaan pada tahun 2006, namun memerlukan pengorbanan biaya persediaan. Sedangkan dengan penggunaan metode kombinasi, didapat bahwa perusahaan mampu menjawab semua permintaan yang diproyeksikan terjadi pada tahun 2006 dengan biaya persediaan yang minimum atau hanya sebesar 17,03 m³ walaupun dengan biaya yang lebih besar Rp 8.637.948,00 dibandingkan dengan penggunaan metode Chase.
We should make a good planning in making a production entity unit. The goal is to minimize problems, which can cause time loose or cost. So, a production unit of a company need to prepare a good and comprehensive planning, to optimize every resources to become their operation foundation. A Good planning hopefully provide best performance to achieving company’s goal with minimum inefficiency and infectivity. In their operation, PT INTERMIX PERKASA divides their production activities into four steps: Development, Primary Crushing, Secondary Crushing and Sand Correction as an optional step to produce Cleaned Sand. Using Aggregate planning method, we try to combine the input factors to get the optimal output. We use three kind of research method: 1. Library Research 2. Field Research 3. Internet Research The output from the examination of three different method of Aggregate Planning, we got that all of them have their different plus and minus characteristic. From Chase method, we got minimum inventory cost but we cannot fulfill all product demand projection for 2006. In the opposite, Level Strategy can answer all demand projection, but we need to spend more inventory cost. If we use Mixed Strategy, we can supply all consumer demand projection for 2006 with the minimum cost inventory at 17,03 m³ although we should spend labor cost Rp 8.637.948,00 more than we use Chase Strategy.
Kata Kunci : Manajemen Operasional,Aggregate Planning, Demand, Planning, Process, Inventory Cost, and Labor Cost